JAKARTA, —
Selama tahun 2025, Jakarta Barat sering kali dihiasi oleh kepulan asap hitam dan suara sirene pemadam kebakaran. Banyak kejadian kebakaran besar terjadi sepanjang tahun ini, yang tidak hanya menghancurkan bangunan di permukiman padat, tetapi juga meninggalkan dampak sosial dan ekonomi yang dalam bagi ribuan warga kelas menengah ke bawah.
Dari lorong-lorong sempit di Tambora hingga kawasan padat penduduk di Palmerah, api tidak hanya melalap rumah, tetapi juga memutus mata pencaharian dan memaksa ratusan keluarga tinggal di pengungsian. Di Jakarta Barat, khususnya wilayah Tambora dan Tamansari, banyak rumah semi permanen berdiri berhimpitan tanpa celah. Lebar lorong gang yang tidak lebih dari rentangan tangan orang dewasa kerap hanya bisa dilalui satu sepeda motor. Kondisi ini membuat proses pemadaman menjadi tantangan besar ketika kebakaran terjadi. Tak jarang, api dengan cepat merambat dan melompat dari satu rumah ke rumah lain sebelum petugas berhasil menjinakkannya.
Berikut adalah rangkuman rekam jejak sejumlah kebakaran besar yang mengguncang Jakarta Barat sepanjang tahun 2025:
Kebakaran 86 rumah di Tambora
Pertengahan tahun menjadi pembuka catatan kelam rangkaian kebakaran di Tambora, Jakarta Barat, kawasan yang dikenal sebagai salah satu permukiman terpadat di Asia Tenggara. Pada Senin (21/7/2025) sekitar pukul 09.00 WIB, kepanikan melanda warga Jalan Garuda, RW 02, Kelurahan Duri Utara, Tambora, setelah api muncul dari sebuah rumah. Api yang dipicu korsleting listrik tersebut merambat cepat dan melahap puluhan rumah lainnya. Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat mengerahkan 145 personel dan 29 unit armada untuk memadamkan api. Namun, akses jalan yang hanya cukup dilalui dua sepeda motor menjadi hambatan utama. Mobil pemadam berukuran besar (High Pressure Pump) tak mampu menjangkau titik api. Petugas terpaksa melakukan estafet penggelaran selang sepanjang ratusan meter di tengah kepanikan warga yang berusaha menyelamatkan harta bendanya. Akibat kebakaran tersebut, 86 unit rumah hangus dan rata dengan tanah. Sebanyak 100 keluarga atau sekitar 400 jiwa kehilangan tempat tinggal.
Ratusan rumah hangus di Tamansari
Kebakaran di Kelurahan Tangki, Tamansari, Jakarta Barat, pada Minggu (28/9/2025), menjadi salah satu peristiwa paling kelam sepanjang tahun ini. Lurah Tangki, Iqbal Rahmat Thahir, menyebutkan api menghanguskan ratusan rumah warga di kawasan permukiman padat seluas 10.406 meter persegi. Sebanyak 270 rumah hangus terbakar dan 1.256 jiwa dari 317 kepala keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal. Seperti di Tambora, akses jalan yang sempit kembali menjadi kendala bagi mobil pemadam kebakaran untuk mencapai titik api. “Akhirnya ya warga mengatasinya dengan estafet, diulur selangnya ke dalam. Mobilnya diletakkan di dekat sumber air,” jelas Iqbal kepada di lokasi kejadian, Senin (29/12/2025). Kebakaran bermula dari korsleting listrik di sebuah toko alat tulis kantor (ATK) di Jalan Gang Langgar I pada Minggu sore. Cuaca ekstrem dan angin kencang mempercepat perambatan api yang dengan cepat melompat ke bangunan lain. Api sempat dilokalisasi setelah tiga jam pemadaman, namun kembali menyala sekitar pukul 18.00 WIB. Saat warga beristirahat, api kembali muncul pada Senin (29/12/2025) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB dan 04.30 WIB di sejumlah lorong gang. “Dari semalam ya gitu, nyala lagi, nyala lagi, berkali-kali. Sekarang aja masih banyak yang berasap. Ini hujan alhamdulillah biar pendinginan lah sisa kebakarnya,” kata Ipah, warga setempat. Hingga lebih dari 24 jam setelah kejadian, api masih muncul dari balik reruntuhan dan memicu kepanikan.
Ledakan kabel SUTT PLN di Jatipulo
Kebakaran besar berikutnya terjadi di RW 04 Jatipulo, Palmerah, Jakarta Barat, pada Minggu (16/11/2025). Peristiwa ini menimbulkan kepanikan karena bukan disebabkan kompor atau korsleting rumah, melainkan ledakan kabel Menara Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) milik PLN. Sekitar pukul 17.00 WIB, warga mendengar ledakan keras yang disusul putusnya kabel SUTT yang melintas tepat di atas permukiman Gang Pelita 08. Ledakan tersebut memicu percikan api di berbagai titik dan menyebabkan kebakaran serentak di sekitar 50 rumah warga. “Jadi memang awalnya itu ada dentuman besar, yang didengar warga,” ujar Ketua RW 04 Jatipulo, Maulana Sani, Minggu. Dentuman besar itu datang dari putusnya kabel SUTT dan percikannya menyebabkan api muncul serentak di beberapa titik, membuat warga dan petugas kesulitan memadamkan api. “Jadi saat kebakaran itu memang langsung ada di beberapa titik, jadi ada sekitar 3 atau empat titik langsung. Jadi di sini dimatiin, di sana ada lagi,” sambungnya. Sebanyak 29 unit mobil pemadam kebakaran dan 145 personel dikerahkan. Api berhasil dilokalisasi sekitar pukul 17.17 WIB. Namun, dalam waktu singkat tersebut, 40 rumah hangus terbakar dan sekitar 350 jiwa harus mengungsi ke Lapangan Taman Jati.
Kebakaran Wijaya Kusuma Grogol
Menjelang Natal dan Tahun Baru, kebakaran kembali terjadi di kawasan Wijaya Kusuma, Grogol Petamburan, Senin (22/12/2025). “Objek terdampak total tujuh rumah tinggal, satu kos-kosan. Warga terdampak 35 KK dan 109 jiwa harus mengungsi, peristiwa sekitar pukul 18.30 WIB,” jelas Kapusdatin BPBD Jakarta, Yohan kepada, Selasa (23/12/2025). Api baru berhasil dipadamkan sepenuhnya setelah hampir empat jam pemadaman. Proses pendinginan berlangsung hingga menjelang tengah malam. “Pemadaman selesai pada Senin, 22 Desember 2025, pukul 20.30, pendinginan selesai pukul 23.12 WIB,” kata Yohan. Ketersediaan air kembali menjadi kendala utama. Petugas harus berulang kali menambah armada pemadam. “Segera kami terjunkan 10 unit armada. Tapi karena kami kesulitan air, sumber air jauh, diterjunkan lagi 10 unit. Jadi totalnya 20 unit armada,” jelas Bintara Data Sudin Gulkarmat Jakarta Barat, Anwar. Total delapan rumah hangus terbakar dan 53 jiwa kehilangan tempat tinggal.
Bertahun-tahun, ancaman kebakaran menjadi momok menakutkan bagi warga Jakarta Barat, terutama di kawasan permukiman padat seperti Tambora dan Tamansari. Saat api muncul, petugas pemadam kerap dihadapkan pada medan sempit, akses terbatas, dan sumber air yang jauh—kondisi yang membuat setiap menit menjadi penentu antara rumah yang terselamatkan dan permukiman yang lenyap.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











