"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Daerah  

Jejak Kehidupan di Tanah Duka Palembayan

Kehadiran Polri di Tengah Bencana Banjir Bandang Palembayan

Rinai hujan turun membasahi Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, Minggu, 30 November 2025 pagi. Awan kelabu menggantung rendah, menutup semburat matahari. Cahaya jatuh samar di atas hamparan lumpur cokelat, bebatuan raksasa, sisa puing bangunan, dan batang-batang kayu besar yang berserakan. Rumah-rumah rata dengan tanah. Udara lembap, bercampur bau tanah basah dan anyir menusuk hidung.

Palembayan baru saja dihantam banjir bandang atau yang disebut galodo oleh masyarakat setempat. Tak ada yang menyangka, Kamis, 27 November 2025 petang, menjadi titik balik riwayat ketenteraman dan kedamaian masyarakat Palembayan. Sungai yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan, seketika berubah menjadi jalur amukan yang memporak-porandakan kampung. Gelombang banjir bandang datang tanpa aba-aba. Diiringi dentuman maha dahsyat yang menggema dari hulu sungai.

Dalam hitungan detik, air bah yang buas melaju dengan kecepatan tinggi, melibas habis semua yang ada di hadapannya. Menggulung tanpa ampun. Pasca galodo, Palembayan bukan lagi negeri yang damai, namun berubah menjadi ladang duka yang sunyi dan mencekam. Di tengah kondisi muram itu, tim Kepolisan Daerah (Polda) Riau yang berjumlah 290 personel, datang menginjakkan kaki di tanah Palembayan. Tim ini tergabung dalam Operasi Aman Nusa II, dalam rangka penanggulangan bencana.

Seragam mereka basah oleh hujan, sepatu terasa berat oleh lumpur yang menghisap setiap langkah. Namun, kehadiran mereka menjadi harapan bagi warga yang bertahan. Salah satu yang tergabung dalam tim ini, adalah Bripda Aldo Ardiansyah, anggota Satuan Brimob Polda Riau. Polisi berusia 23 tahun itu bersama ratusan personel lainnya, datang untuk membantu. Mereka berangkat dari Markas Polda Riau pada Sabtu, 29 November 2025, sekitar pukul 10.00 WIB. Perjalanan menuju Palembayan yang dalam kondisi normal dapat ditempuh sekitar delapan hingga sembilan jam, berubah menjadi perjalanan panjang hampir 24 jam.

“Kami tahu ini bukan perjalanan biasa. Sejak awal, kami berangkat bukan hanya membawa perlengkapan, tapi juga kesiapan mental,” jelas Aldo. Longsor menutup akses jalan di sejumlah titik yang dilalui. Kendaraan harus berputar jauh, berhenti berjam-jam, bahkan menunggu alam sedikit bersahabat. Beberapa ruas jalan licin dan rawan amblas, memaksa rombongan bergerak perlahan dengan risiko tinggi.

Sebelum berangkat, Aldo telah mempersiapkan perlengkapan sederhana. Mantel hujan, sarung tangan, dan masker ia bawa sebagai bekal bertugas di medan bencana. Ia turut membawa pesan dari orang tuanya, yang terus terngiang di benaknya. “Pesan dari orang tua saya bantu masyarakat, angkat apa yang bisa diangkat, jalin komunikasi yang baik dengan masyarakat sekitar, utamakan keselamatan,” ungkap Aldo.

Setibanya di Palembayan, ia mendapati kondisi yang jauh dari bayangan. Bahkan lebih parah. Tidak ada listrik. Tidak ada jaringan komunikasi. Kondisi hujan ringan, membuat medan semakin licin dan berbahaya. “Saat tiba di lokasi, dunia seakan berhenti. Tidak ada listrik. Tidak ada jaringan. Yang terdengar hanya suara alat berat dan tangisan warga,” katanya.

