"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Misteri Jaringan Kota Rudal Bawah Tanah Iran yang Hampir Tak Terkalahkan

Fasilitas Rudal Bawah Tanah di Iran yang Menjadi Benteng Tak Terkalahkan

Terletak sekitar 500 meter di bawah permukaan gunung di wilayah Yazd, Iran bagian tengah, fasilitas rudal ini lebih mirip dengan benteng raksasa bawah tanah daripada sekadar bunker militer. Struktur kompleks ini dipahat langsung dari granit Shirkuh, salah satu jenis batuan terkeras di Bumi, yang mampu menahan tekanan jauh melebihi material konstruksi biasa.

Lapisan granit tersebut memberikan perlindungan ekstrem terhadap serangan paling canggih, bahkan terhadap bom penghancur bunker seperti GBU-57 Massive Ordnance Penetrator yang dikembangkan oleh Amerika Serikat. Di balik gunung, struktur yang dibangun bukan hanya sekadar pangkalan, tetapi merupakan “kota rudal” tersembunyi yang terdiri dari jaringan terowongan luas, sistem rel otomatis, serta area perakitan dan gudang penyimpanan yang saling terhubung.

Dalam rekaman propaganda Iran, peluncur rudal terlihat bergerak cepat menggunakan truk, keluar dari terowongan untuk menembak, lalu kembali masuk ke dalam bunker melalui pintu baja berat hanya dalam hitungan menit. Ini menunjukkan tingkat efisiensi dan kecepatan operasional yang sangat tinggi.

Tetap Aktif Meski Dihantam Serangan

Meskipun menjadi target serangan intensif oleh Amerika Serikat dan Israel selama berminggu-minggu, Iran tetap mampu meluncurkan rudal dan drone ke berbagai target di Timur Tengah. Menurut Institute for the Study of War, pangkalan rudal Yazd saja dilaporkan telah diserang sedikitnya enam kali sejak konflik dimulai, termasuk pada tanggal 1, 27, dan 28 Maret. Namun, rekaman intelijen sumber terbuka (OSINT) pada 28 Maret justru menunjukkan dua rudal diluncurkan dari lokasi tersebut—meski belum jelas apakah peluncuran itu terjadi sebelum atau sesudah serangan.

Di seluruh Iran, jaringan “kota rudal” serupa disebut tersebar di pegunungan, membentuk sistem pertahanan yang terdistribusi dan sulit dilumpuhkan.

Persenjataan Masih Kuat

Meski mengalami kerusakan, kemampuan militer Iran dinilai masih signifikan. Sumber intelijen Amerika Serikat menyebut Teheran masih memiliki sekitar setengah dari peluncur rudalnya serta ribuan drone. Laporan dari CNN mengungkap bahwa sebagian peluncur mungkin terkubur akibat serangan, namun tidak hancur dan masih berpotensi digunakan kembali.

Selain itu, sebagian besar rudal jelajah pertahanan pantai Iran—yang menjadi ancaman bagi jalur strategis seperti Selat Hormuz—diperkirakan tetap utuh. Israel sebelumnya memperkirakan Iran memiliki sekitar 470 peluncur rudal balistik di awal konflik, dan mengklaim telah menghancurkan atau menonaktifkan sekitar 60 persen di antaranya.

Infrastruktur Bawah Tanah Sulit Dihancurkan

Serangan udara yang dilakukan AS dan Israel memang merusak banyak fasilitas permukaan, seperti pintu masuk terowongan dan ventilasi. Namun, sistem utama di bawah tanah tetap bertahan. Investigasi terbaru menunjukkan sekitar 77 persen pintu masuk terowongan telah diserang, tetapi aktivitas di lokasi-lokasi tersebut kembali berjalan hanya dalam beberapa hari. Alat berat terlihat membersihkan puing dan membuka kembali akses.

Di dalam kompleks, terdapat aula besar yang menampung rudal balistik, drone, dan sistem peluncur, semuanya terhubung oleh jalur transportasi internal untuk mobilisasi cepat. Menurut Royal United Services Institute, menghancurkan fasilitas seperti ini membutuhkan serangan berulang di titik yang sama, intelijen detail, serta operasi berkelanjutan untuk mencegah perbaikan.

Keunggulan Geologi Jadi Benteng Alami

Para ahli menilai kekuatan utama fasilitas ini bukan hanya desainnya, tetapi juga geologi alaminya. Granit mampu menyerap dan menyebarkan energi ledakan, sehingga mengurangi efektivitas bom besar sekalipun. Analis militer Shanaka Anslem Perera menyebut bahwa “gunung itu sendiri adalah pertahanan,” menegaskan bahwa struktur alami yang terbentuk ratusan juta tahun lalu menjadi perisai yang hampir mustahil ditembus.

Pakar terowongan Dr. Amichai Mittelman menambahkan bahwa pegunungan di Iran dapat memberikan perlindungan setebal 50–100 meter batuan keras, membuatnya sangat sulit ditembus bahkan oleh amunisi berat. Selain itu, sistem terowongan dirancang berlapis, dilengkapi pintu tahan ledakan, banyak jalur akses, serta ventilasi yang tersembunyi—sebagian bahkan berfungsi sebagai umpan untuk mengecoh serangan.

Tantangan Operasi Militer

Menargetkan pintu masuk hanya memberikan efek sementara karena jaringan di dalamnya tetap utuh. Operasi darat pun bukan solusi mudah, karena kompleks ini sangat luas, dalam, dan berisiko tinggi untuk dimasuki. Ahli rudal Tal Inbar dari Missile Defense Advocacy Alliance menilai bahwa untuk benar-benar melumpuhkan sistem ini, setiap fasilitas harus ditangani satu per satu—tugas yang sangat sulit dilakukan dalam skala besar.

Iran Masih Melawan

Di tengah serangan berkelanjutan, Iran tetap meluncurkan rudal ke Israel dan negara-negara Teluk. Dalam eskalasi terbaru, Teheran bahkan menyerang fasilitas energi di kawasan tersebut, termasuk di Kuwait dan Abu Dhabi. Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps juga mengklaim telah menembak jatuh jet tempur F-35 AS—meski klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Sementara itu, Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras, menyatakan militer AS “belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran,” bahkan mengancam akan membawa negara itu “kembali ke Zaman Batu.”

Infrastruktur, Bukan Sekadar Senjata

Para analis menilai ketahanan Iran bukan semata karena jumlah senjata, melainkan karena infrastruktur yang dibangun selama puluhan tahun. Perera menegaskan bahwa keberlanjutan serangan Iran bukan soal stok rudal, melainkan jaringan logistik di dalam gunung. “Roket bisa diganti. Tapi jalur kereta di dalam gunung itu permanen. Dan granit yang melindunginya sudah ada jauh sebelum manusia ada,” ujarnya.

Dengan jaringan bawah tanah yang luas, tersembunyi, dan sangat terlindungi, “kota rudal” Iran kini menjadi salah satu tantangan militer paling kompleks yang dihadapi dunia modern.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *