Perpanjangan Status Darurat Sampah di Tangerang Selatan
Tangerang Selatan menghadapi krisis sampah yang berkepanjangan, sehingga pemerintah setempat memperpanjang status darurat sampah hingga 19 Januari 2026. Evaluasi terbaru menunjukkan bahwa kondisi lapangan belum sepenuhnya terkendali, meskipun sejumlah titik telah ditangani.
Pemkot Tangsel berjanji untuk memaksimalkan pengiriman sampah ke lokasi sementara dan mempercepat pembersihan harian. Namun, warga masih mengeluhkan bau menyengat dan penumpukan sampah yang terus-menerus.
Penanganan Fokus pada Titik Aktivitas Warga
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan perpanjangan status darurat dilakukan setelah evaluasi menunjukkan masih banyak titik yang belum tertangani tuntas. “Hasil dari evaluasi kemarin, tanggap darurat sampah di Tangerang Selatan sudah kita perpanjang,” ujar Benyamin saat dikonfirmasi, Jumat (9/1/2026).
Selama masa perpanjangan, penanganan difokuskan pada pusat aktivitas warga, seperti pasar dan ruas jalan utama. Beberapa lokasi, seperti Pasar Cimanggis dan Pasar Jombang, disebut telah ditangani. Namun, sisa tumpukan masih terlihat di sejumlah trotoar dan jalan utama.
Penanganan juga dilakukan di kawasan permukiman. “Di luar itu juga ada penanganan sampah di titik-titik yang lainnya ya. Di dalam, di perumahan, dan seterusnya,” kata Benyamin.
Mengapa Penanganan Masih Belum Selesai?
Status darurat sampah berakhir pada 5 Januari, tetapi tumpukan sampah tidak langsung hilang. Di Pasar Cimanggis, Ciputat, dan Jombang, sampah masih menggunung dan meluber ke badan jalan. Air lindi mengalir, disertai bau menyengat yang mengganggu pedagang dan pengunjung.
Hartini (42), pedagang sayur di Pasar Cimanggis, mengatakan kondisi memburuk sejak akhir Desember karena pengangkutan tidak dilakukan menyeluruh. “Pengennya diangkut setiap hari biar bersih, jadi enggak meluber ke pinggir jalan,” kata Hartini.
Pedagang lainnya, Doni Putra (31), menyebut pasar juga menjadi lokasi pembuangan sampah warga dari luar kawasan. “Ada juga orang luar yang buang ke sini, bayar sekitar Rp 3.000 atau seikhlasnya ke yang nungguin,” ujar Doni.
Masalah diperparah setelah TPA Cipeucang ditutup sementara untuk penataan. Akibatnya, pengangkutan dari permukiman tersendat dan warga memilih membuang sampah ke pasar.
Demo Mahasiswa dan Keluhan Publik
Ketidakpuasan publik memuncak saat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menggelar aksi di Kantor Wali Kota Tangsel dengan membawa dua truk sampah. Aksi simbolis membuang sampah di halaman kantor wali kota sempat diadang Satpol PP hingga terjadi adu mulut.
“Kita datang ke sini damai pak. Kita cuma datang, buang sampah, terus menyampaikan beberapa pernyataan kita, abis kita pulang,” ujar Ketua BEM UMJ Muhammad Iqbal Ramdhani.
Mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan “Buang sampahnya atau pemerintah!” dan “Tangsel darurat sampah!”. Mereka menuntut pengangkutan menyeluruh, penambahan armada, evaluasi Dinas Lingkungan Hidup, serta transparansi kebijakan pengelolaan sampah.
Langkah Pemkot Selama Masa Perpanjangan
Di tengah tekanan publik, Pemkot Tangsel menyiapkan langkah darurat dan jangka panjang. Sampah dialihkan sementara ke Cileungsi, Bogor, setelah uji coba pembuangan ke TPA Cilowong, Serang, dihentikan. “Ini solusi jangka pendek. Kami telah menjalin kesepakatan untuk mengalihkan pembuangan sampah ke Cileungsi,” kata Benyamin.
Sekitar 200 ton sampah per hari dikirim ke Cileungsi selama 14 hari. Tubagus Asep menambahkan, Pemkot juga memperkuat sistem pengelolaan internal. “Langkah Pemerintah Kota Tangerang Selatan tidak hanya berfokus pada penanganan jangka pendek, tetapi juga pada penguatan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh,” jelasnya.
Sejumlah strategi disiapkan, mulai dari pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, optimalisasi armada, hingga kerja sama lintas daerah dan pengembangan waste to energy.
Meski begitu, bagi pedagang pasar, perpanjangan status darurat belum menjawab persoalan di lapangan. “Harapannya kalau sudah penuh langsung diangkut semua. Jangan sedikit-sedikit, biar enggak numpuk lagi,” kata Doni.
Selama pengangkutan belum kembali normal, krisis sampah masih menjadi masalah harian bagi warga Tangerang Selatan.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