Tim misi kemanusiaan Polda Riau, kemudian dibagi ke beberapa sektor pencarian. Peleton tempat Aldo bertugas, dipimpin Ipda Sakwan, mendapat tugas melakukan pencarian dan evakuasi korban di area terparah. Mereka bergerak perlahan di bawah langit mendung, menyusuri bekas perkampungan yang hancur, menggali tumpukan kayu dan batu, menyeberangi sungai dengan arus yang masih deras, serta menginjak tanah yang bisa amblas kapan saja.

“Setiap langkah kami pertaruhkan nyawa. Kami tidak tahu di bawah lumpur itu apa, tanah kosong, lubang, atau puing tajam,” ujar Aldo. Pencarian dilakukan dalam senyap yang tegang. Jengkal demi jengkal tak luput dari penyisiran. Personel Polri berkolaborasi bersama TNI, BPBD, Basarnas, dan warga setempat. Semua bergerak dengan satu tujuan, menemukan korban, hidup atau meninggal, agar keluarga mendapat kepastian.

Proses pencarian dilakukan secara manual. Kayu ditusukkan ke lumpur untuk mendeteksi keberadaan jasad. Sekop dan cangkul digunakan dengan penuh kehati-hatian. Di tengah upaya itu, hujan masih turun. “Kami selalu waspada galodo susulan. Keselamatan personel tetap nomor satu,” jelas Aldo.

Hari demi hari berlalu. Proses pencarian terus dilakukan. Namun, belum membuahkan hasil. Pada Sabtu, 6 Desember 2025, pencarian melibatkan bantuan satu unit alat berat. Aldo berdiri di atas sebuah ekskavator berwarna kuning. Ia mengarahkan operator untuk menggeser puing rumah. Ketegangan terjadi. Saat alat berat tengah bekerja, mata Aldo menangkap sesuatu yang dia kenali. Jantungnya berdegup kencang.

“Saya melihat bentuk yang sangat saya kenal, seperti kaki manusia,” katanya. Ia meminta operator menghentikan mesin. Aldo turun dari ekskavator dan bersama rekan-rekannya melanjutkan penggalian secara manual. Lumpur disingkirkan dengan tangan, napas ditahan. Tim menemukan jasad. “Kondisinya sudah mengeluarkan bau. Itu momen yang tidak akan pernah saya lupakan,” ungkapnya.

Evakuasi berlangsung sulit. Korban tertimbun di dalam rumahnya sendiri yang hancur. Kayu besar mengunci pergerakan, lumpur membuat pijakan nyaris tak ada. Salah langkah bisa membuat tim terperosok atau runtuhan kembali menimpa personel. Berkat kegigihan personel, dua korban perempuan berhasil ditemukan dan dievakuasi.

Saat jenazah diangkat, jerit tangis keluarga korban pecah. Isak histeris menggema di antara puing-puing rumah yang runtuh. “Itu yang paling berat. Kami bisa menahan lelah, lapar, dan sakit, tapi melihat keluarga korban hancur rasanya menusuk hati,” tutur Aldo.

Proses pencarian korban masih berlanjut. Sampai pada Selasa, 9 Desember 2025, di titik lainnya, satu lagi jenazah korban berhasil ditemukan. Aldo bilang, penemuan mayat warga itu bermula ketika ia bersama rekan-rekannya, bermaksud ingin beristirahat untuk salat dan makan, usai melakukan pencarian. Namun, rencana itu urung dilakukan.

Seorang warga, datang menghampiri mereka meminta bantuan. “Warga ini datang meminta tolong kami dan alat berat untuk merobohkan habis rumahnya, yang memang sudah hampir roboh akibat dihantam kayu besar. Kami bersama ekskavator berangkat menuju ke lokasi rumah warga tersebut. Sampai di sana, sudah ada personel lain dari Satuan Brimob Polda Sumatera Barat,” urainya.

Lanjut Aldo, saat ekskavator sedang mengangkat kayu dari rumah tersebut, mereka melihat sesosok mayat. “Alat berat saya minta berhenti sebentar, saya lalu mendekat untuk memastikan. Ternyata benar, itu mayat. Saya bersama rekan saya lalu melakukan evakuasi, mengeluarkan korban dari timbunan lumpur,” sebut Aldo. “Kondisi korban saat itu wajah hampir tidak bisa di kenali. Korban berjenis kelamin perempuan, umur sekira 50 tahun. Jenazahnya lalu dievakuasi untuk dilakukan identifikasi,” tambah dia.

