Ajang Mini 4WD di Semarang Menarik Peserta Berbagai Usia
Puluhan mobil Mini 4WD bersiap dilepas bersamaan di garis start lintasan balap di lantai tiga Java Mall, dekat bioskop Cinepolis, Jalan Letjen MT Haryono, Kota Semarang, Minggu (1/6/2026) sore menjelang petang. Ajang lomba Mini 4WD kategori STO Rookie yang digelar Terminal Tamiya Semarang sore itu mempertemukan sekitar 50 peserta lintas usia, dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Kompetisi tersebut digandrungi karena para peserta harus mengandalkan ketepatan racik, bukan kendali tangan. Di tengah suara pembawa acara, dengung dinamo bernada tinggi, dan sorak penonton di sana, Arina Utaming Tyas duduk tenang di meja paddock lesehan. Jemarinya yang terlatih mengencangkan baut berdiameter dua milimeter pada sasis mobil Mini 4WD milik dia. Di sampingnya, sang suami, Andy Nugroho, menyodorkan komponen-komponen dan juga kit.
Arina dan suaminya berusia 45 tahun, di mana terbilang jauh di atas rata-rata usia peserta lomba hari itu. Namun di arena Mini 4WD, usia bukan penentu. Ketelitian, kesabaran, dan pengalaman justru menjadi kunci utama agar mobil melaju cepat tanpa terlempar dari lintasan.
Mini 4WD bukan hobi musiman bagi warga Bukit Kencana Jaya, Tembalang tersebut. Dia menekuninya sejak Agustus 2003, relatif lama sebelum komunitasnya seramai sekarang. “Dulu awalnya beli untuk dimiliki atau dipajang saja, lalu tertarik ikut lomba bareng suami saya. Sebelum anime-nya ada, saya sudah suka,” kata Arina.
Dari sekadar rakitan di rumah, Arina kemudian berani turun ke arena lomba, termasuk lomba STO Rookie sore itu. Hasilnya tak main-main. Dia mengaku sering memenangkan lomba. Pada 2025 lalu, giliran Andy yang menjadi juara. Bahkan, Arina sempat berada di jalur seleksi menuju Jepang, negeri asal Tamiya, sebelum langkahnya terhenti di Jakarta. “Waktu itu mobil saya masih kalah cepat,” ungkap dia.
Di dunia Mini 4WD, lanjutnya, sepersekian detik bisa menentukan segalanya.
Terminal Tamiya: Tempat Lomba, Belanja hingga Konsultasi Gratis
Lintasan hari itu mempertemukan Arina dengan puluhan peserta lain berada di Terminal Tamiya Semarang, Java Mall. Sore itu, tempat tersebut terasa lebih hidup dari sekadar pusat perbelanjaan. Udara dipenuhi aroma pelumas, suara dinamo yang sedang di-break-in, dan roda yang diputar di udara untuk memastikan putaran sempurna. Musik mal seolah tenggelam, digantikan dunia kecil yang hanya dimengerti para racer.
Sebanyak 50 peserta mengikuti ajang STO Rookie, lomba balap Mini 4WD yang menjadi pintu masuk bagi pemula. Meja-meja lesehan dipenuhi carry pit, obeng presisi, solder, cairan pembersih ban, hingga alat ukur digital. Tak ada jarak antara senior dan pemula dan semua belajar bersama, saling bertanya, saling memberi saran.
Sekilas Tentang Tamiya dan Mini 4WD
Tamiya adalah merek asal Jepang yang dikenal lewat model kit dan mainan rakit. Satu di antara produknya yang paling ikonik adalah Mini 4WD, mobil kecil bertenaga dinamo yang melaju otomatis di lintasan khusus tanpa remote control. Disebut 4WD karena keempat rodanya digerakkan oleh satu dinamo. Begitu dilepas di garis start, mobil akan melaju sendiri, menanjak, melompat, menikung, tanpa bisa dikendalikan.
Tantangannya bukan mengemudi, melainkan menyetel dan merakit agar mobil tetap cepat, stabil, dan tidak keluar lintasan. Popularitas Mini 4WD melejit pada era 1990-an, termasuk di Indonesia, termasuk berkat anime legendaris Bakusou Kyoudai Let’s & Go!! yang juga tayang di televisi Indonesia.
Dari Pemula hingga Mimpi ke Jepang
Atik, pengelola Terminal Tamiya Semarang, menyebut lomba STO Rookie sengaja dirancang sebagai kelas pengenalan. “Tujuan kami merekrut orang-orang baru. Setiap bulan ada dua lomba, dua pekan STO Rookie, dua pekan STB Plug n Play,” ujarnya. Peserta mengumpulkan poin dari kemenangan dan keaktifan mengikuti lomba. Mereka yang berprestasi berpeluang dikirim bertanding ke Jakarta, ke berbagai kota lain, hingga membuka jalan ke Jepang.
Terminal Tamiya sendiri bukan sekadar arena lomba. Sejak pukul 15.00 WIB, pengunjung bisa berkonsultasi gratis soal setting mobil. “Misal mobilnya kurang stabil, atau ada suara berisik, bisa konsultasi. Termasuk yang pemula mau memulai, bisa kami arahkan pelan-pelan,” imbuh Atik. Tersedia pula jasa rakit, mulai Rp20 ribu untuk STB hingga sekitar Rp150 ribu untuk STO Rookie, serta penjualan unit mobil, suku cadang, toolkit, hingga trek.
Toko ini beroperasi mengikuti jam operasional mall pukul 10.00–21.00 WIB. Pengunjung bisa mencoba trek seharian dengan biaya sekitar Rp10 ribu. Untuk pemula, kelas STB disarankan dengan modal awal sekitar Rp500 ribu.
Jessica, seorang pengunjung Gen Z, datang membawa tas berisi mobil rakitannya sendiri. Dia belum berani turun lomba, hanya mencoba trek saat kosong. “Baru berani mencoba-coba trek saja karena di rumah tidak ada treknya,” kata dia. Namun mimpinya besar, yakni suatu hari bisa bertanding hingga ke negeri asal Tamiya, Jepang.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











