"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Daerah  

Dulu Laku Keras, Kini Sulit Terjual, Emas Tambang Bolmong Raya

Kesulitan Penambang Emas di Bolaang Mongondow Raya

Penambang emas di wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR) kini menghadapi tantangan besar dalam menjual emas hasil tambang mereka. Hal ini terjadi karena toko emas di sekitar wilayah tersebut tidak lagi menerima pembelian emas dari para penambang. Alasan utamanya adalah ketakutan terhadap operasi yang dilakukan pihak berwenang.

Kotamobagu, salah satu kota di BMR, menjadi tempat yang biasanya digunakan oleh penambang untuk menjual emas mereka. Namun, saat ini, pasar emas di kotamobagu telah gulung tikar. Akibatnya, penambang harus mencari alternatif lain, seperti menjual ke Manado, yang berjarak sekitar 181 kilometer dari Kotamobagu.

Tegar, salah seorang penambang asal Modayag, mengungkapkan pengalamannya. Ia datang ke Kotamobagu dengan harapan bisa menjual emas, tetapi akhirnya pulang dengan tangan kosong. “Saya datang untuk jual emas, tapi tak ada yang beli,” ujarnya saat ditemui Selasa 3 Maret 2026 di Kotamobagu.

Ia mengatakan bahwa sebelumnya, para penambang lebih mudah menjual emas karena banyak pembeli. Kini, situasi berubah drastis. “Dulu kami yang dicari pembeli, sekarang kami kesulitan,” tambahnya.

Hal serupa juga dialami oleh Sandy, warga Dumoga. Menurutnya, sebagian besar penduduk di wilayah tersebut bergantung pada pertambangan. “Tapi ketika pembeli tak ada, kami yang susah,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa Idul Fitri yang akan segera tiba semakin memperparah kondisi ekonomi para penambang.

Ayah satu orang anak ini mengatakan bahwa operasi yang terjadi dalam dua pekan terakhir sangat mengganggu aktivitas penambang. “Susah sekali. Bahkan ada yang menahan emas mereka hingga dua kilogram,” ungkapnya.

Para penambang berharap ada solusi yang dapat membantu mereka. “Pokoknya semoga ada solusi terbaik bagi kami,” kata Sandy.

Pertemuan dengan Gubernur YSK

Sejumlah penambang rakyat dari wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR) mendatangi Wisma Negara Bumi Beringin, Selasa (3/3/2026), untuk bertemu langsung dengan Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling (YSK). Kedatangan para penambang dipimpin oleh sejumlah tokoh BMR, antara lain Marlina Moha Siahaan, James Tuuk, serta Aditya Moha Siahaan.

Pertemuan tersebut membahas keresahan masyarakat penambang yang kesulitan menjual emas hasil tambang. Kondisi ini bahkan sempat memicu rencana aksi unjuk rasa.

Dalam dialog yang berlangsung hangat, Gubernur YSK menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Ia menjelaskan bahwa persoalan pertambangan rakyat menjadi agenda utama dalam rapat Forkopimda Sulut. Fokusnya mencari jalan keluar agar hasil tambang tetap bisa dijual tanpa melanggar aturan hukum.

Selain itu, YSK juga langsung berkoordinasi dengan Kantor Wilayah Pegadaian Sulut guna membuka akses layanan bagi masyarakat. “Kami pemerintah berusaha menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Masyarakat penambang sabar, karena negara akan hadir membela kalian. Jadi ada solusinya,” tandasnya.

Mendengar penegasan tersebut, suasana ruangan mendadak riuh. Sejumlah penambang yang hadir spontan meneriakkan, “Batal demo… batal demo!” sebagai bentuk dukungan atas solusi yang disampaikan gubernur.

James Tuuk mengungkapkan bahwa Gubernur YSK sangat memikirkan kondisi masyarakat, terlebih menjelang Hari Raya Idul Fitri. “Kami berterima kasih kepada Pak Gubernur yang sudah memfasilitasi. Beliau khawatir kalau masyarakat tidak punya uang saat Lebaran. Saya minta kepada adik-adik penambang dan seluruh masyarakat, solusinya sudah ada. Berpuasalah dengan tenang, jangan demo,” ujarnya.

Aditya Moha Siahaan juga menyampaikan pandangan serupa. Ia mengajak masyarakat bersyukur atas langkah konkret yang diambil pemerintah provinsi. “Pak Gubernur sudah memperjuangkan 63 blok khusus untuk penambang rakyat. Ini legacy, bukan keputusan biasa. Jadi kalau solusinya sudah ditemukan, untuk apa lagi demo,” katanya.


Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *