"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Daerah  

Api Abadi Mrapen Grobogan Padam, Ternyata Tidak Ada yang Abadi

Api Abadi Mrapen Mulai Meredup dan Padam

Pengelola tempat wisata Api Abadi Mrapen di Semarang telah melihat nyala api tersebut mulai meredup sejak akhir tahun 2025. Awalnya, mereka mengira penyebab peredupan tersebut adalah kondisi cuaca yang sedang hujan. Namun, ternyata api abadi itu justru padam pada tanggal 1 Januari 2026 dan baru diperiksa oleh petugas pada 3 Februari 2026.

Menurut Annas Rofiqi, Penata Layanan Operasional Api Abadi Mrapen, pada tanggal 29 Desember 2025, nyala api mulai meredup. Namun, api benar-benar padam pada pukul 07.00 WIB tanggal 1 Januari 2026. Ia menjelaskan bahwa awalnya petugas mengira api padam karena cuaca yang tidak menentu.

Namun, setelah diperiksa oleh Dinas ESDM Jawa Tengah, diketahui bahwa penyebab api padam adalah pipa penyambung gas yang tersumbat lumpur. Informasi yang diberikan oleh Annas menyebutkan bahwa perbaikan akan dilakukan dalam waktu sekitar seminggu untuk membersihkan sumbatan tersebut.

Pengalaman Serupa di Tahun 2020

Annas juga mengungkap bahwa kejadian serupa pernah terjadi pada tahun 2020. Saat itu, penyebab matinya api Mrapen berbeda, yaitu adanya pengeboran ilegal di lingkungan sekitar Mrapen. Setelah kejadian tersebut, terbit peraturan desa setempat yang melarang aktivitas pengeboran maupun penggalian sumur di dekat Mrapen, khususnya penggalian sumur lebih dari 10 meter.

Gratiskan Tiket Masuk Wisata

Akibat dari padamnya Api Abadi Mrapen, pengelola wisata menggratiskan tiket kunjungan selama sebulan terakhir. Harga tiket masuk ke kawasan wisata tersebut biasanya dipatok Rp2.500 per orang. Tiket gratis akan diberlakukan sampai Api Abadi Mrapen menyala kembali.

Annas menyebutkan bahwa jumlah pengunjung ke sini sekitar 1.000 orang per bulan. Meskipun api Mrapen padam, ia menawarkan spot wisata lain seperti Batu Bobot dan Sendang Dudo. Menurutnya, jumlah pengunjung tetap stabil di angka 1.000 orang, meski ada beberapa pengunjung yang datang karena penasaran apakah api abadi Mrapen benar-benar padam.

Terjunkan Tim Ulik Penyebab Padamnya Api Abadi

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah menerjunkan tim untuk meneliti penyebab padamnya Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, kabupaten Grobogan, pada Selasa (3/1/2026). Api Abadi Mrapen merupakan tempat wisata yang menyuguhkan sumber api alami yang muncul dari aktivitas alamiah gas bumi di kawasan tersebut.

Tempat ini tersohor lantaran menjadi sumber nyala api obor pesta olahraga nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON). Bagi warga sekitar, api Mrapen juga dikaitkan dengan cerita persinggahan Sunan Kalijaga dan dikaitkan dengan Empu Supo, seorang ahli pembuat keris sakti di zaman Majapahit.

Penyebab Padamnya Api Abadi

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Agus Sugiharto, menjelaskan bahwa nyala Api Abadi Mrapen mulai meredup pada 29 Desember 2025 dan benar-benar padam pada 1 Januari 2026. Petugas wisata belum mengetahui penyebab padamnya api tersebut.

Agus menjelaskan bahwa api abadi Mrapen bisa saja padam karena rekahan-rekahan sebagai penyalur gas ke reservoir atau tempat sumber gas terhambat oleh sedimen atau kerak di antaranya lumpur. Ia juga menyebut, sumber gas dalam reservoir tersebut dimungkinkan juga berkurang karena telah berusia ratusan tahun. Terlebih, di sekitar Mrapen sebelumnya ada aktivitas penggalian sumur yang mempercepat berkurangnya gas dalam reservoir.

Sedimen Tertutup Lumpur

Kepala Bidang Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono, mengungkap bahwa hasil kajian timnya di lapangan menunjukkan bahwa sumur gas Api Abadi Mrapen tertutup lumpur sehingga api tersebut padam. “Intinya gas ini tertutup sama lumpur, jadi terhambat jalannya gas itu,” jelasnya.

Meskipun begitu, ia mengklaim sumber gas penyuplai api abadi Mrapen masih mencukupi. Pihaknya kini tinggal membuka sumbatan itu agar gas kembali lancar mengalir. Proses pengerjaan pembersihan ini ditargetkan bakal rampung selama satu minggu. “Nanti pakai teknik flushing yakni pembersihan agar lumpur-lumpur yang menyumbat bisa terangkat, gasnya bisa mengalir kembali,” terangnya.


Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *