Peran Dahlan Dahi dalam Menyelesaikan Dualisme PWI
Pada acara Hari Pers Nasional 2026 yang digelar di Kota Serang, Banten, pada 9 Februari 2026, Chief Executive Officer (CEO) Tribun Network menerima penghargaan. Piala tersebut diberikan oleh Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir. Ia menyebutkan bahwa figur Dahlan Dahi adalah pribadi yang ikhlas, tulus, dan telaten dalam mengurai konflik panjang antara dua kubu PWI.
Pemberian penghargaan kepada Dahlan Dahi dilakukan atas alasan kehadirannya sebagai figur yang berhasil menyelesaikan konflik dan dualisme kepemimpinan organisasi PWI. Tahun 2024 hingga 2025, terjadi perpecahan di tubuh PWI antara dua kubu, yaitu ketua umum hasil Kongres Bandung 2023, Hendry Ch Bangun, dan ketua umum versi Kongres Luar Biasa Jakarta 2024, Zulmansyah Sakedang.
“Kami memberi award kepada figur anggota Dewan Pers Dahlan Dahi atas jasa-jasa beliau yang bisa mempertemukan dan menyelesaikan konflik dualisme PWI. Beliau bisa merajut kembali perbedaan-perbedaan keras antara Bang HCB dan Bang Zul. PWI yang tadinya mengalami dualisme, alhamdulillah berkat ketelatenan, keikhlasan dan ketulusan mas Dahlan Dahi, akhirnya tersapai kesepakatan untuk digelar kongres Persatuan PWI 2025,” ujar Munir dalam wawancara dengan Tribunnews.com, usai acara.
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) adalah organisasi profesi wartawan pertama yang didirikan pada 9 Februari 1946 di Surakarta, Jawa Tengah. Menurut Ketua Dewan Pers Prof Komarudin Hidayat, PWI adalah organisasi wartawan tertua yang menjadi konstituen Dewan Pers. “Saat ini ada sebelas organisasi wartawan dan asosiasi perusahaan media yang menjadi konstituen Dewan Pers. Dan PWI adalah organisasi wartawan tertua, yang pertama lahir, kemudian disusul adik-adiknya,” kata Komarudin, mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta 2005-2010.
Hari lahir PWI diperingati sebagian wartawan sebagai hari Pers Nasional. Peringatan tahunan itu mulai dilakukan setelah Presiden Soeharto mengeluarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985 yang menetapkan tanggal itu sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Sebagian organisasi wartawan lainnya, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), menolak HPN pada 9 Februari. Menurut kedua organisasi pers ini, setelah Soeharto jatuh tahun 1998, ada sejumlah perubahan penting yang terjadi dalam bidang media yaitu koreksi regulasi Orde Baru.
Penyelesaian Dualisme Pengurus PWI
Dahlan terpilih menjadi anggota Dewan Pers 2025-2028 melalui konstituen Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI). Setelah dilantik menjadi anggota dewan pers, 14 Mei 2025, Dahlan yang kemudian menjabat Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, segera mencari solusi untuk konflik dan dualisme PWI. Dahlan sendiri bukan anggota PWI, melainkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Begitu dilantik menjadi anggota Dewan Pers, Dahlan coba mencari solusi konflik panjang di tubuh PWI. Satu kubu adalah Ketua Umum PWI Pusat, Hendry Ch. Bangun, dan Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Sayid Iskandarsyah, serta sejumlah kawan-kawan. Kubu lainnya adalah Ketua Dewan Kehormatan (DK) PWI Pusat, Sasongko Tedjo, pengurus PWI hasil Kongres Bandung Zulmansyah Sakedang.
Dahlan bertindak sebagai mediator dalam rapat virtual atau online dengan Ketua Umum PWI hasil Kongres Bandung 2023 Hendry Ch Bangun, dan ketua versi Kongres Luar Biasa Jakarta 2024, Zulmansyah Sakedang. Dua hari setelah duduk di kursi anggota Dewan Pers, Dahlan mempertemukan HCB sapaan untuk Hendry Ch Bangun, dan Zul, sapaan Zulmansyah Sakedang, Jumat (16/5/2025) malam. Dua kubu yang berseteru sepakat mengakhiri perpecahan dan menyatukan langkah melalui sebuah Kongres Persatuan PWI yang akan digelar paling lambat 30 Agustus 2025 di Jakarta.
Kongres pun dilaksanakan. Pendek cerita, Hendry maju kontestasi kembali melawan dengan Ahmad Munir. Ujungnya, Munir terpilih menjadi ketua umum PWI 2025-2030, dan selanjutnya dilakukan konsolidasi yang menampung semua pihak.
Latar Belakang Konflik PWI
Sebagai mana diberitakan sebelumnya, Kongres PWI XXV di Bandung, Jawa Barat, 2023 memilih Hendry Ch Bangun sebagai Ketua Umum PWI periode 2023 – 2028. Baru satu tahun kepengurusan berjalan, awal 2024, PWI dilanda konflik yang dipicu oleh isu uang cashback atau komisi yang melibatkan dana bantuan dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Persoalan ini menimbulkan kekisruhan internal antara Ketua Umum PWI (Hendry Ch Bangun) dan Dewan Kehormatan PWI Sasongko Tedjo.
Dewan Kehormatan PWI mencurigai sejumlah orang pengurus harian mengambil uang komisi yang tidak sepatutnya, dan dianggap melanggar Peraturan Dasar/Peraturan Rumah tangga (PD/PRT) PWI. Sebaliknya, pengurus harian membantah. Lalu terjadi saling klaim, saling gugat secara hukum juga pecat-memacat dari kepengurusan.
Puncak konflik, sebagian pengurus PWI melaksanakan Kongres Luar Biasa di Jakarta, Minggu 18 Agustus 2024, memilih Zulmansyah Sakedang sebagai Ketua Umum PWI menggantikan Hendry Ch Bangun, dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Sasongko Tedjo. Kubu Hendry Ch Bangun menolak hasil KLB.
Melalui proses yang panjang, Dahlan Dahi mempersatukan PWI Hendry dan Zulmansyah dengan menggelar Kongres Persatuan PWI di Bekasi, 29-31 Agustus 2025. Wartawan senior Kantor Berita Antara, Ahmad Munir kontestasi dengan Hendry Ch Bangun, dan Munir terpilih menjadi Ketua Umum PWI.











