Wongso Suseno, seorang keturunan Tionghoa, adalah petinju Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar juara internasional. Ia dikenal dengan julukan “Super Quick” karena kecepatan dan kemampuannya dalam bertinju.
Dalam artikel yang ditulis oleh Tan Liang Tie, Wongso Suseno digambarkan sebagai sosok yang rendah hati dan memiliki sikap tegap serta mata yang tajam seperti seorang petinju. Meskipun begitu, ia tidak terlihat seperti seorang juara. Jabatannya ramah dan rileks, sementara sikapnya sederhana dan berendah hati. Namun di balik kesederhanaannya itu, ia menunjukkan kepribadian yang kuat dan tekad yang keras.
Bakat dan hasrat
Bakat dapat dimiliki oleh siapa saja, tetapi pengarahannya tidak selalu sesuai dengan hasrat. Dalam olahraga, seringkali bakat yang dimiliki seseorang tidak sesuai dengan jenis olahraga yang cocok untuknya. Namun, dalam kasus Wongso Suseno, terlihat adanya keserasian antara bakat dan hasratnya. Sejak kecil, ia sudah memiliki kegemaran terhadap latihan fisik dan gerakan tubuh dalam bentuk apapun. Selain itu, ia juga menyukai perkelahian, bukan hanya untuk menunjukkan kekuasaan atau menguasai teman-temannya, tetapi karena murni kesukaannya.
Seringkali orang tua lawan berkelahi datang mengadu pada orang tua Wongso, bukan sebaliknya. Saat itu, ia sudah mulai belajar menangkis dan mengelak. Ketika ia tumbuh dewasa, ia beralih dari Sekolah Dasar ke Sekolah Menengah Pertama, dan minatnya terhadap tinju semakin meningkat. Pada usia sekitar 14 tahun, ia mulai tertarik menjadi petinju.
Pertemuan dengan Atjong
Atjong, seorang petinju nasional di Malang, menjadi idola Wongso. Suatu hari, ia memberanikan diri untuk menemui Atjong di tempat latihan dan menyatakan keinginannya untuk berlatih. Sayangnya, ia ditolak karena dianggap terlalu kecil dan kurus. Namun, Wongso tidak menyerah. Ia mulai melatih diri sendiri dengan menggunakan alat berat yang dibuat sendiri, seperti halter dari semen.
Dua tahun berlatih, hasilnya terlihat. Pundaknya melebar, dada membesar, otot-otot lengan, tangan, paha, dan kaki mengeras. Ayahnya menyarankan Wongso untuk belajar silat, ilmu bela diri yang saat ini populer sebagai Kung Fu. Ayahnya, yang merupakan ahli silat meskipun bukan tingkat “suhu”, mengajarkan silat kepada Wongso selama dua tahun. Namun, setelah itu, Wongso merasa jenuh dan berhenti.
Karier tinju
Wongso Suseno lahir pada 17 November 1945 dengan nama Tionghoa Wong Kok Sen. Pada tahun 1966, saat berusia sekitar 19 tahun, ia bergabung dengan Pertina di Malang. Setiadi Hadilaksono, salah satu petinju terbaik di Malang, menjadi pelatih dan manajernya. Setiadi menerima Wongso dan membimbingnya.
Latihan serius dan ketekunan membuat karier Wongso berkembang. Awalnya, orangtuanya tidak mengetahui bahwa putranya menjadi petinju. Hanya ketika Wongso menjadi juara di Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-7 di Surabaya, mereka mengetahuinya. Akhirnya, mereka merestui keinginannya menjadi petinju.
Kemenangan di PON 1969
Pada PON 1969, Wongso menangkan medali emas dalam kelas Welter. Lawannya termasuk Frans van Bronckhorst. Ia terpilih sebagai petinju terbaik dalam pesta olahraga nasional tersebut.
Karier profesional
Pada tahun 1970, Komisi Tinju Indonesia (IBC) didirikan. Wongso bergabung dengan organisasi tersebut. Karier profesionalnya dimulai pada 1971 dengan kemenangan atas Suatman dan Freddie Ramschie. Di tahun 1973, ia merebut gelar IBC dari Ramschie di Surabaya dengan kemenangan TKO. Ia juga menang KO atas Chanakiat di Malang dan Jakarta.
Perebutan gelar OBF
Pada tahun 1975, Wongso menjadi juara Junior Welter OBF setelah mengalahkan Chang Kil Lee dari Korea Selatan. Kemenangannya diakui oleh World Boxing Council (WBC), yang menempatkannya di urutan ke-10 daftar penantang juara dunia.
Penghargaan dan akhir hayat
Pada Hari Pahlawan 2020, Wongso mendapat penghargaan dari KONI Jawa Timur bersama atlet lainnya. Ia meninggal pada 17 November 2025, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-80. Ia meninggalkan istri dan empat anak. Meski telah gantung sarung tinju setelah kelahiran putri pertamanya, ia tetap aktif sebagai pelatih dan membimbing atlet-atlet lain menjadi juara dunia.