Bagi Aldo, ini adalah pengalaman pertamanya terlibat langsung dalam pencarian dan evakuasi korban bencana alam. Bukan hanya fisik yang terkuras, tetapi juga batin. Namun di situlah ia menemukan makna pengabdian yang sesungguhnya. “Kami di Polri tidak hanya hadir saat masyarakat aman. Kami hadir saat mereka paling membutuhkan, saat listrik mati, air bersih tidak ada, dan harapan hampir padam,” tegasnya.

Di Palembayan, Polri hadir bukan sekadar sebagai aparat. Mereka menjadi tangan yang menggali lumpur, bahu tempat warga bersandar, dan penghubung antara kehilangan dan keikhlasan. Dari tragedi galodo ini, Aldo menyimpan pesan yang terus ia gaungkan. “Galodo ini bukan sekadar bencana alam. Ini peringatan. Hutan yang rusak, sungai yang tertutup, semuanya berkontribusi. Mari berhenti merusak alam dan mulai menanam pohon. Apa yang kita tanam hari ini adalah keselamatan anak cucu kita,” ujarnya.

Di Palembayan, Polri tak hanya menggali lumpur, tetapi juga menanam kembali harapan.

Bencana Banjir Bandang di Kabupaten Agam

Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tercatat sebagai salah satu bencana paling mematikan sepanjang 2025. Dari 16 kecamatan di Kabupaten Agam, 13 kecamatan terdampak langsung, yakni Palembayan, Malalak, Tanjung Raya, Ampek Nagari, Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, Matur, Palupuh, Kamang Magek, Tilatang Kamang, Biaso, Banuhampu, dan IV Koto. Sedangkan tiga kecamatan lainnya, yaitu Sungai Pua, Candung, dan Ampek Angkek, relatif aman dari dampak signifikan.

Dari seluruh wilayah terdampak, Kecamatan Palembayan menjadi daerah dengan dampak paling parah, baik dari sisi korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur. Hal ini dikarenakan kondisi geografis Palembayan yang berada di jalur aliran material banjir bandang. Sehingga wilayah ini paling rentan mengalami dampak berlapis.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), per 20 Desember 2025 pukul 21.00 WIB, tercatat 192 orang meninggal dunia dan 72 orang masih dinyatakan hilang. Dari total tersebut, Kecamatan Palembayan jadi yang tertinggi, dengan 138 orang meninggal dunia, 66 orang hilang. Selain itu, secara keseluruhan ada 3.878 jiwa yang terpaksa mengungsi akibat rumah mereka rusak berat atau berada di zona rawan bencana.

Terdapat pula 4 orang warga yang mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan medis, serta 26 orang sempat terisolasi akibat terputusnya akses jalan dan jembatan penghubung antar wilayah. Kerusakan infrastruktur akibat bencana ini juga tercatat sangat luas. BNPB mendata ada 854 rumah rusak berat, 298 rumah rusak sedang, dan 392 rumah rusak ringan di Kabupaten Agam.

Selain permukiman warga, banjir bandang juga merusak 21 ruas jalan dan 28 unit jembatan, yang menyebabkan terhambatnya distribusi logistik dan memperlambat proses evakuasi. Fasilitas publik turut terdampak signifikan. BNPB mencatat kerusakan pada 114 fasilitas pendidikan, 27 tempat ibadah, serta 78 jaringan irigasi yang menopang sektor pertanian masyarakat.

Selain itu, bencana ini juga merusak lebih dari 2.000 hektare lahan pertanian dan menyebabkan 5.481 ekor ternak terdampak, yang berpotensi menimbulkan dampak ekonomi jangka panjang bagi warga, khususnya di Palembayan yang sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor pertanian dan peternakan.

Dengan besarnya jumlah korban jiwa, luasnya kerusakan permukiman dan infrastruktur, serta dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan, BNPB menegaskan bahwa Palembayan merupakan episentrum bencana banjir bandang di Kabupaten Agam. Wilayah ini kini menjadi prioritas utama dalam penanganan darurat, pembangunan hunian sementara, serta rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.

Bantuan Logistik dan Evakuasi dari Polda Riau

Konvoi kendaraan pengangkut bantuan bergerak di bawah langit yang tak menentu. Hujan kadang turun, kadang reda. Seolah menguji seberapa jauh kemanusiaan sanggup melangkah. Dari Riau, bantuan melaju menembus jarak dan batas provinsi, menuju wilayah-wilayah yang baru saja diguncang banjir bandang dan longsor. Selain Sumatera Barat, juga di Aceh dan Sumatera Utara.

Di saat ribuan warga kehilangan rumah, akses jalan terputus, dan potensi ancaman yang masih ada, Polda Riau bersiap untuk membantu. Semua bergerak dalam satu irama, merespons panggilan kemanusiaan. Di balik pergerakan cepat itu, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan berdiri sebagai penggerak utama. Ia memimpin langsung seluruh proses, mulai dari persiapan, pelepasan bantuan, hingga turun ke lokasi terdampak untuk memastikan bantuan benar-benar sampai ke tangan warga yang membutuhkan.

Begitu laporan awal bencana masuk, Herry segera menginstruksikan jajarannya untuk menyiapkan personel tanggap darurat, logistik, serta peralatan Search and Rescue (SAR). Tidak butuh waktu lama bagi Polda Riau untuk mengorganisir bantuan dalam jumlah besar. Sejumlah truk pengangkut logistik lengkap disiapkan. Masing-masing berisi bahan makanan pokok seperti beras, sardin, mie instan, air mineral, pakaian layak pakai, selimut, tenda darurat, perlengkapan bayi, perlengkapan kebersihan, hingga obat-obatan.

Jajaran Polda Riau, juga membantu dengan mengirim peralatan seperti sekop, gerobak dorong, cangkul, dan sebagainya. Di sisi lain, unit-unit khusus seperti Brimob, Samapta, dan tim SAR turut dikerahkan dengan perlengkapan lengkap. Jumlahnya ratusan personel. Mereka dibekali kendaraan taktis, alat evakuasi, hingga drone dan anjing pelacak (K9) untuk pencarian korban hilang. Bahkan alat berat seperti ekskavator juga disiagakan untuk membantu membersihkan material longsor yang menutup akses jalan di sejumlah titik di daerah terdampak bencana.

Ada pula kendaraan water treatment yang dikirim, untuk pengolahan berbagai sumber air menjadi air bersih, kendaraan penyedia jaringan internet, serta terakhir pengiriman 30 truk pengangkut 200 ton air bersih. Kondisi cuaca yang berubah-ubah dan akses yang sulit, tidak menyurutkan semangat tim Polda Riau untuk membawa bantuan ini sesegera mungkin.

Di tengah suasana duka dan trauma, Polda Riau juga memberikan bantuan non fisik yang tak kalah penting. Herry memerintahkan pengiriman puluhan psikolog yang tergabung dalam tim trauma healing untuk memberikan pendampingan mental kepada korban, terutama anak-anak dan lansia. Program trauma healing dilakukan di berbagai posko pengungsian, mulai dari aktivitas konseling, permainan edukatif untuk anak, hingga sesi berbagi pengalaman bagi para korban dewasa.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa misi kemanusiaan yang dijalankan Polda Riau bersifat menyeluruh, tidak hanya soal bantuan pangan, tetapi juga pemulihan emosional dan mental masyarakat. Menurut Herry, jajarannya hadir untuk membantu sesama. Dalam arahannya, Herry menekankan pentingnya memastikan bantuan tidak hanya dikirim, tetapi sampai langsung kepada warga yang paling membutuhkan. “Kita berangkatkan bantuan ini sebagai bentuk panggilan kemanusiaan. Pastikan semua tepat sasaran, jangan ada yang terlewat,” pesannya di hadapan para personel.

Kapolda jebolan Akpol 1996 ini, juga memilih turun langsung memantau ke lokasi terdampak bencana di Agam, Sumatera Barat. Ia mengunjungi posko pengungsian, berdialog dengan para warga yang menjadi korban guna memastikan apa saja kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi, dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, serta tim SAR gabungan untuk memastikan distribusi bantuan dan evakuasi berjalan efektif. Di salah satu posko, ia memeriksa kesiapan personel Polda Riau yang telah lebih dulu berada di lokasi beberapa hari sebelumnya.

“Kita datang sebagai saudara. Bantuan ini bukan hanya formalitas, tapi komitmen kita untuk memastikan masyarakat bisa kembali bangkit,” ujarnya. Dengan dampak bencana yang cukup luas, Herry memastikan koordinasi lintas provinsi terus diperkuat. Polda Riau selalu berkomunikasi dengan aparat di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat untuk memperbarui data kebutuhan korban, kondisi akses jalan, serta titik-titik rawan yang membutuhkan tenaga ekstra. Polda Riau juga menyiagakan tambahan personel jika sewaktu-waktu diperlukan, mengingat kondisi cuaca yang masih fluktuatif dan ancaman bencana susulan yang belum sepenuhnya hilang. Langkah ini menjadi simbol solidaritas antar daerah di Pulau Sumatera.

Kehadiran Polda Riau, terutama di bawah kepemimpinan Herry, memperlihatkan bahwa kepolisian tidak hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), tetapi juga memiliki peran besar dalam situasi kemanusiaan.

Penutupan Misi Kemanusiaan dengan Tanam Pohon dan Doa Bersama

Reruntuhan lumpur masih membekas di sepanjang Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sungai Batang yang beberapa hari sebelumnya mengamuk, kini mengalir lebih tenang, seolah memberi jeda bagi luka yang perlahan dirawat. Setelah hampir dua pekan berada di garis depan bencana banjir bandang, personel Bawah Kendali Operasi (BKO) Polda Riau pun bersiap meninggalkan daerah yang pernah luluh lantak itu. Selama 12 hari, personel BKO Polda Riau bersama unsur gabungan bekerja tanpa mengenal lelah. Jalan-jalan yang tertutup lumpur dibersihkan, jembatan darurat didirikan untuk memulihkan akses warga, layanan kesehatan dibuka di posko pengungsian, hingga tujuh alat berat dioperasikan demi mempercepat proses pemulihan.

Hari-hari panjang itu diisi dengan kerja sunyi, keringat, dan empati bagi warga yang kehilangan rumah, harta benda, bahkan keluarga. Sebagai penutup misi kemanusiaan, Polda Riau memilih cara yang sarat makna. Di tepi Sungai Batang, Nagari Salareh Aia, pada Kamis siang, 11 Desember 2025, personel BKO menanam pohon. Ini merupakan simbol sederhana, namun penuh harapan, di lokasi yang sebelumnya menjadi titik terparah akibat terjangan galodo. Penanaman pohon itu dipimpin langsung oleh Komandan Satuan (Dansat) Brimob Polda Riau yang ditunjuk sebagai Kepala Posko Bencana, Kombes Pol Ketut Gede Adi Wibawa.

Sejumlah pejabat utama Polda Riau turut hadir, di antaranya Kepala SPN Kombes Pol Indra Duaman, Kabid Dokkes Kombes Pol Wahono Edhi, Direktur Sabhara Kombes Pol Syahrial, serta Kabid Humas Kombes Pol Anom Karibianto. Puluhan personel lain ikut menanam tanpa sekat pangkat, membaur dalam satu tujuan. Ketut menjelaskan alasan mengapa penghijauan dipilih sebagai penutup misi. “Sebelum mengakhiri misi kemanusiaan ini, kami dari jajaran Polda Riau ingin mewariskan pohon ini untuk masa depan. Pohon adalah lambang kekuatan sebagai penyeimbang ekosistem,” ucapnya.

Penanaman itu bukan sekadar seremoni. Pohon-pohon yang ditanam di bantaran Sungai Batang diharapkan menjadi pengikat tanah, penjaga keseimbangan alam, sekaligus penanda bahwa kepedulian tidak berhenti meski personel kembali ke daerah asal. Di tanah yang pernah diterjang bencana, tumbuh ‘pohon harapan’ bagi masa depan Palembayan. Misi kemanusiaan ini kemudian ditutup dengan doa bersama warga. Bertempat di Posko Bencana Polda Riau di SMPN 03 Palembayan, suasana berlangsung khidmat. Doa dipanjatkan bersama, di tengah duka yang masih terasa, sekaligus menjadi momen perpisahan antara personel dan masyarakat.

Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Anom Karibianto menyampaikan rasa terima kasih kepada warga yang telah menerima dan mendukung kehadiran Polda Riau selama menjalankan tugas kemanusiaan. “Kami mewakili seluruh personel Satgas mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan dan suport para wali nagari, para datuk, dan tokoh masyarakat. Sehingga selama 14 hari kami melakukan perbantuan di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam ini dapat berjalan dengan lancar,” ujar Anom.

Saluak dan Selendang Tanda Terima Kasih

Saluak dan selendang itu terlipat rapi, diserahkan dengan penuh takzim. Bukan sekadar cendera mata, melainkan titipan rasa terima kasih dari nagari yang pernah dilanda duka mendalam. Di penghujung misi kemanusiaan pasca bencana galodo di Palembayan, ikatan batin antara masyarakat dan aparat terpatri dalam simbol adat Minangkabau. Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan memimpin apel penyambutan personel Polda Riau yang telah menuntaskan penugasan Bawah Kendali Operasi (BKO) di wilayah Polda Sumatera Barat.

Apel digelar di Gedung Tribrata lantai 5 Mapolda Riau, Pekanbaru, Jumat 12 Desember 2025, sebagai penanda berakhirnya rangkaian tugas kemanusiaan di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Sebelum kembali ke kesatuan masing-masing, jajaran Polda Riau terlebih dahulu menerima amanah kehormatan dari masyarakat Palembayan. Sebuah saluak dan selendang adat Minangkabau diserahkan kepada Kapolda Riau sebagai simbol persaudaraan, penghormatan, dan ungkapan terima kasih atas kehadiran serta pengabdian personel Polri selama masa tanggap darurat bencana.

Penyerahan cendera mata adat tersebut dilakukan langsung oleh Iskandar Datuk Majo Nan Putiah, tokoh adat Nagari Salareh Aia Timur, dalam sebuah prosesi yang sarat nilai budaya. Prosesi pelepasan berlangsung pada Kamis malam, 11 Desember 2025, di SMPN 3 Palembayan yang menjadi posko tim Polda Riau. Kegiatan ini turut disaksikan tokoh masyarakat dan warga yang selama beberapa pekan terakhir hidup berdampingan dengan aparat dalam situasi darurat. “Kami berikan kepada Bapak Kapolda Riau, karena itu pakaian kami di Minangkabau sebagai penghulu. Ini kenang-kenangan sepanjang masa yang dapat kami sampaikan sebagai balas kasih kepada Bapak Kapolda Riau,” ujar Iskandar Datuk Majo Nan Putiah.

Dalam adat Minangkabau, saluak dan selendang bukanlah sekadar pelengkap busana. Keduanya merupakan lambang kehormatan, kepercayaan, dan penerimaan. Ketika dikenakan atau diberikan, itu berarti seseorang telah dianggap sebagai bagian dari keluarga besar nagari. Karena itulah, pemberian tersebut menjadi penanda kuatnya ikatan batin antara masyarakat Palembayan dan jajaran Polda Riau.

