"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Bisnis  

Banyak catatan di tengah perbincangan merger Gojek-Grab yang memanas

Komentar dan Catatan dari Berbagai Pihak Terkait Rencana Penggabungan Gojek-Grab

Di tengah wacana penggabungan antara Gojek dan Grab, berbagai pihak memberikan masukan dan catatan penting. Mulai dari kompetitor, regulator hingga para pengemudi ojek online (ojol) turut menyampaikan pandangan mereka mengenai rencana merger ini.

Persyaratan yang Harus Dipenuhi oleh Pemerintah

Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Online GARDA Indonesia, Raden Igun Wicaksono, meminta pemerintah untuk tidak menaikkan tarif ojol dalam bentuk apa pun sebelum Peraturan Presiden (Perpres) tentang skema bagi hasil 90% untuk pengemudi dan 10% untuk perusahaan aplikator diterbitkan secara resmi.

GARDA juga menuntut agar Perpres Ojol mengatur kontribusi wajib perusahaan aplikator sebesar 1% sampai 2% kepada negara, yang dialokasikan sebagai jaminan perlindungan sosial dan jaminan hari tua bagi pengemudi ojol.

Namun, pembahasan mengenai Perpres Ojol saat ini masih tertutup. GARDA mengaku belum pernah dilibatkan dalam pembentukan perpres tersebut, yang salah satu poinnya membahas mengenai merger Gojek-Grab. “Kami belum mendapatkan informasi konkrit kapan Perpres akan terbit dan apa isi dari Raperpres tersebut,” ujar Igun.

Igun juga meminta Presiden Prabowo Subianto untuk melibatkan organisasi pengemudi berbadan hukum yang memiliki keterwakilan di provinsi-provinsi dalam penyusunan kebijakan. Selain itu, dia meminta pemerintah dan perusahaan aplikator agar menghentikan segala bentuk kebijakan tarif yang tidak berpihak pada pengemudi dan konsumen pengguna jasa ojol.

Tanggapan dari Maxim

Director Development Maxim Indonesia, Dirhamsyah, menyatakan bahwa pihaknya telah mendengar isu merger Gojek-Grab dan potensi monopoli dari aksi tersebut beberapa waktu lalu. Namun, ia tetap yakin bahwa pemerintah akan memberikan solusi terbaik terkait hal ini.

Hingga kini, Maxim belum menerima informasi resmi mengenai perkembangan rencana penggabungan usaha kedua perusahaan layanan on-demand tersebut. Terkait mitigasi risiko, Dirhamsyah menambahkan bahwa Maxim siap berkoordinasi dengan pihak terkait apabila isu merger itu benar-benar masuk ke tahap formal. Namun, selagi belum ada kepastian yang bisa dibilang 100%, pihaknya masih belum bertindak.

Tindakan KPPU Jika Merger Tidak Dilibatkan

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), M. Fanshurullah Asa, menyatakan akan bertindak tegas jika Danantara, Gojek, dan Grab tidak melibatkan KPPU dalam proses merger tersebut. KPPU akan membatalkan merger tersebut jika tidak sesuai dengan persyaratan yang sehat.

“Grab, GOTO, dan Danantara. Tanpa melibatkan KPPU, membuat merger akan jadi problem. KPPU akan tegas menggunakan analisis yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Asa.

Proses Penggabungan Masih Berlangsung

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM yang juga CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa proses penggabungan GoTo dan Grab masih berlangsung. “Masih berjalan itu,” ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (27/11).

Danantara menegaskan bahwa keterlibatannya mengikuti arahan pemerintah dalam rencana merger tersebut. Pemerintah disebut memberikan masukan terkait keberlanjutan ekosistem digital nasional. Badan investasi itu juga memastikan bahwa fokus utamanya berada pada hubungan business-to-business (B2B) antara GoTo dan Grab, serta terus memantau dinamika proses tersebut.

Nasib Maxim dan Kompetitor Lainnya

Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan bahwa pasar yang didominasi oleh satu entitas bisnis tentu akan menjadi pukulan bagi kompetitor perusahaan merger Gojek dan Grab. Kompetitor membutuhkan modal besar untuk bersaing dengan perusahaan merger. Apabila tidak bisa bersaing secara harga dan promo, dia meyakini Maxim akan kabur juga dari Indonesia.

“Makanya memang persaingan usaha yang sehat tanpa dominasi satu-dua pihak itu penting. Kecuali Shopee Food mungkin masih bisa bertahan karena punya dana besar juga,” kata Huda.

Peluang Bertahan untuk Kompetitor

Berbeda, Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (IDIEC), M. Tesar Sandikapura, mengatakan bahwa Maxim dan lain-lain yang di luar Grab-Gojek masih berpeluang bertahan di Indonesia. Dia meyakini ada ruang yang tidak dimiliki perusahaan merger, yang dapat dioptimalkan oleh Maxim maupun Shopee Food.

Misalnya, dari sisi akuisisi pedagang. Mereka bisa mengambil keuntungan yang jauh lebih kecil potongannya sehingga pedagang tertarik untuk menggunakan aplikator kompetitor Grab-Gojek. “Grab Gojek itu setahu saya itu dia memotong 20% ke merchant-merchant. Misalkan Shopee, Shopee Food, atau Maxim bisa memberikan angka yang jauh lebih rendah itu saya rasa itu menarik.”

Tesar menambahkan bahwa dengan harga potongan yang lebih murah, maka harga yang diterima pelanggan nantinya juga akan makin murah sehingga perusahaan di luar Gojek-Grab diminati masyarakat. “Jadi peluang Maxim dan teman-teman bisa bertahan itu saya lihat masih tinggi, cuma pastikan mereka tetap punya value proposition yang jelas misalnya harga jauh lebih murah, atau pelayanan jauh lebih bagus.”

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *