Inspirasi dari Mesin Tua yang Menghadirkan Chopper Tradisional
Christoph Cycle di Bantul menawarkan sesuatu yang berbeda dalam dunia motor custom. Di tengah tren gaya kustom modern yang rapi dan presisi, mereka justru memilih untuk menciptakan chopper yang terasa jujur dan apa adanya. Proyek ini dimulai dari sebuah mesin tua Inggris yang kemudian diubah menjadi motor dengan karakter mekanis dan estetika tradisional.
Bahan utama dari proyek ini adalah mesin Triumph T140 US lima percepatan dengan posisi perseneling kiri. Erick, pemilik sekaligus builder Christoph Cycle, mengakui bahwa awalnya tidak ada rencana besar ketika ia mendapatkan mesin tersebut. Ia hanya merasa tertarik pada mesin itu karena sifatnya yang unik.
Mesin tersebut disimpan cukup lama, menunggu waktu yang tepat untuk digarap. Pada saat itu, Erick sedang sibuk dengan berbagai proyek lain. Namun, mesin ini tetap menjadi prioritas karena memiliki potensi yang menarik.
Pemilihan mesin Triumph T140 US memberikan fondasi yang menarik. Di era ketika banyak motor Inggris masih menggunakan perseneling kanan, versi US dengan perseneling kiri menawarkan pengalaman berkendara yang lebih familiar bagi banyak orang. Erick menilai hal ini menjadi nilai lebih tersendiri, terutama bagi pengendara yang tidak terbiasa dengan konfigurasi klasik Inggris.
Karakter mesin twin khas Triumph tetap dipertahankan, dengan denyut mekanis yang terasa hidup dan respons yang jujur, khas mesin tua. Saat pertama kali didapat, kondisi mesin jauh dari kata siap pakai. Erick menyebut mesin tersebut belum pernah direbuild dan kondisinya masih berantakan. Proses restorasi pun dilakukan perlahan, tanpa target waktu yang kaku.
Rebuild dilakukan tahap demi tahap untuk memastikan mesin kembali sehat, tanpa menghilangkan karakter aslinya. Pendekatan ini sejalan dengan filosofi chopper tradisional yang lebih mengutamakan rasa dan fungsi dibanding sekadar tampilan bersih.
Sejak awal, Erick memang sudah membayangkan motor ini akan dibentuk sebagai chopper tradisional. Prosesnya panjang karena motor ini merupakan milik pribadi dan sempat beberapa kali disisihkan. Namun konsep dasarnya tidak pernah berubah. Rangka dan proporsi dibentuk ramping, menciptakan siluet motor yang slim dan ringan secara visual.
Erick menegaskan bahwa kesan tradisional itu justru muncul dari kesederhanaan bentuk. “Dari bentuknya sih, karena motornya lebih slim ya, mungkin jadi terlihat tradisionalnya,” katanya.
Salah satu elemen paling mencolok dari motor ini adalah pilihan roda. Christoph Cycle memasang pelek depan ring 23 dengan ban besar, dipadukan dengan pelek belakang ring 19. Kombinasi ini bukan hanya jarang dipakai, tetapi juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses pengerjaan.
Erick menyebut pencarian velg depan ring 23 beserta bannya sebagai bagian paling sulit dari proyek ini. Di sisi lain, detail ini justru menjadi penentu karakter motor, meski sering luput dari perhatian orang awam. “Ya mungkin perpaduan ban depan belakangnya, jarang yang tau kalau ban depan belakangnya nggak seperti biasanya, belakang 19 depan 23,” ujar Erick.
Secara visual, kombinasi roda tersebut mempertegas kesan chopper klasik dengan stance depan yang tinggi dan agresif, sementara bagian belakang tetap proporsional dan padat. Pilihan ini juga memengaruhi rasa berkendara.
Meski menggunakan mesin tua dengan karakter khas, Erick menilai motor ini tetap nyaman digunakan berkat bodinya yang ramping. Menurutnya, sensasi berkendara yang dihasilkan tidak jauh berbeda dari motor klasik lain yang pernah ia garap, namun terasa lebih ringan dan menyenangkan karena proporsi tubuh motor yang slim.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











