"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

7 Film yang Bikin Studio Bangkrut, Kerugian Besar

Studio Film Terancam Bangkrut, Kerugian Besar Akibat 7 Film Ini

pojokmedan.com – Sejumlah film membuat studionya gulung tikar meski dibintangi oleh artis terkenal. Deretan film tersebut tidak berakhir dengan kesuksesan dan bahkan dinyatakan gagal total.

Setelah memperhitungkan biaya produksi dan promosi, film ini hanya menghasilkan USD3,3 juta atau Rp52,3 miliar, yang tidak cukup untuk menutup biaya produksi yang mencapai USD6,3 juta atau Rp99,9 miliar.

Di balik megahnya produksi dan promosi besar-besaran, beberapa film ini justru menjadi bencana finansial yang melumpuhkan studio pembuatnya. Mulai dari pengeluaran produksi yang membengkak hingga kegagalan menarik penonton.

Kisah film-film ini menjadi pelajaran pahit tentang risiko besar dalam dunia perfilman. Apa saja film yang berhasil mencatat sejarah kelam ini? Berikut daftarnya dilansir dari pojokmedan.com, Senin (25/11/2024).

7 Film yang Buat Studionya Gulung Tikar

1. Battlefield Earth (2000)

7 Film yang Buat Studionya Gulung Tikar, Bangkrut Rugi Besar

Foto/pojokmedan.com

Dibintangi oleh John Travolta, Battlefield Earth (2000) adalah film bencana fiksi ilmiah yang dianggap memanjakan diri sendiri untuk Scientology. Travolta secara pribadi menyumbang USD5 juta atau Rp79 miliar dari dananya sendiri, dari anggaran USD73 juta atau Rp1,1 triliun.

Film ini dikritik secara luas dan bahkan menerima penghargaan Razzie karena kualitasnya yang buruk. Film ini dikenal karena humornya yang tidak pada tempatnya dan tidak menghibur. Franchise Pictures, redaksi pojokmedan.com di balik film tersebut, menghadapi masalah hukum karena menipu investor, yang akhirnya menyebabkan kebangkrutan mereka.

2. It’s a Wonderful Life (1946)

7 Film yang Buat Studionya Gulung Tikar, Bangkrut Rugi Besar

Foto/pojokmedan.com

It’s a Wonderful Life (1946) tetap menjadi salah satu film Natal yang paling digemari, bahkan 70 tahun setelah dirilis. Selain itu, film ini menerima lima nominasi Academy Award pada 1947. Namun, setelah dirilis pada bulan Desember 1946, film ini kesulitan untuk menghasilkan keuntungan.

Setelah memperhitungkan biaya produksi dan promosi, film ini hanya menghasilkan USD3,3 juta atau Rp52,3 miliar, yang tidak cukup untuk menutup biaya produksi yang mencapai USD6,3 juta atau Rp99,9 miliar.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *