Pedagang Es Gabus Ajat Suderajat Kembali Viral, Ternyata Ada Masalah Kesehatan Mental
Pedagang es gabus, Ajat Suderajat, kembali menjadi perbincangan publik setelah dugaan keterlibatan dalam kebohongan saat diwawancarai oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Kejadian ini memicu berbagai reaksi dari masyarakat, terutama rasa kehilangan hormat terhadap Ajat. Namun, pihak Kecamatan Bojonggede mengungkapkan bahwa perilaku Ajat dan istrinya diduga disebabkan oleh gangguan mental pascatrauma.
Indikasi Disabilitas Mental pada Ajat dan Istrinya
Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menjelaskan bahwa hasil asesmen lintas instansi menunjukkan adanya indikasi disabilitas mental pada diri Ajat dan istrinya. Perilaku mereka yang sering memberikan jawaban berubah-ubah saat ditanya, termasuk saat berbincang dengan Dedi Mulyadi, bukan semata-mata karena bohong. Menurut pihak kecamatan, hal tersebut bisa jadi akibat dari gangguan mental pascatrauma yang memengaruhi kemampuan komunikasi verbal.
“Jawaban yang berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong itu bisa jadi akibat dari gangguan mental pascatrauma. Kami hanya menyampaikan indikasi, tapi yang terlihat jelas adalah kondisi istri Pak Suderajat,” ujarnya.
Pihak kecamatan juga menegaskan bahwa kondisi psikologis dan mental Ajat sudah terlihat sejak lama, dan diperparah oleh tekanan trauma setelah kejadian viral. Bahkan, ketika diajak komunikasi oleh ketua RT dan RW setempat, Ajat terindikasi memiliki keterbelakangan secara psikologis dan mental.
Penjelasan Pemerintah Kecamatan
Pemerintah kecamatan berharap penjelasan ini dapat menghentikan spekulasi publik dan mengembalikan persoalan Ajat pada konteks yang sebenarnya. Menurut mereka, Ajat dan istrinya membutuhkan perhatian khusus, terutama setelah mengalami trauma dan tekanan dari banyaknya orang yang datang ke rumahnya.
Selain itu, pihak kecamatan juga mengungkapkan bahwa Ajat dan istrinya memang memiliki disabilitas dan memerlukan bantuan lebih lanjut untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Tiga Pernyataan yang Diduga Berbohong
Dalam pertemuan antara Dedi Mulyadi dengan Ajat Suderajat dan Ketua RW setempat, Gubernur Jabar menyoroti tiga pernyataan yang dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Bohong soal pendidikan anak
Ajat sebelumnya menyebut bahwa anaknya bersekolah di SD negeri. Namun, menurut Dedi, anak Suderajat ternyata sekolah di sekolah swasta. Ia menegaskan bahwa pendidikan dasar SD dan SMP harusnya gratis sesuai putusan Mahkamah Konstitusi.
Bohong soal status rumah
Suderajat mengaku mengontrak rumah selama bertahun-tahun. Namun, pengakuan ini dibantah oleh Ketua RW setempat yang menyatakan bahwa orang tua Suderajat telah membelikan rumah sejak tahun 2007. Dedi langsung menegur Suderajat karena dianggap tidak jujur.
Bohong soal warisan
Suderajat mengaku hanya mendapatkan warisan sebesar Rp 200 ribu dari orang tuanya. Akan tetapi, Dedi menilai pernyataan ini tidak sesuai fakta lantaran orang tua Suderajat sudah membelikan rumah sejak 2007. Ia menasehati Babe untuk bersikap jujur agar hidupnya lebih baik.
Perasaan Dedi Mulyadi yang Tidak Enak
Sebelumnya, Dedi Mulyadi menemui langsung Ajat Suderajat, penjual es gabus yang sempat menjadi korban dugaan penganiayaan aparat setelah dituduh menjual es berbahan spons. Dalam video yang diunggah di Instagram, Dedi terlihat memberikan uang segepok kepada Suderajat. Namun, ia mengambil sebagian karena khawatir uang itu malah dipakai sendiri oleh Suderajat tanpa membayar kewajibannya.
Dedi lalu mengatur sendiri peruntukkan bantuan itu agar benar-benar digunakan tepat sasaran. Ia juga akan membayar kontrakan Suderajat sendiri dan memastikan dana tambahan renovasi rumah digunakan untuk keperluan yang benar.
Koreksi Tunggakan Suderajat
Dalam percakapan di mobil, Dedi juga sempat mengoreksi keterangan Suderajat soal tunggakan biaya sekolah anaknya. Ia menilai ada kejanggalan antara jumlah yang disebutkan dengan biaya sekolah negeri pada umumnya. Dedi menegaskan bahwa biaya sekolah SD biasanya tidak sampai Rp 1,5 juta.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











