"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Daerah  

Duka Ibu Tatu, Detik-Detik Kehilangan Lula Lahfah untuk Selamanya: Perjuangan Tanpa Henti

Kehilangan yang Mendalam

Sehari setelah prosesi pemakaman yang mengharukan, Tatu kembali bersimpuh di pusara putri tercintanya dengan duka yang masih terasa begitu menyesakkan dada. Kepergian Lula Lahfah menyisakan luka yang dalam bagi keluarga dan para penggemarnya.

Tatu mengungkapkan bahwa dirinya tidak mendapatkan firasat atau komunikasi langsung dari Lula pada hari nahas tersebut. Namun, di tengah perjalanan menuju rumah sakit, sebuah pesan susulan datang bagaikan petir di siang bolong, kondisi kritis itu berubah menjadi kabar duka.

Awan kelabu seolah enggan beranjak dari kediaman keluarga selebgram Lula Lahfah. Kepergian kekasih Reza Arap ini menyisakan luka yang amat dalam setelah ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya, kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pada Jumat petang (23/1/2026). Kesedihan itu memuncak pada raut wajah sang ibunda, Tatu Yulyanah.

Kabar yang Meruntuhkan Dunia

Momen tragis itu bermula tanpa tanda-tanda. Tatu mengungkapkan bahwa dirinya tidak mendapatkan firasat atau komunikasi langsung dari Lula pada hari nahas tersebut. Kabar menyedihkan itu justru pertama kali mampir melalui suara telepon keponakannya yang mengabarkan kondisi kritis sang putri.

“Aku cuma dapat kabar dari keponakanku. Katanya, anak aku kritis,” kata Tatu Yulyanah dengan suara bergetar, menahan tangis di kawasan Cakung, Jakarta Timur, Minggu (25/1/2026). “Aku disuruh ke RS Fatmawati,” sambungnya. Panik dan penuh harap, Tatu langsung memacu kendaraan menuju rumah sakit. Namun, di tengah perjalanan, sebuah pesan susulan datang bagaikan petir di siang bolong. Kondisi kritis itu berubah menjadi kabar duka.

“Terus aku disuruh ke sana. Terus di tengah jalan, dia bilang langsung ke ruang jenazah… ngomong gitu,” ucap Tatu terbata-bata mengingat momen memilukan tersebut.

Fase Denial dan Heningnya Dunia Tatu

Sesampainya di rumah sakit, realita seolah berhenti berputar bagi Tatu. Kehadiran sahabat-sahabat Lula yang datang silih berganti tak lagi mampu ia sadari sepenuhnya. Panca indranya seolah lumpuh akibat syok yang teramat berat.

“Pas sampai sana, temannya Lula, kayak Gibson datang satu per satu semuanya datang. Di situ aku udah blank banget. Jadi siapapun yang datang nyalamin aku, aku enggak tahu siapa itu semuanya. Mata aku udah enggak tahu gimana, kuping juga kayaknya kayak suara ‘nging’,” jelasnya menggambarkan kekalutan batinnya saat itu. Dalam kondisi mental yang terguncang, Tatu sempat berada di fase penolakan (denial). Ia belum sanggup menerima kenyataan bahwa putrinya telah pergi. Bahkan, ia sempat melarang siapa pun, termasuk suaminya, untuk melantunkan ayat suci di dekat jenazah karena keyakinan batinnya bahwa Lula masih bernapas.

“Aku masih denial kalau anak aku udah enggak ada. Sempat aku bilang, ‘Lula masih ada! Lula masih ada, lu jangan ngaji!’ Gitu,” terangnya.

Kenangan Manis Sang Petarung Tangguh

Penolakan itu bukan tanpa alasan. Hanya sehari sebelum kejadian, komunikasi mereka masih sangat hangat. Lula masih sempat berbincang dan meminta bantuan kepada ibundanya melalui telepon.

Kini, meski dengan hati yang hancur, Tatu perlahan mencoba memeluk takdir. Di matanya, Lula Lahfah bukan sekadar selebgram populer, melainkan sosok anak yang mandiri dan berdedikasi tinggi. Segala kemewahan dan kesuksesan yang diraih Lula adalah murni hasil tetesan keringatnya sendiri.

“Buat aku ini pukulan paling berat, cobaan paling berat buat aku. Karena Lula itu anak baik. Dia itu enggak pernah mengeluh tentang apapun,” ujar Tatu Yulyanah penuh haru. Tatu mengenang bagaimana putrinya membangun karier dari nol tanpa pernah merepotkan orang tua secara finansial.

“Kerjaan dia semuanya… jadi apa yang dihasilkan selama ini semua benar-benar jerih payah dia. Benar-benar semuanya hasil keringat dia tanpa satu sen pun dari orang tua. Semua dia kerja keras,” pungkasnya.

Lula Lahfah kini telah tenang, namun semangat kerja keras dan kasih sayangnya akan selalu hidup dalam ingatan sang bunda dan para penggemarnya.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *