JAKARTA,
Rumah seluas 3 x 4 meter yang terletak di RT 15 RW 01, Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, kini sedang dalam proses renovasi. Rumah tersebut milik pasangan suami istri Tatang (71) dan Sumiati (68), yang sebelumnya tinggal bersama 11 anggota keluarga di dalamnya.
Saat berkunjung ke lokasi pada Senin (15/12/2025), proses perbaikan rumah dua lantai itu masih berlangsung. Ketua RT 15, Sugandi, menyampaikan bahwa progres renovasi telah mencapai sekitar 40 persen. Ia menjelaskan bahwa pengerjaan dimulai sejak tanggal 24 November 2025, dan saat ini sudah mencapai 40 persen dari total proyek.
Renovasi untuk Meningkatkan Kualitas Hunian
Sugandi mengatakan bahwa renovasi dilakukan pada lantai satu dan lantai dua rumah. Berdasarkan rencana, rumah tersebut akan memiliki tiga kamar tidur, yaitu satu kamar di lantai satu dan dua kamar di lantai dua. Selain itu, rumah juga akan dilengkapi dengan satu kamar mandi dan dapur sederhana.
Untuk menghubungkan lantai satu dan dua, akan dibangun tangga. Menurut instruksi dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), tangga tersebut harus menggunakan bahan besi.
Anggaran dan Sumber Dana
Anggaran yang dialokasikan untuk renovasi rumah Tatang mencapai Rp 100 juta. Material yang digunakan adalah bata ringan untuk dinding, campuran semen dan pasir. Untuk kusen pintu dan jendela, akan menggunakan bahan aluminium, bukan kayu.
Sugandi menambahkan bahwa dana renovasi berasal dari iuran gotong royong berbagai pihak. Pengerjaan renovasi diserahkan kepada kontraktor dengan melibatkan pekerja lokal. Ia juga menyebutkan bahwa Menteri PKP Maruarar Sirait beserta jajarannya turut berkontribusi dalam dana perbaikan.
Selain itu, pihak kecamatan dan kelurahan juga ikut berpartisipasi melalui iuran. “Ini adalah program Renovasi Rumah Gotong Royong yang diinisiasi langsung oleh Pak Menteri,” ujar Sugandi.
Renovasi Rumah Lainnya
Tidak hanya rumah Tatang, renovasi juga menyasar rumah milik keluarga Sobri. Anggaran renovasi rumah Sobri lebih besar karena luas bangunan lebih besar, yaitu sebesar Rp 130 juta. Sugandi menargetkan kedua rumah tersebut rampung pada Januari 2026.
Selama proses renovasi, seluruh penghuni rumah sementara tinggal di rumah kos. Rencananya, Menteri PKP Maruarar Sirait akan menyerahkan kunci rumah secara langsung kepada pemilik setelah pembangunan selesai sepenuhnya.
Kondisi Awal Rumah yang Tidak Layak Huni
Sebelum direnovasi, rumah Tatang dan Sumiati menjadi sorotan usai dikunjungi Menteri Maruarar Sirait pada Jumat (14/11/2025). Di dalam rumah tersebut, mereka tinggal bersama sembilan orang lainnya, termasuk dua anak, dua menantu, serta cucu-cucu mereka.
Total ada 11 orang yang tinggal di rumah tersebut, sehingga mereka harus berhimpitan saat beraktivitas baik siang maupun malam hari.
Kondisi Rumah yang Mengkhawatirkan
Saat dilihat, lantai satu rumah dipenuhi berbagai perabotan seperti televisi, kulkas, meja makan, dispenser, lemari, hingga penanak nasi. Ada juga kasur lantai yang digunakan tiga cucu untuk tidur siang.
Di sudut ruangan berukuran 3×4 meter itu terdapat kamar mandi kecil beserta toilet yang digunakan oleh seluruh penghuni. Saat naik ke lantai dua, Tatang dan Sumiati menunjukkan atap seng yang sudah berlubang.
Mereka mengatakan, air sering masuk ketika hujan turun. Ember atau wadah lain kerap dipasang untuk menampung air yang menetes. Hujan deras yang mulai terjadi di Jakarta membuat mereka was-was.
Masalah Tikus dan Kondisi Kesehatan
Selain terkena air hujan, keluarga ini sering digigit tikus saat tidur pada malam hari. Cucu-cucu mereka pun mengalami hal yang sama. Tikus-tikus berasal dari lubang di dinding rumah.
“Ya, kami sering digigit tikus. Bahkan cucu-cucu juga digigit. Untung bisa dihalau. Kalau malam memang banyak tikus,” ungkap Rusmini.
Selama masa hidupnya di rumah sempit dan tidak layak huni, keluarga ini terus berharap agar kondisi dapat diperbaiki. Dengan adanya renovasi, mereka berharap dapat hidup lebih nyaman dan aman.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











