"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Daerah  

Sumitra dan Anaknya Belum Ditemukan, Operasi SAR di Sungai Paguyaman Dihentikan

Penutupan Operasi Pencarian Korban Hanyut di Sungai Paguyaman

Operasi pencarian dua korban yang hilang di Sungai Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, resmi dihentikan oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Gorontalo setelah tujuh hari tanpa hasil. Keputusan ini diambil setelah dilakukan evaluasi menyeluruh dan kesepakatan bersama keluarga korban.

Kepala Seksi Operasi Kantor Pencarian dan Pertolongan Gorontalo, Halidin La Bidu, menjelaskan bahwa hingga hari terakhir operasi, keberadaan kedua korban belum berhasil ditemukan. Pernyataan ini disampaikannya saat dikonfirmasi pada Jumat (9/1/2026). Ia menambahkan bahwa kegiatan pencarian pada hari penutupan dimulai sejak pagi hari dan berlangsung hingga sekitar pukul 11.30 Wita.

Setelah itu, seluruh unsur SAR kembali ke posko utama karena hasil pencarian masih nihil. “Pencarian hari ini dilakukan sejak pagi sampai sekitar pukul 11.30 Wita. Setelah itu tim kembali ke posko, namun hasilnya belum ada,” ujar Halidin.

Ia menjelaskan bahwa sejak hari pertama operasi hingga hari terakhir, tim SAR telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh area pencarian yang telah disisir. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, tidak ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada keberadaan korban. “Dengan mempertimbangkan luas wilayah pencarian yang sudah dijangkau sejak hari pertama, kami menyimpulkan belum ada indikasi keberadaan korban di area tersebut,” katanya.

Atas dasar itu, Basarnas Gorontalo kemudian menggelar pertemuan bersama keluarga korban yang hadir langsung di posko pencarian. Dalam pertemuan tersebut turut hadir ayah dan suami korban, kerabat keluarga, serta Kepala Desa setempat. “Sekitar pukul 14.30 Wita kami melakukan pertemuan dengan keluarga korban dan mengusulkan agar operasi SAR dihentikan,” jelas Halidin. Setelah mendapat persetujuan keluarga, operasi SAR dinyatakan resmi ditutup pada pukul 14.30 Wita.

Meski demikian, Halidin menegaskan bahwa penghentian ini tidak bersifat permanen. “Operasi SAR memang kami hentikan, namun tetap dilanjutkan dengan pemantauan. Jika ke depan ada informasi baru atau tanda-tanda keberadaan korban, maka operasi bisa kembali dibuka,” ujarnya.

Peran Tim SAR dalam Operasi Pencarian

Pada hari terakhir pencarian, tim SAR melakukan penyisiran mulai dari lokasi kejadian perkara (LKP) hingga menyusuri aliran Sungai Paguyaman ke arah wilayah Jemara. Pencarian melibatkan sekitar 40 personel gabungan dari berbagai unsur. “Personel Basarnas sekitar 14 orang, ditambah unsur TNI, Polri, dan potensi SAR lainnya. Total personel yang terlibat kurang lebih 40 orang,” kata Halidin.

Selama proses pencarian, tim menghadapi sejumlah kendala di lapangan, terutama kondisi arus sungai yang masih cukup deras. Hal ini dipengaruhi oleh cuaca yang belum stabil dalam beberapa hari terakhir. “Saat kejadian, arus sungai memang masih deras akibat hujan. Dalam proses pencarian pun beberapa kali hujan deras kembali turun di lokasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut membuka kemungkinan korban terseret arus hingga jarak yang jauh atau tertimbun material sungai akibat banjir. “Debit air cukup tinggi dan arusnya kuat. Ada kemungkinan korban sudah terbawa jauh atau tertimbun material di dasar sungai,” ujarnya.

Imbauan kepada Masyarakat

Di akhir keterangannya, Halidin mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat beraktivitas di sekitar sungai di tengah kondisi cuaca yang belum menentu. “Kami mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada terhadap kondisi cuaca dan pergerakan air sungai, serta mengawasi anggota keluarga, terutama anak-anak, saat hujan atau cuaca tidak baik,” katanya.

Latar Belakang Korban

Diketahui, korban dalam peristiwa ini adalah Sumitra Isini (26) dan anaknya, Akbar Diangi (9). Keduanya dilaporkan hanyut sejak Sabtu (3/1/2026). Insiden tersebut terjadi saat korban bersama seorang kerabat menyeberangi Sungai Paguyaman. Ketiganya saling berpegangan tangan saat melintas di tengah arus sungai, namun derasnya aliran membuat pegangan mereka terlepas.

Akbar sempat berteriak memanggil ibunya sebelum akhirnya terseret arus. Sumitra kemudian melepaskan pegangan untuk mencoba menolong sang anak, tetapi arus sungai yang kuat justru menyeret keduanya. Sementara satu orang lainnya berhasil menyelamatkan diri dengan berpegangan pada batang kayu di sungai.

Selama operasi berlangsung, tim SAR sempat menemukan beberapa barang milik korban di aliran sungai. Namun hingga hari ketujuh pencarian, Sumitra dan Akbar belum berhasil ditemukan.

Bagi keluarga, peristiwa ini meninggalkan duka mendalam. Sehari sebelum kejadian, Sumitra diketahui masih sempat melakukan panggilan video dengan kerabatnya. Percakapan singkat tersebut kini menjadi kenangan terakhir yang tersisa bagi keluarga.


Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *