"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Daerah  

Membuat Karimunjawa Jadi Maldives Jawa Tengah: Ambisi Witiarso Utomo Membangun Surga di Jepara

Potensi Wisata Jepara yang Menanti Pengembangan

Kabupaten Jepara memiliki berbagai potensi alam yang luar biasa. Meskipun dikenal sebagai Kota Ukir, Jepara masih menyimpan kekayaan alam yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Salah satu contohnya adalah Karimunjawa, pulau kecil yang menjadi bagian dari Kabupaten Jepara dan menyimpan kekayaan alam yang tak ternilai. Panorama pemandangan yang menakjubkan, pantai yang elok, adat istiadat penduduk yang bernilai, kuliner khas, serta udara yang bersih menjadikannya sebagai daya tarik yang unik.

Kini, kekayaan alam Karimunjawa mulai dioptimalkan dalam program pembangunan wisata. Dengan tangan dingin kepala daerah Witiarso Utomo, Karimunjawa akan disulap layaknya Maldives Jawa Tengah yang hanya ada di Kabupaten Jepara. Konsep ini bukan sekadar gagasan, namun sudah mulai direalisasikan sejak 2026. Infrastruktur jalan di kepulauan Karimunjawa mulai dikerjakan dengan anggaran Inpres Jalan Daerah (IJD) senilai Rp 55 miliar untuk membuat seluruh jalan di Karimunjawa mulus.

Pembangunan infrastruktur jalan ini akan diimbangi dengan pembangunan sektor kebutuhan lain seperti lampu penerangan jalan, pengembangan destinasi wisata, tempat penginapan, tempat kuliner, cafe, serta sarana fasilitas umum bagi pengunjung. Selain itu, transportasi umum berbasis rakyat juga telah diluncurkan untuk membangun konektivitas masyarakat Karimunjawa dalam segala aspek kesibukan.

Membangun Panggung Wisata yang Terkoneksi

Tujuan utama Witiarso Utomo sebagai nahkoda Jepara 2025-2030 adalah sektor wisata. Bagi dia, destinasi wisata yang ada di Kabupaten Jepara belum sepenuhnya tergarap dengan maksimal. Bahkan tantangan besar adalah konektivitas Karimunjawa dengan Jepara yang belum sepenuhnya terhubung. Menurut dia, Karimunjawa telah menjawab tantangan sebagai destinasi berskala internasional, sehingga tidak heran jika pulau kecil di Kabupaten Jepara tersebut layak disebut sebagai Maldivesnya Jawa Tengah.

Namun, wisatawan yang datang ke Karimunjawa Jawa tidak sepenuhnya paham bahwa Kabupaten Jepara tidak hanya memiliki Karimunjawa. Berbagai potensi lain, baik dalam hal kekayaan alam pegunungan, kerajinan, dan sejarah, belum sepenuhnya dilirik. Pemerintah daerah akan menggerakkan pelaku UMKM yang ada di Kabupaten Jepara agar bisa menjadi daya tarik baru bagi wisatawan yang mampir di Jepara.

Siklus wisata yang ramah, nyaman, dan tentunya asik bakal diramu menjadi satu wisata utuh di Kabupaten Jepara. Dimulai dari Karimunjawa sebagai pionir, tour wisata akan menghantarkan wisatawan melihat bagaimana potensi kekayaan alam yang dimiliki Jepara secara keseluruhan. “Kita belum nyambung, ketika wisatawan ke Karimunjawa, terus pulang ke mana. Kita ajak UMKM bagaimana menahan wisatawan dari Karimunjawa agar bisa stay lebih lama dan berbelanja di Jepara,” ujar Witiarso saat berdiskusi ringan dengan Pemred Tribun Jateng, Ibnu Taufik Juwariyanto, Kamis (5/3/2026) di ruang kerja bupati.

Sulap Rumah Dinas Jadi Museum

Satu ikhtiar pembuka dalam membentuk ekosistem wisata di Jepara adalah menyulap rumah dinas bupati di lingkungan pendopo menjadi Museum R.A Kartini. Museum ini diproyeksikan menjadi magnet wisatawan pada segmentasi anak-anak, secara tidak langsung bakal menarik orangtua sebagai bagian pengunjung proyeksi yang telah disiapkan. Museum R.A Kartini di Pendopo Jepara bakal disulap menjadi museum kelas A. Pemerintah daerah telah mengajukan program revitalisasi museum ke pemerintah pusat agar Museum R.A Kartini bisa naik kelas.

Museum disiapkan jadi destinasi baru berbasis sejarah. R.A Kartini menjadi ikon utama sebuah museum, untuk bisa mengundang daya tarik wisatawan mampir lebih lama di Jepara. “Ini upaya pertama kami, kita buat destinasi baru dan angkat destinasi yang sudah ada. Museum ini bagian dari destinasi baru. Pelan-pelan akan kita garap, antara museum dan Karimunjawa nantinya akan terintegrasi,” tutur dia.

Desa Tempur Jadi Aktor Proyeksi Jangka Panjang

Di sektor pegunungan, Jepara memiliki kekayaan berharga di Desa Tempur, Kecamatan Keling. Desa ini dipercaya sebagai desa tertinggi di Kabupaten Jepara, terletak di lereng pegunungan Muria. Tempur memiliki kekayaan alam berupa destinasi wisata alam yang tidak sembarangan. Tempur juga memiliki sungai yang mengalir arus cukup deras. Potensi ini bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata air berupa rafting.

Di sektor kuliner, Tempur juga memiliki makanan khas pedesaan yang cocok disajikan untuk wisatawan lokal maupun mancanegara. Desa ini juga memiliki potensi kekayaan alam berupa hasil perkebunan kopi yang mulai mendunia. Kekayaan alam Desa Tempur tidak terhitung. Menjadikan tantangan bagi pemerintah daerah dalam membangun ekosistem wisata terintegrasi di Desa Tempur.

Satu upaya yang tengah dilakukan adalah membangun akses jalan yang lebih representatif. Tidak hanya satu akses jalan saja, proyeksi pembukaan akses alternatif juga sedang digarap daerah. “Ini upaya untuk membangun masa depan dunia wisata Jepara ke depan. Kita punya SDA yang luar biasa, tinggal bagaimana mengelola dan menjualnya kepada wisatawan. Kita punya SDA gunung, laut, sejarah. Bagaimana kita menciptakan peta wisata yang saling terhubung,” tegas Witiarso.

Tugas dan tantangan kepala daerah adalah bagaimana membuat wisatawan nyaman dan tidak bosan mampir di Jepara. Karimunjawa sebagai ujung magnet harus punya value tinggi bagi wisatawan. Selanjutnya bagaimana nilai Karimunjawa ini tertularkan pada sektor destinasi wisata lainnya. Berbagai event berskala nasional juga bakal digarap mewarnai perjalanan ekosistem wisata di Jepara dibangun dan terus tumbuh. Dari Jepara menyapa Indonesia dan mampu menyapa dunia global dengan tangan terbuka. “PR kami adalah mengkoneksikan antara destinasi wisata, kuliner, oleh-oleh, fasilitas pendukung seperti penginapan, transportasi, agak terkoneksi jadi paket wisata yang komplit,” ucap dia.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *