Masalah Industri Tekstil Garmen yang Mengancam Tenaga Kerja
Industri tekstil garmen, yang dikenal sebagai sektor padat karya dan mampu menyerap banyak tenaga kerja, saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan serius. Tantangan tersebut berasal dari penurunan permintaan global, tekanan biaya produksi, serta persaingan ketat dengan produk impor. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan industri yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), Ristadi, menyampaikan kekecewaannya terhadap keputusan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang menjalin kerja sama dengan produsen apparel olahraga asal Spanyol, Kelme. Kerja sama ini menjadikan Kelme sebagai mitra resmi penyedia jersey tim nasional sepak bola hingga tahun 2030. Bagi Ristadi, keputusan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai keberpihakan PSSI terhadap industri nasional, terutama di tengah kondisi industri tekstil garmen dalam negeri yang sedang menghadapi tekanan serius.
Ristadi menekankan bahwa industri tekstil garmen perlu dukungan nyata dari berbagai pihak. Banyak pabrik menghadapi tantangan berat akibat situasi yang tidak stabil. Dalam situasi seperti ini, setiap kebijakan, kerja sama, maupun belanja yang dapat melibatkan produksi dalam negeri seharusnya dimaksimalkan untuk membantu menjaga keberlangsungan industri tekstil garmen serta melindungi jutaan tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini.
“Kami menilai kerja sama PSSI dengan produsen luar negeri justru berpotensi menghilangkan kesempatan bagi industri garmen dalam negeri kita untuk memperoleh nilai tambah dari momentum besar seperti penyediaan jersey tim nasional,” ujar Ristadi.
Padahal, Indonesia memiliki kapasitas industri tekstil dan garmen yang sangat memadai, baik dari sisi teknologi produksi, kualitas bahan, maupun pengalaman memasok berbagai merek global. Produsen jersey lokal seperti Mills, Specs, Duraking, dan lainnya telah membuktikan kualitasnya yang tidak kalah dengan produsen luar negeri.
“Keputusan tersebut juga menghadirkan ironi tersendiri. Di satu sisi pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan tengah mendorong gerakan penggunaan produk dalam negeri untuk memperkuat industri nasional. Namun di sisi lain, organisasi olahraga sebesar PSSI justru memberikan panggung kepada produsen luar negeri untuk produk yang sangat identik dengan identitas nasional: jersey tim nasional sepak bola Indonesia,” ungkap Ristadi.
Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap industri nasional tidak selalu harus berbentuk kebijakan besar. Terkadang, keputusan sederhana seperti memilih produsen dalam negeri untuk kebutuhan simbolik bangsa justru memiliki dampak psikologis dan ekonomi yang sangat besar. Jersey tim nasional bukan sekadar pakaian pertandingan, tetapi juga simbol kebanggaan nasional yang seharusnya dapat menjadi panggung bagi kemampuan industri dalam negeri.
Ristadi juga mengingatkan bahwa jiwa nasionalisme timnas tidak hanya diukur dari semangat di lapangan, tetapi juga dari keberpihakan PSSI pada ekosistem ekonomi bangsa sendiri. Jika PSSI belum mampu menghadirkan prestasi besar di tingkat internasional, setidaknya PSSI dapat menunjukkan keberpihakan yang nyata dengan mendukung penguatan industri dalam negeri yang sedang berjuang mempertahankan eksistensinya yang tenaga kerja banyak.
“Kami berharap PSSI dapat meninjau kembali arah kebijakan kerja sama tersebut, atau setidaknya membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi industri tekstil garmen nasional dalam rantai produksi dan distribusi apparel tim nasional ke depan. Bagi kami, sepak bola bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga soal bagaimana momentum kebanggaan nasional sekaligus dapat memberi manfaat nyata bagi penguatan industri nasional, termasuk bagi para pekerja di sektor tekstil garment,” ujarnya.
Peran PSSI dalam Mendukung Industri Nasional
Dalam waktu dekat, Timnas Indonesia akan menjalani serangkaian agenda pertandingan sepak bola internasional penting. Salah satu fokus utama adalah menghadapi turnamen FIFA Series 2026 yang akan berlangsung pada Maret 2026. Dengan adanya kerja sama antara PSSI dan Kelme, beberapa pertandingan akan menggunakan jersey yang diproduksi oleh perusahaan asal Spanyol ini.
PSSI sebelumnya telah meluncurkan jersey terbaru untuk Timnas sepak bola dan futsal Indonesia. Peluncuran ini sekaligus menandai kerja sama Kelme sebagai penyedia apparel resmi Timnas Indonesia. Meski demikian, keputusan ini masih menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan, termasuk para pekerja industri tekstil garmen yang merasa kehilangan peluang untuk ikut berkontribusi dalam proses produksi dan distribusi apparel tim nasional.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











