"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Sejarah emas perempuan tangguh di SEA Games 2025



Di lapangan panahan SEA Games 2025, Bangkok, angin berhembus dengan cepat dan tidak menentu. Terkadang menguat, terkadang menghilang, membuat atlet harus selalu siap membaca kembali setiap keputusan yang diambil.

Diananda Choirunisa merasakan hal ini sejak awal pertandingan. Angin menjadi ujian teknik dan juga tantangan untuk mengambil risiko. Di tengah situasi tersebut, atlet yang akrab disapa Anis ini berhasil menutup kompetisi dengan dua medali emas. Ia menyebut hasil ini sebagai bukti dari kerja tim selama setahun penuh, yang patut disyukuri.

Meski target pribadinya lebih tinggi, dua emas ini cukup menjadi penegas bahwa proses yang ia jalani selama ini tidak melenceng. Beberapa jam sebelum bertanding, Anis baru menyadari satu hal penting: ia sedang hamil. Tanpa rencana dan persiapan mental, kabar itu datang begitu saja. Ia menerimanya dengan tenang, tanpa panik. Baginya, ini adalah bagian dari rezeki dan karunia Tuhan, yang datang bersamaan dengan kesempatan bertanding di panggung olahraga Asia Tenggara.

Bayi dalam kandungan Anis terbukti sangat pengertian. Rasa mual trimester pertama hanya hadir di pagi dan malam hari, tetapi menghilang ketika ia mulai membidik. Fokusnya tidak terbelah. Ia bertanding seperti biasa, seolah tubuh dan pikirannya sepakat untuk menjaga ritme hingga pertandingan selesai.

Di babak penentuan, skor sempat berjalan di angka yang tidak menguntungkan. Beberapa kali anak panah berhenti di tujuh, yang membuat keunggulan Anis memudar. Di titik itu, Anis tidak mengubah teknik secara drastis. Ia memilih mempercayai kemampuannya sendiri, satu keputusan mental yang kemudian membuka jalan menuju angka sempurna.

Pelatih panahan Indonesia, Hendra Setijawan, menyaksikan langsung situasi tersebut. Ia menilai kondisi angin saat itu tergolong ekstrem, bahkan bisa menghilangkan kestabilan bidikan hingga separuhnya. Dalam situasi seperti itu, menurut Hendra, ruang untuk koreksi teknis hampir tidak ada. Yang tersisa hanyalah ketegasan mengambil keputusan.

Hendra melihat Anis sebagai atlet dengan karakter berani. Dalam latihan, dia tidak terlalu terpaku pada skor, melainkan pada rasa dan alur gerak. Pendekatan itu membuatnya lebih cepat menemukan feeling, terutama ketika tekanan datang. Bagi Hendra, keberanian semacam itu tidak bisa dibentuk secara instan, ia lahir dari jam latihan panjang dan kepercayaan pada diri sendiri.

Saat mengetahui Anis hamil, respons tim pelatih bukan kekhawatiran berlebihan, melainkan dukungan. Hendra memandang kondisi tersebut sebagai bagian dari kehidupan atlet putri yang harus dipahami, bukan dihindari. Ia memberi penguatan mental, meyakinkan bahwa hari pertandingan adalah hari untuk fokus penuh, tanpa membiarkan pikiran lain mengganggu.

Ke depan, jeda menjadi pilihan yang realistis. Asian Games kemungkinan dilewatkan oleh Anis, latihan akan disesuaikan dan ritme kompetisi ditata ulang. Namun bagi Anis dan tim pelatih, arah besarnya tetap sama. Olimpiade masih menjadi tujuan akhir.

Hendra menyadari absennya Anis nanti akan meninggalkan ruang kosong, tetapi program harus tetap berjalan. Bagi Anis, perjalanan ini belum selesai. Ia pernah jatuh, pernah kehilangan gairah hingga melihat busur pun terasa berat saat gagal di Olimpiade 2024.

Dukungan keluarga, terutama orang tua, perlahan menariknya kembali ke lintasan. Tidak jauh dari arena menembak, tersebutlah shooting range yang masih dalam kawasan Sports Authority of Thailand. Dengan cerita yang serupa.

Dewi Laila Mubarokah, petembak peraih dua emas SEA Games 2025, juga membawa janin di dalam perutnya saat bertanding. Bedanya, Dewi sempat melalui kegalauan akan rencana-rencana yang tentu saja akan banyak berubah. Dia ingin mengejar Olimpiade, sama seperti Anis. Hanya saja, Dewi berpikir keras tentang bagaimana cara agar impian Olimpiadenya tercapai, dengan kehadiran kehidupan baru di dalam perut.

Kehidupan seorang perempuan yang sedang mengandung akan berubah. Seorang ibu hamil banyak pantangannya. Harus banyak menyamankan diri dari kesusahpayahan mengandung janin sembilan bulan. Bukan dengan tekanan tinggi kompetisi olahraga, atau kerasnya program latihan. Itulah yang menjadi pertimbangan Dewi. Tapi pada akhirnya, Dewi dan Fathur Gustafian, suaminya yang juga atlet petembak, memutuskan untuk sama-sama menguatkan.

Tidak cukup dua. Kontingen Indonesia punya tiga orang perempuan peraih emas yang juga sedang berjuang dalam proses kehamilan. Di sana, jauh dari kawasan Rajamangala, International Master (IM) Medina Warda Aulia bertanding dengan kondisi kehamilan yang lebih berat di The Bazzar Hotel, Bangkok.

Jika Dewi dan Anis bertanding dengan keadaan hamil muda, Medina sudah mulai merasakan nyeri dan pegal-pegal di punggung akibat massa janin, rahim, dan plasenta yang semakin berat. Usia kandungan Medina memasuki awal trimester tiga, tujuh bulan, janin dalam perutnya sudah makin berat dan membesar. Tapi justru Medina yang menjadi tumpuan tim putri catur cepat quadruple yang menang melawan Vietnam di babak final.

Mungkin olahraga Medina tidak menuntut fisik, namun tekanan kompetisi yang dialaminya saat turnamen tetap akan dirasakan si bayi kecil di dalam perut. Kaum perempuan, para calon ibu, para ibu, memang lebih tahan merasakan sakit.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *