"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Kisah Pasien Hipertensi Paru yang Berjuang Cari Jawaban Diagnosis

Pengalaman Pasien yang Terlambat Didagnosis Hipertensi Paru

Bulan-bulan bahkan bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian tentang penyakit yang diderita menjadi kenyataan yang akrab bagi banyak pasien hipertensi paru. Mereka bolak-balik ke dokter, menjalani beragam pemeriksaan, dan mencoba berbagai obat untuk keluhan napas pendek, cepat lelah, atau jantung berdebar, tanpa ada yang benar-benar menjelaskan apa yang terjadi pada tubuh mereka.

Yustina, seorang pasien hipertensi paru, baru didiagnosis setelah memeriksakan diri ke tiga dokter. Ia menceritakan bahwa ia mulai mengalami gejala gampang lelah setelah sembuh dari Covid-19 sehingga sempat mengira itu adalah efek dari long covid.

“Saya menyadari kok sekarang jadi mudah capek, enggak bisa lagi naik tangga. Kalau di cuaca panas langsung merasa pusing dan demam. Mulai bertanya-tanya kenapa dengan diri saya, apalagi badan juga mulai bengkak,” kata Yustina.

Ia pun memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit dan didiagnosis gagal jantung karena jantung sering berdebar-debar. Tak puas, ia pun pindah ke dua rumah sakit lain namun tidak mendapatkan jawaban pasti akan penyakitnya.

Pengalaman yang sama juga dialami Anastasia Calvina. Keluhan gampang lelah juga ia alami tak lama setelah melahirkan anaknya. Padahal, ia sendiri tergolong perempuan yang aktif berolahraga dan sejak kecil sering mengikuti berbagai lomba.

“Suatu hari saya pulang dari acara kantor dan merasa lelah. Tapi lelahnya tidak hilang-hilang sampai dua minggu. Saya merasa heran kenapa kondisi fisik drop banget,” katanya.

Dari pemeriksaan ke dokter umum, dokter menduga ada yang tidak normal pada jantungnya sehingga ia pun dirujuk ke dokter jantung.

“Di usia 33 tahun saya terdiagnosis hipertensi paru. Sempat denial juga, apalagi mama saya, karena tahu dari kecil saya ini aktif banget orangnya, sehat, tapi kok kena penyakit ini,” katanya.

Beberapa pasien hipertensi paru lainnya juga punya pengalaman harus menunggu waktu lama untuk bisa mengetahui dengan pasti penyebab kondisinya. Gejala hipertensi paru memang samar dan kerap disalahartikan sebagai asma, kecemasan, atau infeksi tuberkulosis, sehingga diagnosis yang tepat sering datang terlambat.

Namun waktu yang terbuang itu membawa konsekuensi serius: penundaan penanganan membuat jantung bekerja semakin keras hingga kondisinya memburuk.

Penyakit Hipertensi Paru Kurang Dikenal

Wakil Ketua Hipertensi Paru Indonesia, dr. Harry Sakti Muliawan Ph.D, Sp.JP(K) mengatakan, hipertensi paru ditandai dengan tekanan darah tinggi pada pembuluh arah paru sehingga memaksa jantung kanan bekerja lebih keras untuk memompa darah ke paru-paru. Kondisi ini membuat aliran darah menjadi terhambat sehingga kinerja jantung untuk memompa darah semakin berat.

“Biasanya, hipertensi paru ditandai dengan gejala sesak napas, bibir kebiruan, mudah lelah, sering pingsan, bengkak, bahkan muntah darah,” kata dr. Harry dalam acara media edukasi yang diadakan oleh MSD Indonesia dan Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YPHI) di Jakarta (27/11/2025).

Ia mengatakan, berbeda dengan hipertensi sistemik yang mudah diukur, pengukuran tekanan darah di pembuluh jantung susah dilakukan kecuali lewat kateter jantung. Penyakit ini memang tergolong langka, menurut data tahun 2023 diperkirakan ada 3.731 pasien hipertensi paru di Indonesia.

Keterlambatan diagnosis hipertensi paru tidak hanya terjadi di Indonesia tapi di seluruh dunia. Menurut dr. Hary, di Eropa butuh waktu sekitar 15 bulan untuk mendiagnosis penyakit ini, sementara di Amerika Serikat bisa mencapai 2 tahun. “Kalau di Indonesia kebanyakan pasien sering dikira mengalami tuberkulosis, kalau hasil tesnya negatif baru diperiksa penyakit lainnya,” katanya.

Menurut dr. Hary, penyakit ini lebih banyak dialami oleh perempuan. Selain karena faktor genetik seperti penyakit jantung bawaan, penyakit autoimun, gangguan pada paru, dan faktor hormonal, menjadi penyebabnya laki-laki lebih terlindung dari hipertensi paru.

Harapan Pasien

Ketua Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YPHI) Arni Rismayanti mengatakan, pasien hipertensi paru di Indonesia berharap akses pengobatan yang lebih baik bagi seluruh pasien. “Semoga semakin banyak yang mengenal penyakit ini. Di YPHI kami berharap bisa menjadi rumah kedua bagi para pasien, saling menguatkan dan menumbuhkan keyakinan bahwa hidup tetap dapat diperjuangkan,” kata Arni.

Di sisi lain, penanganan hipertensi paru di Indonesia juga masih dihadapkan pada terbatasnya akses terhadap obat-obatan spesifik. Dari 15 jenis obat Hipertensi Paru yang telah disetujui di dunia, baru ada 5 jenis yang tersedia di Indonesia, dan hanya 2 jenis yang tercakup dalam sistem jaminan kesehatan nasional. Selain keterbatasan obat, jumlah dokter yang memiliki spesifikasi hipertensi paru di Indonesia juga masih minim. Kondisi ini menyebabkan pelayanan kepada pasien menjadi lebih panjang.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *