Kondisi Cuaca Ekstrem di Indonesia Akhir Tahun 2025
Beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Pulau Sumatra, telah menghadapi cuaca ekstrem sejak November 2025. Bencana alam seperti banjir dan longsor menimpa tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Dampaknya sangat memilukan dengan korban jiwa yang mencapai angka yang sangat tinggi.
Dari laporan yang diterima, sebanyak 708 orang meninggal dunia akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi tersebut. Rincian korban berbeda-beda antar wilayah. Di Sumatra Utara, tercatat 294 orang meninggal dan 155 lainnya hilang. Sementara itu, di Aceh, jumlah korban meninggal mencapai 218 jiwa, dengan 227 jiwa masih hilang. Di Sumatra Barat, BNPB mencatat 165 korban meninggal dan 114 lainnya hilang.
BMKG memberikan peringatan tentang cuaca ekstrem yang belum berakhir hingga menjelang puncak mobilitas libur Natal dan Tahun Baru 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa akhir tahun ini ditandai oleh peningkatan risiko hidrometeorologi, mulai dari hujan ekstrem hingga gangguan atmosfer skala besar.
Wilayah yang Terancam Cuaca Ekstrem
BMKG merilis potensi cuaca ekstrem yang akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa dan kawasan penyangga Jakarta. Wilayah-wilayah tersebut diprediksi mengalami curah hujan tinggi akibat kombinasi fenomena cuaca global. BMKG memperkirakan bahwa pada minggu kedua Desember hingga awal Januari, aktivitas Monsoon Asia akan meningkat, sehingga memicu curah hujan lebih tinggi di berbagai wilayah.
Monsoon Asia merujuk pada wilayah luas di benua Asia—meliputi Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Timur—yang memiliki iklim yang didominasi oleh sistem angin muson (monsoon) tahunan yang kuat. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa jenis bencana yang mendominasi pada akhir tahun meliputi hujan ekstrem, angin kencang, petir merusak, puting beliung, hujan es, dan jarak pandang terbatas yang dapat mengganggu penerbangan maupun pelayaran.
Ancaman Dampak Bibit Siklon
Selain itu, sejumlah anomali atmosfer seperti Madden Julian Oscillation, gelombang Kelvin, Rossby Equator, serta seruak dingin Siberia turut memperkuat potensi hujan ekstrem. BMKG menegaskan bahwa bibit siklon tropis berpotensi muncul di wilayah selatan Indonesia. Daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa–Bali, NTB, NTT, Maluku, hingga Papua Selatan dan Tengah.
Meskipun Indonesia tidak berada pada jalur siklon, anomali cuaca dapat mengubah pola tersebut. BMKG mengingatkan kembali kasus Siklon Senyar yang menyebabkan kerusakan luas dan hujan ekstrem lebih dari 380 mm per hari di Aceh beberapa waktu lalu.
Pada periode 28 Desember hingga 10 Januari, hampir seluruh wilayah Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi Selatan, hingga Papua Selana diperkirakan mengalami hujan tinggi hingga sangat tinggi dengan intensitas 300–500 mm per bulan. Selain hujan ekstrem, potensi banjir rob juga perlu diperhatikan, terutama di pesisir Jakarta, Banten, dan Pantura Jawa Barat.
Operasi Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi
Sebagai langkah mitigasi, BMKG bersama BNPB melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di tiga bandara, yakni Sultan Iskandar Muda (Aceh), Kualanamu (Sumut), dan Bandara di Padang. Upaya ini dilakukan untuk menurunkan hujan di wilayah tidak terdampak atau mencegah hujan di zona rawan bencana melalui penyemaian NACL atau Calcium Oxide.
“OMC hanya bisa dilakukan bila gubernur menetapkan status siaga darurat. Tanpa itu, operasi tidak bisa dijalankan karena biaya dan risikonya sangat besar,” kata Faisal.
Cuaca di Sulawesi Tenggara
BMKG memprediksi wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) akan mulai memasuki musim penghujan pada November 2025. Informasi tersebut disampaikan Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faizal Habibie saat dikonfirmasi, Senin (3/10/2025). Namun, ia mengatakan hujan yang terjadi pada periode tersebut masih tergolong normal, sedangkan puncak musim hujan terjadi pada April 2026.
Prediksi tersebut berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer yang menunjukkan indeks El Nino–Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase netral. Kondisi ini menandakan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis berada pada rata-rata normal. Tidak menunjukkan pengaruh kuat dari fase El Nino (hangat) maupun La Nina (dingin).
Wilayah Sultra memiliki 17 kabupaten kota yang terbagi menjadi wilayah kepulauan dan daratan. Wilayah kepulauan yang berbatasan langsung dengan laut yakni Kabupaten Wakatobi, Muna, Muna Barat, Konawe Kepulauan, Buton, Buton Utara, Buton Selatan, Buton Tengah dan Kota Baubau. Sementara wilayah daratan yakni Kota Kendari yang memiliki teluk, Kabupaten Konawe Selatan, Konawe Utara, Konawe, Bombana, Kolaka, Kolaka Utara yang juga masih berbatasan dengan laut, dan Kolaka Timur yang tidak berbatasan dengan laut.
Faizal menjelaskan, saat ini posisi matahari bergerak menuju selatan bumi membuat suhu maksimum di wilayah Sultra menurun. Hal ini juga menandai berakhirnya periode panas ekstrem yang biasa terjadi pada musim kemarau. Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, longsor, angin kencang, jalan licin, dan pohon tumbang.
“Cek selalu informasi cuaca dari kanal resmi kami agar langkah mitigasi bencana dapat dilakukan dengan baik sehingga dampaknya bisa diminimalisir,” jelasnya.