Pasca galodo melanda Palembayan, Polda Riau mengerahkan ratusan personel untuk membantu proses pencarian dan evakuasi korban, pemulihan wilayah terdampak, hingga pendampingan psikologis bagi warga yang kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Personel Polri bekerja di tengah lumpur, puing, dan cuaca yang tak menentu, menyatu dengan duka masyarakat. Tak hanya mengirimkan personel, Polda Riau juga menyalurkan bantuan logistik dan peralatan kerja seperti sekop, cangkul, serta angkong untuk mempercepat pembersihan material banjir. Di tengah keterbatasan komunikasi akibat rusaknya jaringan, Polda Riau turut menghadirkan layanan komunikasi berbasis satelit Starlink agar koordinasi dan informasi tetap berjalan.

Dalam arahannya saat apel penyambutan, Kapolda Riau menegaskan bahwa tugas Polri tidak berhenti pada aspek keamanan dan ketertiban masyarakat semata, tetapi juga menyentuh nilai-nilai kemanusiaan. “Kami hadir bukan hanya ketika keamanan terganggu, tetapi juga saat masyarakat membutuhkan respons cepat dalam situasi tanggap darurat. Inilah wujud nyata pengabdian Polri untuk masyarakat,” ungkap dia.

Polda Riau Dapat Apresiasi Kapolri

Di tengah kesibukan pengerahan bantuan penanganan bencana di Sumatera, sebuah laporan penting disampaikan dari Riau ke Mabes Polri. Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan memastikan, setiap langkah kemanusiaan yang diambil jajarannya diketahui dan dipertanggungjawabkan langsung kepada pimpinan tertinggi Korps Bhayangkara. Ia melapor kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengenai pengiriman bantuan dan ratusan personel Polda Riau untuk membantu penanganan bencana, khususnya di Sumatera Barat.

Laporan itu bukan sekadar administratif, melainkan bentuk akuntabilitas atas keputusan besar yang menyangkut keselamatan manusia. “Upaya yang kami lakukan dalam membantu penanganan bencana di Sumatera telah saya laporkan langsung kepada Bapak Kapolri, dan beliau memberikan apresiasi atas kinerja jajaran Polda Riau,” ujar Herry. Kapolri memberikan apresiasi atas kesiapan, kecepatan, dan soliditas personel Polda Riau yang diterjunkan ke wilayah bencana. Apresiasi itu menjadi penguat moral bagi para personel yang sejak awal telah bekerja dalam kondisi penuh risiko.

Sebagai bagian dari laporan tersebut, Herry memaparkan pengerahan 290 personel Polda Riau yang diperbantukan ke Polda Sumatera Barat untuk penanganan bencana di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Wilayah ini menjadi salah satu titik terdampak paling parah akibat bencana alam yang terjadi. Ratusan personel itu merupakan gabungan dari Satuan Brimob, Sabhara, dan SPN Polda Riau. Mereka dipimpin langsung oleh Wakapolda Riau Brigjen Pol Adrianto Jossy Kusumo dan bertugas selama 14 hari, terhitung sejak 30 November hingga 12 Desember 2025. Di lapangan, mereka terlibat dalam evakuasi, pembersihan, hingga pemulihan fasilitas umum dan rumah ibadah.

Herry menambahkan, apresiasi Kapolri juga disampaikan saat meninjau langsung kegiatan pembersihan rumah ibadah di wilayah Tamiang. Kegiatan tersebut melibatkan personel dan alat berat dari Polda Riau yang bekerja tanpa mengenal waktu demi membantu masyarakat bangkit dari dampak bencana. “Bapak Kapolri memberikan perhatian dan penilaian positif terhadap soliditas serta kesiapan personel kami di lapangan,” ungkapnya.

Dalam laporan lanjutan yang disampaikan di tingkat nasional, Herry mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto, turut memberikan perhatian terhadap misi kemanusiaan tersebut. Dalam rapat terbatas, Presiden bahkan menyampaikan rencana pemberian penghargaan kepada personel yang terlibat dalam penanganan bencana. “Ini menjadi bukti bahwa setiap langkah yang diambil tidak hanya dipertanggungjawabkan secara internal, tetapi juga mendapat pengakuan di tingkat nasional,” tandas Kapolda Riau.

Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *