Instrumen Surat Utang Ritel yang Berhadapan dengan Persaingan Baru
Di tengah dinamika pasar modal, kini hadir penantang baru dalam bentuk instrumen surat utang ritel. PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) meluncurkan obligasi Ritel Infrastruktur SMI (ORIS) yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan Sukuk Ritel perdana 2026 (SR024). ORIS sendiri diterbitkan dalam tenor 1 dan 3 tahun dengan masing-masing imbal hasil sebesar 5,60% dan 6,05%. Sementara SR024 menawarkan imbal hasil 5,55% untuk tenor 3 tahun dan 5,90% untuk tenor 5 tahun.
Meskipun demikian, berdasarkan penilaian dari Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan Ario Maruto, meskipun ORIS menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi, belum tentu mampu menyaingi daya tarik SR024 sebagai instrumen yang dijamin oleh negara. Salah satu alasan utamanya adalah jangkauan distribusi SR024 yang lebih luas. Terdapat sekitar 32 mitra distribusi yang terlibat, termasuk perbankan, perusahaan efek, hingga lembaga keuangan lainnya.
“Untuk instrumen ritel, distribusinya [obligasi korporasi] belum sekuat SBN atau SBSN. Kalau yang ritel, SBN Ritel ini kan melibatkan banyak midis, sehingga jangkauannya lebih luas,” ujarnya.
Dari sisi keamanan investasi, Ramdhan menilai bahwa meskipun ORIS memiliki rating idAAA, tetapi tidak dapat dibandingkan secara head-to-head dengan SR024 yang dijamin oleh APBN. Hal ini membuat ORIS harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan SBN.
”Walaupun rating-nya idAAA, tetapi kelasnya korporasi. Beda dengan negara yang menerbitkan. Wajar dia memberikan kupon yang lebih tinggi,” tegasnya.
Langkah Positif untuk Pendalaman Pasar Surat Utang Korporasi
Meski begitu, upaya PT SMI dalam menerbitkan surat utang ritel dinilai sebagai langkah positif untuk pendalaman pasar surat utang korporasi ritel. Dalam kondisi pasar modal yang sedang menghadapi tekanan, Ramdhan merekomendasikan investor untuk melakukan diversifikasi surat utang agar bisa mencapai capital gain yang maksimal. Artinya, investor tidak hanya disarankan untuk memilih SBN, tetapi juga masuk ke instrumen surat utang yang menawarkan imbal hasil lebih besar.
Tantangan dari Instrumen Investasi Lain
Di sisi lain, Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menilai peluang terserapnya SR024 saat ini tidak hanya dibayangi oleh penjualan ORIS. Menurutnya, penawaran surat utang secara umum akan menghadapi tantangan dari instrumen investasi lain yang memiliki risiko rendah, seperti emas atau perak.
Di tengah kondisi pasar surat utang yang tertekan, investor cenderung lebih fokus pada instrumen yang lebih likuid di pasar sekunder. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi risiko ketika ketidakpastian geopolitik semakin meningkat.
Selain itu, investor saat ini dinilai masih realistis, dengan memilih instrumen yang menawarkan imbal hasil menarik namun risiko terbatas. “Saat ada perbedaan yield yang tidak terlalu banyak, tapi mungkin risiko lebih kecil, kayak ada pasar sekunder yang lebih baik, atau mungkin di saat yang sama juga ada pilihan investasi yang lain, mungkin juga akan menggerus minat terhadap instrumen lainnya ya,” ujarnya.
Prospek Surat Utang Negara yang Menurun
Secara umum, Fikri menilai prospek surat utang negara saat ini cenderung menurun. Hal ini terlihat tidak hanya dari penawaran SBN Ritel perdana 2026, tetapi juga dari nilai penawaran dalam lelang Sukuk dan SUN yang digelar oleh DJPPR.
Terhadap SBN Ritel, kendati pembeli produk tersebut merupakan WNI, tetapi mereka turut bersikap risk-off terhadap pasar surat utang dalam negeri. Fikri menyebut investor SBN cenderung teredukasi terhadap kondisi pasar modal saat ini.
”Karena biasanya kalau dia orang Indonesia kan mereka mengenal saham terlebih dahulu ya sebelum Sukuk dan segala macam. Jadi saya pikir mereka orang-orang yang sudah sangat rasional sih dan pada saat kondisi sekarang, ya mereka mungkin akan sedikit menahan diri ya,” tegasnya.
Rekomendasi untuk Kembali Menarik Minat Investor
Menurutnya, untuk kembali menarik minat investor ritel, tidak cukup hanya dengan memberikan stimulus berupa peningkatan kupon yang lebih kompetitif. Pemerintah perlu memastikan defisit APBN yang lebih terjaga ke depan. Selain itu, Fikri menilai pentingnya pemerintah untuk kembali meningkatkan kepercayaan publik, seperti alokasi anggaran terhadap program kerja atau kepercayaan publik secara umum.
”Nah ini juga perlu dilakukan oleh pemerintah agar nanti tidak hanya SBN ritel yang lebih positif sih, tapi juga kondisi keuangan kita atau juga penerimaan pajak,” tegasnya.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











