Perjuangan Warga Aceh Tamiang Pasca Banjir Bandang
Misnawati tidak bisa menahan air mata saat melihat lahan perkebunannya berubah menjadi tumpukan gelondongan kayu. Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang akhir November lalu, memang tidak menghancurkan rumahnya. Namun, air bah tersebut telah mengambil satu-satunya mata pencaharian Misnawati selama ini.
“Dari sanalah (berkebun) periuk kami. Jadi, sekarang kadang kami cari pakis, sawi hutan, dan daun pisang untuk dijual demi bisa kasih jajan anak,” kata warga Desa Batu Bedulang, Kecamatan Bandar Pusaka, tersebut saat ditemui Kompas.com, Rabu (31/12/2025).
Misnawati mengaku tidak pernah membayangkan sebelumnya gelondongan kayu-kayu besar itu turun ke desanya saat banjir bandang melanda. Misnawati dan warga lainnya kini hanya bisa pasrah. Akan tetapi, mereka tetap berusaha untuk bangkit demi kebutuhan hidup ke depannya.
“Sedih sekali melihat tumpukan kayu itu, Pak. Kami hanya bisa mengucap dan salat, kalau tidak, saya rasa bisa masuk rumah sakit jiwa, betul Pak,” ujar Misnawati.
Di balik tumpukan gelondongan kayu tersebut, kini setiap hari Misnawati dan beberapa ibu rumah tangga lainnya hanya bisa mengambil dan memilih kayu-kayu kering untuk memasak. Warga terpaksa harus menggunakan kayu bakar lantaran kondisi gas elpiji sulit dan tidak juga punya uang untuk membelinya.
“Duit sudah enggak ada, kebun kami sudah enggak ada lagi,” katanya. “Ya sekarang daripada kami beli gas, lebih bagus kalau ada duit untuk jajan anak dan beli beras,” tambah Misnawati.
Misnawati belum tahu seperti apa nasibnya ke depan. Dia hanya menginginkan kondisi ini bisa cepat berakhir. “Sedih kami, Pak, gimanalah enggak ada lagi (kebun), usaha hilang,” tuturnya menangis.
Salah seorang ibu rumah tangga lainnya, Masni, juga mengeluhkan hal sama. Setiap hari bersama sang anak mencari kayu bakar demi kebutuhan memasak di rumah. “Susah cari gas, harganya juga mahal. Karena bencana seperti ini jadi mungkin semua dinaikkan. Sudah sebulan kesulitan cari gas, alternatifnya ya kami cari kayu,” katanya.
Kondisi Aceh Tamiang 36 Hari Pasca Bencana
Debu pekat tebal menutupi jalanan Kabupaten Aceh Tamiang. Lumpur sisa banjir masih mewarnai halaman rumah warga. Beberapa di antaranya ada yang berusaha membersihkan dan juga dibiarkan begitu saja beserta tumpukan perabotannya.
Aktivitas lalu lalang kendaraan baik roda dua maupun empat di Kabupaten Aceh Tamiang kini cukup padat. Beberapa titik bahkan terjadi kemacetan panjang. Sesekali suara sirine mobil pemadam kebakaran dan ambulans melintas di tengah keramaian.
Di beberapa titik pinggiran jalan lintas nasional, sekelompok anak-anak memegang kotak kardus dan juga mangkuk plastik. Tidak ada kata-kata bertuliskan permohonan bantuan, tetapi mereka mengulurkan tangan kepada setiap pengendara melintas. “Bang saya satu, Bang. Bang saya mau juga, terima kasih Bang,” teriak anak-anak saat kebagian buah markisa dari salah satu mobil bak terbuka.
Memasuki kawasan Kota Kuala Simpang, lumpur sisa banjir juga masih cukup tebal di depan pertokoan warga. Belum ada pembersihan signifikan meski kondisi sudah berlangsung selama 36 hari pascabencana. Di Jalan Cut Nyak Dien, aktivitas ekonomi warga perlahan mulai bangkit. Para pedagang menjajarkan dagangannya di sepanjang kawasan jalan tersebut. Namun, di beberapa titik, puing-puing bekas banjir dan lumpur juga masih ada.
Sementara di Jalan Iskandar Muda, toko-toko masih banyak tutup. Para pemilik terlihat membersihkan barang dagangannya dan juga sisa lumpur di pinggiran jalan. “Apa juga sudah bersih, ini di Kota Kuala Simpang saja masih ada sisa lumpur, apalagi di depan rumah warga,” kata relawan dari Banda Aceh, Reza, saat ditemui di Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (31/12/2025).
Harapan Warga Pasca Bencana
Warga Desa Menang Gini, Kecamatan Karang Baru, Aji Saputra, kini tidak lagi menaruh harapan banyak. Dia hanya bisa pasrah atas kondisi yang dihadapi pasca-ditimpa musibah banjir badang yang melanda desanya. Desa Menang Gini termasuk salah satu desa terdampak parah akibat banjir. Kawasan ini sempat terisolasi akibat tumpukan ribuan gelondongan kayu yang menyebabkan putusnya akses jalan warga.
“Parah sekali desa kami. Kalau seandainya enggak ada Pesantren Darul Mukhlishin, tidak tahu mau bilang apa lagi, mungkin habis kami semua,” kata Aji pada Kompas.com.
Sementara ini, Aji sudah tidak ada lagi pekerjaan, rumahnya pun telah hilang dilumat banjir. Satu-satunya jalan untuk bertahan hidup hanya berharap dari bantuan yang datang. “Kita lihat saja ke depannya seperti apa. Mudah-mudahan ada perubahan biar cepat selesai. Kalau aktivitas warga selama ini tidak ada, ya hanya berharap bantuan,” ujarnya.
Aji mengaku penanganan dampak banjir di wilayahnya masih berjalan sangat lambat, padahal sudah berjalan satu bulan lebih. Bahkan, di awal-awal pasca bencana, bantuan yang datang cuma dari relawan. “Bantuan di awal-awal yang masuk cuma dari relawan, dari relawanlah cepat. Mereka membantu diawal-awal,” katanya.
Khusus di Desa Menang Gini, saat ini warga membutuhkan perlatan untuk memasak. Selama ini, warga hanya mengandalkan peralatan sisa banjir dan juga menggunakan kayu bakar. “Untuk masak sebagian memang di dapur umum. Tapi, ada juga yang masak sendiri, cari kayu,” ujarnya.
Agar bencana ini bisa cepat pulih, Aji mengharapkan pemerintah bisa menetapkan status bencana nasional. Banjir bandang telah memporak-porandakan seluruh Aceh Tamiang dan beberapa wilayah di kabupaten/kota lainnya. Alasan Aji meminta status tersebut karena ingin penanganan dampak banjir ini berjalan dengan cepat sehingga masyarakat bisa beraktivitas kembali seperti sediakala.
Aji menginginkan agar orang luar (dunia internasional) ikut membantu memulihkan Aceh Tamiang. “Kami maunya bencana ini kayak bencana nasional supaya bisa cepat membaik. Kami tidak mungkin seperti ini saja,” ujarnya. “Kalau bantuan dari luar negeri penanganannya bisa lebih cepat, kalau kayak gini seharusnya penanganan cepat bisa jadi enggak cepat, itu yang saya harapkan. Kalau bisa bencana nasional, kenapa saya bilang seperti itu, biar cepat kelar gitu,” tuturnya.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











