Persebaya Surabaya Terus Mengalami Kekalahan Akibat Badai Cedera
Persebaya Surabaya menghadapi tantangan berat dalam kompetisi Super League 2025/2026. Tim asuhan Bernardo Tavares terus mengalami kekalahan, dan ini membuat posisi mereka di klasemen semakin tertekan. Di tengah persaingan yang ketat, Persebaya seperti sedang “zakat poin” akibat serangkaian cedera yang menimpa pemain utama.
Pada pekan ke-22 Super League 2025/2026, Persebaya Surabaya harus menerima kekalahan dari Persijap Jepara. Pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Bumi Kartini berakhir dengan skor 1-3 untuk kemenangan tuan rumah. Gol-gol Persijap Jepara dicetak oleh Iker Guarrotxena Vallejo pada menit ke-31 dan 90+10’, serta Alexis Nahuel Gómez pada menit ke-70. Sementara itu, Persebaya hanya mampu membalas satu gol melalui eksekusi penalti Bruno Moreira pada menit 90+3’.
Kekalahan ini terasa sangat menyakitkan karena Persebaya sebelumnya berupaya bangkit setelah hasil kurang maksimal di laga sebelumnya. Namun, situasi di lapangan menunjukkan bahwa tim asuhan Tavares masih kesulitan mengeluarkan diri dari tekanan lawan.
Badai cedera menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi performa Persebaya Surabaya. Pada pertandingan ini, tim hijau kebanggaan Kota Pahlawan tampil tanpa Risto Mitrevski serta dua striker andalan, Mihailo Perovic dan Bruno Paraiba. Kehilangan tiga pemain kunci tersebut membuat komposisi tim menjadi tidak seimbang sejak awal pertandingan.
Pelatih Bernardo Tavares telah memberi sinyal bahwa kondisi tim tidak ideal menjelang laga ini. Ia mengakui bahwa beberapa pemain sedang cedera dan demam, sehingga sulit untuk mengoptimalkan performa.
“Sayangnya, minggu ini tidak mudah karena beberapa pemain cedera dan demam. Saya harap para pemain bisa beristirahat cukup karena kami memulai perjalanan di malam hari. Jadi, kita juga perlu memiliki sikap ekstra, fokus dan intensitas yang baik,” ujar Tavares dalam sesi konferensi pers.
Ucapan pelatih tersebut seakan menjadi gambaran nyata situasi yang dihadapi Persebaya Surabaya. Perjalanan malam hari, kondisi fisik pemain, hingga tekanan bermain di kandang lawan menjadi kombinasi yang sulit diatasi.
Persijap Jepara tampil percaya diri sejak awal pertandingan. Gol pertama pada menit ke-31 membuat tuan rumah semakin nyaman mengembangkan permainan dan memaksa Persebaya Surabaya lebih banyak bertahan. Upaya Green Force untuk mengejar ketertinggalan kerap terhenti di sepertiga akhir lapangan. Minimnya opsi striker murni membuat serangan yang dibangun tidak cukup tajam untuk mengancam gawang lawan.
Memasuki babak kedua, tekanan dari Persijap Jepara tidak mengendur. Gol kedua pada menit ke-70 lewat Alexis Nahuel Gómez makin mempertebal jarak dan membuat mental pemain Persebaya Surabaya diuji. Persebaya sempat mendapat secercah harapan saat wasit menunjuk titik putih di masa injury time. Bruno Moreira menuntaskan tugasnya dengan baik pada menit 90+3’ dan memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2.
Namun, harapan itu tak bertahan lama karena Persijap Jepara kembali mencetak gol pada menit 90+10’. Iker Guarrotxena Vallejo mencatatkan brace sekaligus mengunci kemenangan 3-1 bagi tuan rumah.
Hasil ini memperpanjang tren negatif Persebaya Surabaya yang kalah dua pertandingan beruntun. Sebelumnya, mereka juga tumbang saat menghadapi Bhayangkara FC pada pekan ke-21. Dua kekalahan tersebut membuat posisi Persebaya Surabaya di klasemen kian tertekan.
Bagi Bonek, mendukung tim di saat sulit justru menjadi ujian kesetiaan. Kesabaran mereka benar-benar ditempa saat Persebaya Surabaya harus kehilangan poin demi poin akibat badai cedera.
Manajemen dan tim pelatih kini dituntut bergerak cepat mencari solusi. Evaluasi besar perlu dilakukan agar tren negatif tidak berlarut-larut dan merusak target musim ini. Bernardo Tavares memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan. Ia harus meracik ulang strategi dengan sumber daya terbatas sembari menunggu para pemain yang cedera kembali pulih.
Selain aspek taktik, pemulihan kondisi fisik pemain juga menjadi kunci. Jadwal padat menuntut rotasi cermat agar tidak muncul korban cedera baru di laga-laga berikutnya. Waktu persiapan pun relatif singkat karena Persebaya Surabaya sudah ditunggu laga berikutnya. Pada pekan ke-23, mereka akan menghadapi PSM Makassar, Rabu (25/2/2026).
Pertandingan tersebut menjadi momentum penting untuk bangkit. Jika kembali gagal meraih poin penuh, tekanan terhadap tim dan pelatih dipastikan semakin besar. Persebaya Surabaya tidak boleh terus-menerus “zakat poin” di tengah kompetisi yang semakin kompetitif. Setiap laga kini terasa seperti final kecil demi menjaga asa dan kepercayaan diri tim.
Di sisi lain, Bonek tentu berharap badai cedera segera berlalu. Dukungan tak akan surut, meski kesabaran terus diuji sepanjang Ramadhan. Persebaya Surabaya masih memiliki kesempatan memperbaiki keadaan. Dengan evaluasi tepat dan mental yang kembali terjaga, Green Force diharapkan mampu menjawab tantangan dan menghentikan tren negatif dalam waktu dekat.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











