Tren Penerbitan Obligasi Korporasi yang Meningkat pada 2025
Pada tahun 2025, penerbitan obligasi korporasi di Indonesia mencapai angka tertinggi dalam enam tahun terakhir. Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa sebanyak 181 emisi obligasi korporasi telah diterbitkan oleh 78 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), dengan total dana yang terkumpul mencapai Rp215,6 triliun.
Beberapa perusahaan besar memang aktif menerbitkan obligasi dengan nilai yang cukup besar. Contohnya, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) menerbitkan PUB Obligasi Berkelanjutan V SMART dengan target dana sebesar Rp5 triliun. Sementara itu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) mengeluarkan Obligasi dan Sukuk Wakalah Berkelanjutan Tahap I Tahun 2025 senilai Rp1 triliun.
PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) juga turut serta dengan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan III Mayora Indah Tahap III Tahun 2025 sebesar Rp827,55 miliar. Di sisi lain, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) melanjutkan program PUB Obligasi Berkelanjutan I dengan melepas Obligasi Tahap II Tahun 2025 senilai Rp721,61 miliar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa jumlah penerbitan obligasi korporasi pada 2025 menjadi yang terbanyak dalam enam tahun terakhir. Pada tahun sebelumnya, yaitu 2024, terdapat 144 penerbitan obligasi korporasi. Sementara itu, pada 2023 dan 2022 masing-masing tercatat 120 dan 123 penerbitan obligasi korporasi.
Faktor Pendukung Lonjakan Penerbitan Obligasi Korporasi
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian menjelaskan bahwa faktor utama yang mendorong lonjakan penerbitan obligasi korporasi pada 2025 adalah siklus penurunan suku bunga baik secara domestik maupun global. Bank Indonesia (BI) melakukan pemangkasan suku bunga secara agresif sebanyak 125 basis poin hingga ke level 4,75% pada 2025.
“Penurunan suku bunga ini memicu emiten untuk menerbitkan obligasi korporasi, terutama karena kebutuhan akan refinancing dan ekspansi di tengah tren kondisi ekonomi yang mulai membaik,” ujarnya.
Fajar menilai bahwa penerbitan obligasi korporasi pada 2026 masih akan positif. Mengacu data BEI, terdapat 20 emisi dari 13 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline. Salah satunya adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang berencana menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Chandra Asri Pacific Tahap I Tahun 2025 senilai Rp1,5 triliun. Obligasi tersebut merupakan bagian dari rencana total dana sebesar Rp6 triliun.
Prediksi Penerbitan Obligasi Korporasi pada 2026
Menurut Fajar, tren penerbitan obligasi korporasi pada 2026 masih akan positif, seiring dengan berlanjutnya siklus pemangkasan suku bunga dan pelonggaran moneter di dalam dan luar negeri. Terutama di AS, ekspektasi pelonggaran moneter akan menjadi salah satu faktor penting.
Selain itu, sentimen yang memengaruhi minat penerbitan obligasi korporasi adalah stabilnya yield surat berharga negara (SBN) serta rendahnya volatilitas nilai tukar rupiah. Hal ini didorong oleh ekspektasi melemahnya dolar AS pada 2026.
Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen Putri Nur Astiwi juga menyatakan bahwa penerbitan obligasi korporasi meningkat pada 2025 karena BI memangkas suku bunga acuannya 125 basis poin pada 2025. “Biaya pendanaan menjadi lebih murah. Selain itu, kebutuhan refinancing yang tinggi dan preferensi emiten mencari pendanaan domestik di tengah volatilitas global serta diversifikasi pembiayaan juga menjadi faktor pendukung,” kata Putri.
Menurutnya, ramainya penerbitan obligasi korporasi akan terus berlanjut pada 2026 seiring dengan tren penurunan suku bunga acuan yang juga berlanjut. Selain kebutuhan refinancing, penerbitan juga didorong oleh kebutuhan pendanaan belanja modal (capital expenditure/capex) dan modal kerja yang meningkat secara selektif seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi.
Kebijakan dan Proyeksi Masa Depan
Dalam proyeksi masa depan, penerbitan obligasi korporasi diharapkan tetap positif. Hal ini didukung oleh kebijakan moneter yang relatif longgar, khususnya di tengah situasi global yang dinamis. Emisi obligasi korporasi tidak hanya menjadi alternatif pendanaan, tetapi juga menjadi sarana bagi perusahaan untuk memperkuat posisi keuangan mereka.
Kemungkinan besar, tren ini akan terus berlangsung selama ada kebutuhan mendesak untuk ekspansi bisnis atau pengembangan proyek strategis. Dengan demikian, penerbitan obligasi korporasi tidak hanya menjadi indikator kesehatan pasar modal, tetapi juga cerminan dari optimisme perusahaan terhadap prospek ekonomi nasional dan global.











