Peristiwa Puting Beliung di Desa Kotayasa, Banyumas
Puting beliung yang menerjang Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, pada Jumat (16/1) sore, menyebabkan kepanikan dan kerusakan ratusan rumah warga. Dalam hitungan menit, angin berputar datang dari arah utara, mengangkat seng dan atap rumah hingga beterbangan.
Slamet (60), warga RT 3 RW 3, Desa Kotayasa, sekaligus pemilik rumah yang terdampak, mengatakan kejadian berlangsung sangat singkat namun dampaknya luar biasa. Ia mengungkapkan bahwa seng terbawa angin semua, dengan angin yang sangat kencang berputar. Menurut Slamet, awal mula kejadian ditandai dengan munculnya pusaran angin dari arah utara. Warga yang melihat kejadian itu langsung keluar rumah sambil berteriak memperingatkan warga lainnya.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 17.30 WIB waktu menjelang maghrib. Saat kejadian, Slamet dan keluarganya masih berada di dalam rumah. Mereka tidak mengungsi ke pos pengungsian, melainkan hanya berpindah ke rumah tetangga dan saudara. Soal kerugian Slamet belum bisa memperkirakan. Untuk sementara ini, dia hanya memperbaiki atap rumahnya saja.
Kesaksian serupa disampaikan Dila (24), warga RT 5 RW 3 Desa Kotayasa. Ia menyebut angin puting beliung muncul sekitar pukul 17.00 WIB lebih, disertai hujan yang menurutnya tidak terlalu deras. Ia mengatakan bahwa angin berputar tepat di depan rumahnya dan bergerak dari arah utara lalu menghilang ke arah selatan. Setelah kejadian, seng-seng atap rumah warga berserakan di jalan.
Saat peristiwa berlangsung, Dila memilih bertahan di dalam rumah bersama ibu dan anaknya yang masih kecil karena takut keluar. Rumah Dila sendiri hanya mengalami kerusakan ringan pada bagian seng depan. Namun, rumah yang berada tepat di depan kediamannya mengalami kerusakan cukup parah.
Data Kerusakan dari BPBD Banyumas
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Banyumas, Dwi Irawan, menyampaikan data sementara jumlah rumah terdampak angin puting beliung di Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang. Di RW 03, rumah terdampak tersebar di enam RT, yakni RT 11 sebanyak 17 kepala keluarga (KK), RT 03 sebanyak 29 KK, RT 02 sebanyak 29 KK, RT 04 sebanyak 43 KK, RT 05 sebanyak 35 KK, serta RT 01 sebanyak 3 KK. Total terdampak di RW 03 mencapai 156 KK.
Selain itu, di RW 05 terdapat rumah terdampak di RT 07 sebanyak 9 KK dan RT 01 sebanyak 4 KK, dengan total 13 KK. “Jumlah total rumah rusak mencapai 169 rumah,” kata Dwi Irawan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 165 rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang, sementara empat rumah lainnya mengalami rusak berat.
Respons Pemerintah Daerah
Camat Kecamatan Sumbang, Hermawan Novianto, mengatakan pascakejadian puting beliung, pihaknya langsung menggelar apel siaga bencana pada Sabtu pagi. “Kejadian puting beliung paling hanya lima menit, tapi karena cuaca dan daerah titik tertinggi yang dilintasi angin, dampaknya cukup besar,” ujar Hermawan. Ia memastikan tidak ada korban luka dalam peristiwa tersebut. Namun, kerusakan didominasi oleh atap dan seng rumah warga yang terlepas dan beterbangan.
Tidak ada yang terluka, tapi atap atau sengnya berterbangan, katanya. Hermawan menambahkan, tidak ada warga yang mengungsi ke pos pengungsian. Namun, tercatat sebanyak 69 kepala keluarga memilih mengungsi sementara ke rumah saudara. “Tidak ada yang mengungsi, hanya 69 KK mengungsi ke tempat saudara,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi bahaya lanjutan, pada Jumat malam dilakukan pemadaman listrik di wilayah terdampak. Langkah tersebut diambil karena terdapat sejumlah kabel listrik yang terlepas. “Semalam juga dilakukan pemadaman listrik karena kabel-kabel juga ada yang terlepas untuk meminimalisir strum listrik,” ucap Hermawan. BPBD Banyumas akan menyiapkan dapur umum lapangan untuk membantu kebutuhan warga terdampak.
Pengalaman Masyarakat
Hermawan menyebut kejadian puting beliung di wilayah pegunungan sebenarnya sudah beberapa kali terjadi. Namun, dampak kerusakan rumah seperti di Desa Kotayasa baru kali ini dirasakan warga. “Kejadian puting beliung area wilayah pegunungan sudah banyak terjadi, tapi kalau terdampak baru kali ini. Kalau kemarin-kemarin kan hanya pohon tumbang,” terangnya.











