Langkah-langkah para karateka muda dan senior terdengar menggema di GOR Pancasila Surabaya, Jawa Timur pada pergelaran Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) Jawa Timur 2026 yang diselenggarakan pada 17–18 Januari.
Ajang ini bukan hanya tentang perebutan medali, tetapi juga menjadi bagian dari proses panjang dalam melahirkan generasi penerus karate Indonesia. Di tengah atmosfer kompetisi yang membara, hadir sosok Ignatius Joshua Kandou, seorang karateka nasional yang kini menjadi simbol hasil dari pembinaan berjenjang.
Bagi Ignatius, Kejurprov bukan sekadar arena mencari pemenang, melainkan ruang awal tumbuhnya mimpi-mimpi besar atlet muda. Ia menyebut acara ini sangat bagus karena dari sini kita bisa melihat potensi-potensi atlet muda yang nantinya akan berkembang dan berprestasi lebih jauh.
Kejuaraan ini juga membawanya kembali ke masa-masa awal menapaki dunia karate, jauh sebelum namanya dikenal di level Asia. Ia mengenang bagaimana langkah pertamanya dimulai dari kompetisi serupa. “Saya jadi ingat 16 tahun yang lalu juga memulai seperti ini. Starting dari lulus SD baru masuk SMP,” imbuhnya.
Ia masih mengingat jelas momen saat melihat para senior menerima penghargaan di pembukaan kejuaraan. Bagi dirinya kala itu, pemandangan sederhana tersebut justru menjadi pemantik tekad untuk suatu hari berdiri di posisi sama.
“Ngerasain senior-senior saya juga pas pembukaan ada pemberian penghargaan dan itu menjadi motivasi saya harus seperti mereka suatu hari. Nah, harapannya begitu juga untuk para peserta,” tuturnya.
Tradisi Keluarga sebagai Fondasi, Prestasi dan Pendidikan yang Berjalan Seiring
Perjalanan atlet asal Sidoarjo di dunia karate tidak lepas dari peran besar keluarga. Ia tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan karate sebagai tradisi, dengan dukungan orang tua yang menyeluruh, tidak hanya secara fisik dan finansial, tetapi juga mental.
“Puji Tuhan selain tradisi orang tua memang support jadi yang diberikan bukan hanya tenaga waktu dan biaya tapi hampir seluruhnya mulai dari motivasi, persiapan pertandingan dan segala macamnya,” ujar Joshua Kandou.
Menurutnya, orang tua memahami betul jalur hidup yang ia pilih. Dukungan itu diberikan dengan kesadaran penuh terhadap minat dan bakatnya. “Mereka selalu support dengan kegiatan yang saya cenderung dalam bidang non akademis dan orang tua sangat menyadari hal itu,” sambungnya.
Di balik ketegasan di arena pertandingan, ia menunjukkan bahwa dunia olahraga tidak harus meniadakan pendidikan. Ia sendiri berhasil menuntaskan pendidikan hingga jenjang magister. “Saya menjalaninya secara happy, jalan karate dan pendidikan,” kata karateka peraih Medali Perunggu Asian Games 2023 Hangzhou.
“Sehingga diluar karate saat lagi libur saya suka mengisi waktu luang dengan belajar yang berhubungan dengan ekonomi. Hal-hal yang aku suka mulai dari manajemen sampai marketing,” imbuhnya.
Kejurprov sebagai Mata Rantai Regenerasi
Seperti diketahui kejurprov INKAI Jatim 2026 diikuti oleh 1.890 atlet dari 32 kabupaten/kota, serta dua afiliasi besar, Akademi Angkatan Laut (AAL) dan Kodam V/Brawijaya. Kejuaraan ini juga menjadi jalur seleksi menuju Kejuaraan Nasional (Kejurnas) yang dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026.
Ketua Panitia Pelaksana Kejurprov INKAI Jatim 2026, Andi Irawan, menegaskan bahwa ajang ini dirancang untuk memperkokoh peran INKAI Jatim dalam ekosistem karate nasional. “Kami ingin memperkokoh kontribusi INKAI Jatim dalam ekosistem karate. Kami mencari juara-juara baru, Joshua-Joshua baru seperti peraih emas SEA Games Thailand 2025, atau Rifki-Rifki baru peraih emas Asian Games,” ujar pria yang biasa disapa Andi.
Ia menambahkan, selain pencapaian teknis, kejuaraan ini juga menjadi sarana pembinaan karakter karateka melalui nilai-nilai Bushido dan Sumpah Karate, seperti kejujuran, disiplin, serta pengendalian diri.
Sementara itu Ketua Pengprov INKAI Jawa Timur, Suyanto Kasdi, menjelaskan bahwa Kejurprov kali ini mempertandingkan sekitar 1.800 kelas, mulai dari kategori pra-dini hingga senior. “INKAI baru hadir dengan motivasi dan program baru untuk melahirkan talenta baru menggantikan seniornya,” katanya.
Ia juga menyinggung capaian prestasi sebelumnya, salah satunya medali emas yang diraih Aura Sinta pada Kejuaraan Asian Karate Federation (AKF) 2025 di China, yang sekaligus mengakhiri penantian 20 tahun Indonesia tanpa gelar juara di kelas kumite +66 kilogram junior putri.
Selain kelas prestasi yang mengadopsi standar Kejurnas, Kejurprov ini juga menghadirkan kelas festival guna membiasakan atlet pemula merasakan atmosfer pertandingan. “Mudah-mudahan kami bisa melahirkan karateka berprestasi baik nasional maupun internasional,” imbuh Suyanto Kasdi.
Apresiasi Datang dari Ketua Umum KONI Jawa Timur
Apresiasi datang dari Ketua Umum KONI Jawa Timur, M. Nabil, yang menilai konsistensi INKAI Jatim dalam menggelar kompetisi sebagai fondasi penting pembinaan atlet. “Saya berharap ini menjadi pemantik bagi atlet lain. Prestasi Joshua yang meraih emas di SEA Games bermula dari pembinaan yang berjenjang. Semakin sering bertanding, atlet akan semakin kuat beradaptasi,” ujar ketum yang biasa disapa Nabil.
“KONI Jatim merekomendasikan cabor beladiri setidaknya melaksanakan kejuaraan tingkat provinsi empat kali setahun. Atlet tidak bisa hanya kuat di latihan, mereka harus kuat di pertandingan untuk menjadi atlet standar dunia yang memperkuat Jawa Timur,” pungkasnya.











