"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Daerah  

Jejak Situ Rawa Besar Depok: Kenangan yang Terlupakan

Situ Rawa Besar: Kehidupan yang Terus Berjalan, Tapi Tak Terurus

Langkah kaki terdengar berirama di sepanjang tepian Situ Rawa Besar. Dari pagi menjelang siang, jalur setapak di sisi air itu menjadi ruang lalu-lalang warga, menandai situ ini masih menyatu dengan denyut kehidupan sehari-hari masyarakat sekitarnya.

Anak-anak berseragam sekolah berjalan beriringan dengan tas yang diselempangkan seadanya. Sesekali mereka saling menunggu sambil bercakap ringan sebelum melanjutkan langkah. Tak jauh dari mereka, sejumlah orang dewasa melintas perlahan. Ada yang sekadar lewat, ada pula yang sengaja menyusuri tepi situ untuk menikmati udara terbuka di tengah padatnya permukiman.

Permukaan air Situ Rawa Besar membentang tenang. Angin tipis menggerakkan riak-riak kecil, memantulkan warna langit yang pucat di permukaan air. Di kejauhan, deretan bangunan dan pepohonan mengitari situ, seolah menjadi bingkai alami yang mengurungnya di tengah kawasan permukiman padat.

Tulisan besar “Situ Rawa Besar” berdiri mencolok di salah satu sudut, dihiasi ornamen merah putih. Penanda itu memberi kesan bahwa tempat ini pernah diharapkan menjadi ruang bersama yang membanggakan. Namun, semakin dekat ke bibir air, wajah lain situ perlahan terlihat. Di beberapa titik, sampah mengapung dan tersangkut di tepi beton.

Plastik, botol, dan sisa kemasan rumah tangga berkumpul membentuk gumpalan kecil yang bergerak pelan mengikuti arus air. Warna air yang kehijauan membuat situ tampak letih, seolah menanggung beban aktivitas manusia di sekitarnya.

Rumah-rumah warga berdiri rapat di sepanjang tepi situ. Dinding bangunan nyaris bersentuhan langsung dengan air, memperlihatkan betapa dekatnya kehidupan sehari-hari dengan badan situ. Di beberapa sudut, pot-pot tanaman diletakkan di atas tembok pembatas sebagai upaya kecil mempercantik ruang yang ada.

Warung dan bangunan sederhana turut menghadap ke arah situ, menjadikannya bagian dari keseharian warga, bukan sekadar lanskap. Situ Rawa Besar hidup dalam keseharian yang sederhana. Ia bukan ruang yang gemerlap atau penuh atraksi, melainkan tempat yang digunakan apa adanya. Warga berjalan, anak-anak melintas, air mengalir pelan, dan sampah menepi tanpa suara.

Di sanalah dua wajah itu bertemu—harapan akan ruang terbuka yang nyaman dan kenyataan tentang situ yang masih bergulat dengan persoalan kebersihan serta pengelolaan.

Perubahan yang Terasa Nyata

Bagi warga sekitar, perubahan Situ Rawa Besar terasa nyata. Dari tempat yang dulunya hidup sejak pagi hingga malam, situ ini kini hanya menyisakan jejak-jejak besi dermaga, perahu yang tak lagi berfungsi, serta air yang kerap dipenuhi sampah. Tak ada lagi suara mesin perahu atau pemandangan keramaian di bentang setu yang dulu akrab di mata warga.

Jeri (46), salah satu warga sekitar, menyebutkan Situ Rawa Besar sudah lama tidak dikelola secara aktif. Aktivitas yang dulu menopang kebutuhan warga satu per satu berhenti tanpa kejelasan kelanjutan.

“Iya enggak jalan, dulu ada mainan bebek-bebekan, Udah lama. Cuma udah ga jalan lama sejak 2020an,” kata Jeri saat ditemui di sisi situ, Senin (15/12/2025).

Perahu Eretan yang Pernah Jadi Nadi Warga

Bagi sebagian warga, Situ Rawa Besar bukan hanya tempat rekreasi. Di masa lalu, perahu eretan menjadi sarana penting mobilitas masyarakat. Anak-anak sekolah, pedagang, hingga warga yang hendak ke pasar menggantungkan perjalanan mereka pada jalur air ini.

Jeri mengingat dengan jelas fungsi situ sebagai penghubung antarwilayah yang memangkas jarak tempuh warga. “Itu juga dulu ada penyebrang buat masyarakat. Ke sana sebrang, namanya perahu eretan buat berangkat ke sekolah, yang ke pasar, itu dermaganya, besi-besi itu dermaganya,” kata Jeri.

Kini, jalur itu tak lagi tersedia. Anak-anak sekolah terpaksa berjalan memutar cukup jauh untuk mencapai tujuan mereka. Situ yang dulu mempercepat langkah, kini justru menjadi penghalang yang harus dihindari.

“Nah sekarang anak-anak sekolah kalau nyebrang dia muter jalan kaki lumayan 1 kilometer ada, kalau ada perahu kan cepat,” kata dia.

Wisata Murah yang Hilang

Selain perahu penyeberangan, Situ Rawa Besar juga pernah menjadi ruang wisata sederhana bagi warga sekitar maupun pengunjung luar. Motoboot dan wahana bebek-bebekan menjadi hiburan murah yang ramai, terutama pada sore dan malam hari saat cuaca bersahabat.

Aktivitas tersebut bukan sekadar rekreasi, tetapi juga sumber penghasilan warga lokal. Dengan tarif terjangkau, perputaran ekonomi kecil tumbuh di sekitar situ. “Ya, itu perahu motor bayar Rp 5.000 dua puteran pakai mesin, yang dari Ridwan Kamil dulu, masih ada perahunya cuman bocor engga ada yang dandanin, egga ada pemberdayaan lagi,” ujar dia.

Menurut Jeri, kondisi perahu yang rusak dan tidak dirawat menjadi tanda berhentinya perhatian terhadap situ ini, padahal potensi ekonomi masih terbuka jika dikelola serius.

Potensi yang Masih Ada

Meski kini tak terurus, warga masih melihat Situ Rawa Besar sebagai ruang yang potensial. Aktivitas ekonomi berbasis warga dinilai bisa kembali berjalan jika ada pengelolaan dan pemeliharaan berkelanjutan. Jeri menyebut, keterlibatan warga justru bisa menjadi solusi agar situ kembali hidup.

“Makanya saya bilang, siapa aja boleh itu gerakin lagi perahu buat kepentingan warga. Kebutuhan warga, masyarakat. Anak-anak sini. Jarang yang nganggur Pada kerja. Gerak-gerak,” ujarnya.

“Kan, lumayan ganti-gantian. Sehari ganti, sehari ganti buat pemasukan anak-anak sini juga, kan, bisa,” lanjutnya.

Menurut dia, situ ini tetap ramai meski tanpa fasilitas, terutama saat malam hari dan cuaca cerah. “Di sini kalau enggak hujan, malam rame pantangannya hujan doang, kalau hujan, sepi,” katanya.

Sampah dan Minimnya Pemeliharaan

Masalah lain yang kini mencolok adalah sampah. Kurangnya kesadaran warga dan minimnya pengelolaan membuat situ kerap dipenuhi plastik dan limbah rumah tangga. Pemandangan tersebut semakin memperkuat kesan terbengkalai.

“Dari mana saja itu, Kalau makan apa tuh, plastik buang ke sini. Kurang kesadaran, setiap pagi ada sampah-sampah di sini sayang banget,” kata dia.

Andi membandingkan kondisi Situ Rawa Besar dengan situ lain yang dinilai lebih terawat karena ada pengangkutan sampah rutin. “Kalau di Setu lain kan pagi-pagi sampah diangkutin. Tapi ada sih yang ngangkutin kayak getek-getek dari sana cuma kurang maksimal,” katanya.

Pengelolaan yang Mandek

Ketidakjelasan pengelolaan menjadi persoalan utama yang membuat fasilitas Situ Rawa Besar tak kunjung berjalan kembali. Di tingkat lingkungan, RW tidak sepenuhnya memiliki kewenangan untuk bertindak, sementara organisasi yang ditunjuk secara formal dinilai tidak efektif menjalankan perannya.

Ketua RW 13 Kembang Lio, Suhanda, mengatakan sejak beberapa tahun terakhir pengelolaan Situ Rawa Besar berada di bawah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Namun dalam praktiknya, kondisi tersebut justru membuat RW dan warga kebingungan ketika ingin bergerak.

“Memang kalau sebelumnya adanya Ketua Pokdarwis, pengurus Pokdarwis dan Disporyata itu dulu yang ngelola dengan rukun warga bersama-sama, masyarakat, RT, toko masyarakat,” ujar Suhanda.

Menurut dia, struktur pengelolaan mulai berubah sejak pembentukan Pokdarwis sekitar 2019 atau 2020. Sejak itu, RW tidak lagi leluasa terlibat langsung, meskipun persoalan di lapangan tetap mengemuka.

“Di sini kami juga mengelola kan bingung. Karena kami kalau RW mau ngelola, ada pengurusnya yang namanya Pokdarwis,” katanya.

Penyeberangan yang Dibutuhkan, Tapi Terbentur Izin

Kemandekan pengelolaan paling terasa pada hilangnya fasilitas penyeberangan yang dulu menjadi urat nadi aktivitas warga. Hingga kini, permintaan untuk menghidupkan kembali perahu penyeberangan terus disuarakan masyarakat, terutama orang tua murid dan pedagang.

Suhanda mengungkapkan, warga kerap meminta agar fasilitas penyeberangan dihadirkan kembali karena memudahkan mobilitas sehari-hari. “’Pak, ngadain lagi dong Pak, penyeberangan’. Saya bukan enggak mau, saya juga penginnya ada penyeberangan memudahkan warga Lio ke sana,” kata dia.

Menurut dia, banyak anak-anak di wilayah Lio yang bersekolah di seberang situ. Tanpa penyeberangan, mereka harus berjalan memutar cukup jauh, bahkan tak jarang orang tua terpaksa melawan arus lalu lintas saat mengantar.

“Kalau mereka mutar, orangtuanya bawa motor pun paginya ngelawan arah. Kan bahaya juga kalau ngelawan arah. Karena pagi itu kendaraan sangat banyak kan ya,” ujarnya.

Perahu Eretan Sudah Lima Tahun Tidak Ada

Pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Situ Rawa Besar, Wiwit, menegaskan fasilitas perahu eretan yang kerap disebut warga sudah lama tidak beroperasi. Ia menyebutkan, sejak normalisasi situ pada akhir 2019, perahu eretan dibongkar dan tidak pernah kembali berfungsi.

“Sebelum normalisasi tahun 2019 akhir memang pernah ada perahu eretan dengan jembatan cinta, namun semuanya di bongkar karena pada saat itu setu nya mau dinormalisasi,” kata Wiwit.

Menurut dia, ketiadaan perahu eretan bukan karena Pokdarwis melarang atau menutup akses, melainkan karena persoalan legalitas yang sejak awal tidak pernah jelas.

“Ijin dari perahu eretan itu belum jelas karena dikelola oleh pribadi (orang tertentu). Jadi intinya untuk perahu eretan memang tidak ada lima tahun terakhir,” kata Wiwit.

Perahu Hibah Terbentur SK

Selain perahu eretan, Wiwit juga menjelaskan soal perahu hibah Jabar Juara dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang kerap disebut warga. Ia menyebutkan, perahu tersebut memang ada, tetapi sejak awal tidak berada di bawah kewenangan Pokdarwis.

Perahu tersebut secara administratif diserahkan kepada pemerintah wilayah setempat, bukan Pokdarwis. “Perahu Jabar Juara tersebut diberikan oleh Gubernur Jabar kepada pemerintah wilayah setempat (ketua RW 13) pada saat itu Adang Suardi, jadi SK Perahu Jabar Juara itu ke pemerintah wilayah setempat dan bukan ke pokdarwis atau pokja,” kata Wiwit.

Wiwit menegaskan, Pokdarwis bukan tidak ingin mengelola fasilitas tersebut. Namun status kepemilikan dan campur tangan pihak lain membuat pengelolaan sulit dilakukan. “Jadi kami dari Pokdarwis pun ingin mengelola namun terbentur dengan SK tadi,” katanya.

Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *