Para astronom di Observatorium Radio MeerKAT Afrika Selatan berhasil mendeteksi gelombang radio pertama yang berasal dari Komet Antarbintang 3I/ATLAS. Meskipun istilah “sinyal radio” sering kali menimbulkan spekulasi tentang keberadaan aktivitas luar angkasa, temuan ini justru memberikan bukti bahwa komet tersebut memiliki asal-usul alami.
Deteksi sinyal radio ini terjadi tepat saat 3I/ATLAS melewati titik tengah dalam perjalanannya melalui Tata Surya kita. Penemuan ini menjadi penting karena memberikan informasi lebih lanjut mengenai komposisi dan perilaku komet antarbintang yang langka ini.
Bukan Transmisi Alien, Tapi Molekul Air yang Terurai
Komet 3I/ATLAS adalah objek antarbintang ketiga yang diketahui melintasi lingkungan kosmik kita. Objek ini pertama kali terlihat pada awal Juli, melesat menuju Matahari dengan kecepatan lebih dari 210.000 km/jam. Sebagian besar peneliti sepakat bahwa komet ini mungkin merupakan yang tertua dari jenisnya yang pernah dilihat, terlontar dari sistem bintang asing di “perbatasan” Bima Sakti hingga 7 miliar tahun lalu.
Tepat saat komet mendekati titik terdekatnya dengan Matahari (perihelion) pada 29 Oktober, astronom MeerKAT mengumumkan deteksi emisi radio pertama dari 3I/ATLAS. Namun, sinyal tersebut tidak memiliki asal-usul teknologi. Sebaliknya, sinyal itu adalah hasil dari penyerapan panjang gelombang spesifik yang terkait dengan keberadaan radikal hidroksil (hydroxyl radicals, atau molekul OH) di koma komet.
Radikal ini terbentuk dari penguraian molekul air saat mereka dikeluarkan dari komet melalui proses alami yang dikenal sebagai outgassing. “Ini adalah hasil dari penyerapan panjang gelombang spesifik yang terkait dengan keberadaan radikal hidroksil, atau molekul OH, di koma komet,” demikian keterangan ilmiah di balik sinyal tersebut, dikutip Live Science.
Menurut studi tahun 2016, hal ini merupakan tanda jelas dari aktivitas komet. Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa air tersebut sedang dipecah oleh radiasi Matahari—seperti yang diperkirakan terjadi selama perihelion.
Menepis Spekulasi Liar Berulang Kali
Ini bukanlah kali pertama ilmuwan melihat bukti air dari 3I/ATLAS. Pada awal Oktober, peneliti NASA sempat melihat air menyembur dari komet seperti selang pemadam kebakaran yang menyala penuh.
Selain sinyal radio, 3I/ATLAS telah menunjukkan beberapa karakteristik yang memicu spekulasi konspirasi, termasuk permukaan yang sangat teradiasi, kelebihan karbon dioksida, dan anti-tail yang membingungkan. Namun, semua ciri-ciri ini telah dijelaskan dengan baik oleh komunitas astronomi, yang hampir dengan suara bulat yakin bahwa 3I/ATLAS adalah objek alami.
Bahaya alien lain yang terhubung dengan komet ini juga kandas minggu ini, setelah astronom mendeteksi objek yang hampir antarbintang lain, yaitu C/2025 V1 (Borisov), yang ternyata adalah komet Tata Surya biasa. Laporan tentang kemungkinan 3I/ATLAS meledak karena kehilangan massa berlebihan juga telah dibuktikan tidak benar oleh observasi terbaru.
Beberapa faktor yang membuat 3I/ATLAS menarik perhatian para ilmuwan antara lain:
- Asal Usul Antarbintang: Komet ini berasal dari luar Tata Surya, sehingga memberikan data penting tentang kondisi di luar sistem tata surya kita.
- Aktivitas Kimia: Deteksi molekul air dan radikal hidroksil menunjukkan bahwa komet ini aktif secara kimia, meskipun tidak memiliki sumber daya teknologi.
- Perjalanan Ekstrem: Kecepatan tinggi dan lintasan yang unik menjadikannya objek yang sangat langka untuk dipelajari.
- Pengaruh Radiasi Matahari: Proses penguraian molekul air oleh radiasi Matahari memberikan wawasan tentang bagaimana objek antarbintang bereaksi dalam lingkungan tata surya.
Dengan terus dipantau dan dipelajari, 3I/ATLAS akan tetap menjadi salah satu objek antarbintang yang paling menarik bagi para ilmuwan.











