"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Bisnis  

Terungkap, Pembelian Lahan Raksasa Rp4,5 Triliun Milik APLN di Bali

Perubahan Strategi APLN di Tengah Fluktuasi Ekonomi

Di tengah dinamika sektor properti Indonesia yang terus bergerak akibat fluktuasi ekonomi global, sebuah transaksi besar baru saja mengguncang pasar. PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), salah satu pengembang superblok dan hunian mewah ternama, baru saja menjual aset lahan seluas 8 hektar di Bali. Lahan ini sebelumnya direncanakan sebagai bagian dari ekspansi ambisius perusahaan.

Pertanyaan besar yang muncul adalah siapa pembeli lahan tersebut? Sebelum membahas identitas pembeli, strategi APLN dalam menghadapi tantangan ekonomi dinilai sebagai langkah tepat. Sejak berdiri pada tahun 2003, APLN telah membangun imperium dengan proyek ikonik seperti Podomoro City di Jakarta, Podomoro City di Deli Serang, Borneo Bay City di Balikpapan, dan Bukit Podomoro Jakarta, dengan total aset mencapai triliunan rupiah.

Namun, 2025 menjadi tahun transisi bagi APLN. Pandemi pasca-Covid, kenaikan suku bunga BI, serta lesunya daya beli masyarakat memaksa perusahaan ini untuk segera beradaptasi. Pada 11 Desember 2025, APLN menyelesaikan penjualan seluruh saham di PT Karya Pratama Propertindo, entitas yang mengelola lahan 8 hektar di Ubud, Bali, sekaligus pemilik dan operator Sofitel Bali Ubud Resort & Spa.

Transaksi senilai Rp 4,5 triliun ini melibatkan entitas anak APLN, PT Kencana Unggul Sukses (KUS). Hasilnya, APLN berhasil mengurangi utang sebesar Rp 4,5 triliun serta menambah kas untuk mendanai proyek unggulan seperti Podomoro Park Bandung dan ekspansi di Medan. Meskipun transaksi ini tidak termasuk dalam kategori material atau afiliasi menurut POJK OJK, langkah ini jelas merupakan strategi cerdas untuk meningkatkan likuiditas.

Tren Industri Properti 2025

Divestasi ini mencerminkan tren industri properti 2025, di mana developer besar seperti APLN beralih dari ekspansi agresif ke optimalisasi aset. Bali, dengan kontribusi 15 persen terhadap PDB pariwisata nasional, tetap menjadi magnet utama. Namun, lahan kosong yang semula untuk pengembangan hotel kini berpindah tangan.

Identitas pembeli lahan APLN di Bali adalah konsorsium dua perusahaan, yaitu PT Puri Dibya Property dan PT Hartons Property Development. Transaksi ini ditandatangani pada 11 Desember 2025, dengan keduanya mengakuisisi seluruh 100 persen saham PT Karya Pratama Propertindo.

Lokasi lahan berada di kawasan Ubud yang hijau dan strategis dekat pusat pariwisata Bali, ideal untuk resor mewah atau mixed-use development. Nilai aset ini tidak hanya terletak pada tanahnya, tetapi juga potensi sinergi dengan Sofitel, merek global Accor yang sudah mapan di sana.

Profil Pembeli: PT Puri Dibya Property dan PT Hartons Property Development

PT Puri Dibya Property adalah pemain lama di sektor properti ritel dan hospitalitas. Didirikan pada awal 2000-an, perusahaan ini berbasis di Depok dengan kantor pusat di Jalan Margonda Raya No. 358. Rekam jejak pengembang ini adalah Margocity Mall, ikon ritel Depok seluas 100.000 meter persegi yang dibuka pada 2009. Mal ini menarik 10 juta pengunjung per tahun dengan tenant seperti Uniqlo, H&M, dan bioskop XXI.

Selain itu, perusahaan juga memiliki The Margo Hotel, fasilitas akomodasi bintang 4 yang berada di atas mal, dengan 150 kamar dan fasilitas spa. Hotel ini mencatat okupansi rata-rata 80 persen pre-pandemi, pulih ke 75 persen pada 2025 berkat promo digital.

Sementara itu, PT Hartons Property Development adalah perusahaan spesialis pengembangan properti residensial dan komersial premium, yang berbasis di Jakarta. Fokus mereka pada lokasi strategis seperti Bali dan Jabodetabek. Proyek awal mereka adalah villa eksklusif di Nusa Dua, Bali, berkolaborasi dengan investor asing. Salah satu proyeknya, “Hartons Villas”, memiliki catatan ROI 25 persen dalam 3 tahun berkat desain eco-friendly yang menekankan pada panel surya dan nol sampah.

Pada 2023-2025, Hartons terlibat dalam joint venture dengan pengembang Eropa untuk hotel butik di Seminyak. Tahun ini, Hartons menyelesaikan Tahap 1 apartemen mewah di Kuta, dengan fasilitas infinity pool dan co-working space, dengan target ekspatriat milenial.

Tanggapan dari Corporate Secretary APLN

Corporate Secretary APLN, Justini Omas, menyatakan bahwa transaksi ini sangat strategis karena meningkatkan dana kas perusahaan. Sebagai perusahaan properti, divestasi aset merupakan salah satu strategi APLN untuk memperkuat fundamental dan mendukung ekspansi pada proyek-proyek bernilai tinggi.

Justini menambahkan, aset lahan Bali masih kosong, tapi potensinya tak terbatas, dan APLN yakin pembeli akan memaksimalkan itu. “Kami optimistis, divestasi ini justru buah manis strategi adaptif,” ujarnya, dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Senin (15/12/2025), merujuk sukses serupa seperti penjualan Pullman Vimala Hills yang lunasi utang sambil bangun hotel baru di Bali.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *