JAKARTA — PT Pupuk Indonesia (Persero) sedang menyiapkan tujuh proyek investasi besar untuk merevitalisasi pabrik-pabrik pupuk yang ada di berbagai wilayah Indonesia hingga tahun 2029. Tujuan dari langkah ini adalah meningkatkan efisiensi produksi, mengingat banyak fasilitas produksi yang telah berusia tua dan membutuhkan pembaruan teknologi.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menjelaskan bahwa sebagian besar pabrik yang dimiliki perusahaan sudah beroperasi lebih dari dua dekade. Hal ini membuat perlu adanya peningkatan efisiensi dan modernisasi teknologi agar dapat memenuhi kebutuhan nasional, terutama pupuk subsidi.
“Pabrik-pabrik kita umurnya sudah tua. Jadi hampir 70% dari jumlah pabrik kita, dari sekitar 20 pabrik itu usianya sudah di atas 20 tahun. Kami melihat ini bukan hal yang baik, terlebih ini menyalahi prinsip bisnis. Karena dalam bisnis kita akan mendapatkan margin lebih besar jika dapat menghemat biaya yang kita keluarkan,” ujarnya dalam acara Pupuk Indonesia Media Iftar 2026 di Jakarta.
Sebagai bagian dari upaya revitalisasi, Pupuk Indonesia menyediakan tujuh proyek investasi yang tersebar di beberapa lokasi seperti Aceh, Gresik, Bontang, hingga Kujang. Proyek-proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pabrik sekaligus menambah kapasitas produksi agar kebutuhan pupuk nasional bisa terpenuhi.
“Dari tujuh proyek komitmen tersebut, kami memang menargetkan bahwa yang pertama harus ada efisiensi dari pabrik-pabrik kita. Kemudian yang kedua, kita bisa menambah kapasitas produksi sehingga nanti alokasi pupuk subsidi atau kuantum penyaluran pupuk subsidi bisa terpenuhi dari tambahan pabrik-pabrik tersebut,” jelasnya.
Beberapa proyek yang sedang disiapkan antara lain pembangunan soda ash serta revamping pabrik amonia-urea (amurea) di Bontang, pembangunan pabrik NPK Ponska 6 di Gresik, proyek NPK Mitra di Kujang, serta pembangunan pabrik baru Pusri 3B di Palembang. Selain itu, terdapat juga pembangunan pabrik amurea di Pusri serta proyek Kawasan Industri Pupuk Fakfak (KIPF) di Papua Barat.
Perkembangan proyek saat ini berada pada tahapan yang berbeda-beda. Beberapa proyek telah diresmikan maupun memulai tahap pembangunan awal, sementara lainnya masih dalam tahap persiapan.
“Sejauh ini progresnya yang sudah diresmikan itu proyek revamping yang ada di PKT. Kemudian tiga yang groundbreaking ada di NPK Mitra, kemudian soda ash, kemudian di KIPF. Sedangkan tiga lainnya itu masih persiapan proyek,” tambahnya.
Pupuk Indonesia menargetkan seluruh proyek tersebut dapat mulai dibangun dan beroperasi secara bertahap sebelum 2029 sebagai bagian dari upaya revitalisasi industri pupuk nasional.
“Jadi semuanya ditargetkan bisa groundbreaking dan beroperasi sebelum tahun 2029. Jadi itu komitmen kami untuk memastikan bahwa proyek revitalisasi industri pupuk nasional bisa berjalan,” ujarnya.
Dalam catatan Bisnis, pemerintah berencana membangun tujuh pabrik pupuk baru dalam kurun waktu 5–10 tahun ke depan dengan total anggaran mencapai Rp50 triliun. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa langkah pembangunan pabrik pupuk baru ini bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas produksi pupuk nasional.
Nantinya, lima di antara pabrik pupuk baru itu ditargetkan rampung paling lambat pada tahun 2029. Dengan beroperasinya pabrik baru tersebut, dia berharap biaya produksi dapat ditekan lebih dari seperempat dan ketergantungan pada bahan baku impor dapat dikurangi secara signifikan.
“Kita bisa mendirikan pabrik baru karena efisiensi yang lebih efektif tadi. Rancangan kita adalah membangun tujuh pabrik baru dalam 5–10 tahun. Dan Komutnya [Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia Sudaryono] mengatakan lima unit bisa diresmikan sebelum 2029. Dan ini adalah revolusi luar biasa,” kata Amran dalam konferensi pers Satu Tahun Kinerja Kabinet Merah Putih Sektor Pertanian di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta.
Amran menjelaskan, saat ini pabrik pupuk lama yang menggunakan bahan baku gas memiliki tingkat efisiensi sekitar 43%. Sementara itu, pabrik baru diperkirakan hanya menggunakan 22%–23% bahan baku gas, atau hampir setengahnya dibandingkan pabrik lama.
Selain itu, Indonesia memiliki sekitar 12–13 pabrik pupuk yang beroperasi di dalam negeri. Selain membangun pabrik baru, pemerintah juga akan merevitalisasi pabrik pupuk yang telah berusia tua.











