Agam Rinjani: Dari Bantuan Banjir Aceh ke Pencarian Korban Pesawat di Sulawesi Selatan
Agam Rinjani, seorang aktivis alam yang dikenal dengan aksi kemanusiaannya, kembali menjadi sorotan setelah turut serta dalam operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Aksi ini menunjukkan dedikasinya terhadap sesama, meskipun baru saja pulang dari membantu pemulihan korban banjir di Aceh.
Kiprah Agam Rinjani dalam Bantuan Kemanusiaan
Ini bukan pertama kalinya Agam Rinjani terlibat dalam operasi SAR. Sebelumnya, ia telah melakukan berbagai aksi heroik, termasuk evakuasi korban yang terjebak di medan ekstrem. Dalam penjelasannya, Agam menyatakan bahwa timnya telah melakukan briefing mengenai metode pencarian dan persiapan perlengkapan penyelamatan. Ia juga menjelaskan bahwa mereka menggunakan teknik vertikal rescue lengkap.
Agam Rinjani bergabung di pos 9 di jalur utama vertikal. Ia memutuskan untuk fokus pada pencarian korban di medan terjal dan bekerja sama dengan Basarnas untuk terlibat dalam operasi vertikal rescue. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan tetap berada di lokasi hingga ada kesepakatan penghentian operasi.
Tantangan dalam Operasi SAR
Agam mengungkapkan bahwa kondisi medan yang terjal dan cuaca yang tidak mendukung menjadi tantangan utama dalam proses pencarian dan evakuasi. Kabut dan angin membuat evakuasi semakin sulit. Ia meminta doa dari masyarakat agar proses evakuasi berjalan lancar dan seluruh korban dapat segera dievakuasi.
Pesawat jenis ATR 42-500 yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport dilaporkan jatuh pada Sabtu (17/1/2026) saat dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Pesawat tersebut membawa 10 orang — tujuh kru dan tiga penumpang — ketika hilang kontak dan menabrak lereng Gunung Bulusaraung. Hingga saat ini, sudah ada tiga korban yang ditemukan.
Pengalaman Masa Lalu Agam Rinjani
Agam Rinjani memiliki riwayat panjang dalam bantuan kemanusiaan. Salah satu aksinya yang paling mencolok adalah evakuasi jasad Juliana Marins dari jurang Gunung Rinjani sedalam 600 meter. Ia bersama tim SAR bahkan sampai menginap dengan tidur terikat tali menggantung di tebing dekat jenazah Juliana.
Dalam perjalanan evakuasi, Agam sempat terkena hujan batu. Ia mencoba menghindari bebatuan ukuran besar dan memilih yang lebih kecil. Tim membawa jenazah Juliana mulai dari pukul 06.00 Wita sampai di punggung Rinjani pukul 15.00 Wita. Agam menuturkan bahwa semua rescuer dipastikan akan ikut meninggal dunia bersama Juliana Marins jika malam saat mereka menginap di tebing itu turun hujan. Beruntung, mereka masih diberi keselamatan hingga akhirnya bisa membawa jasad Juliana Marins naik ke atas.
Evakuasi Pendaki Asing
Sebelum mengevakuasi Juliana Marins, Agam Rinjani pernah bertaruh nyawa saat melakukan evakuasi bule asal Israel Boaz Bar Anam yang jatuh dalam perjalanan pendakian di Gunung Rinjani pada Jumat 19 Agustus 2022. Menurut Agam, pengalaman menegangkan itu paling berkesan karena medan yang sangat ekstrem. Ia berhasil mengevakuasi pendaki asal Israel tersebut meskipun kondisi jenazahnya sudah mengenaskan.
Bantuan dalam Bencana Alam
Agam Rinjani juga pernah membantu korban banjir di Aceh dan Sumatera Barat. Saat bencana banjir bandang terjadi, ia langsung menuju ke Aceh dengan membawa mobil. Di sana, ia membantu pemulihan sejumlah fasilitas seperti rumah sakit, sekolah, hingga mushola yang rusak akibat banjir bandang.
Melalui unggahan Instagram, Agam Rinjani membagikan momen ketika dirinya membantu sejumlah relawan untuk membersihkan Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh yang tertutupi lumpur pasca bencana. Ia juga berusaha membersihkan ambulans yang tertimbun lumpur agar bisa kembali beroperasi membantu korban banjir.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











