Kehidupan dan Latar Belakang Hoho Alkaf
Hoho Alkaf, atau yang dikenal dengan nama lengkap Welas Yuni Nugroho, adalah seorang kepala desa di Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara. Ia lahir pada 11 Juni 1983, sehingga saat ini berusia 43 tahun. Nama lengkapnya diberikan oleh orang tuanya, Hartati dan Siswoyo Siswoharsono. Ia merupakan anak terakhir dari empat bersaudara.
Ayahnya, Siswoyo, pernah menjabat sebagai Kepala Desa Purwasaba pada periode 1990-1998. Selain itu, ia juga anggota DPRD Banjarnegara yang menjabat selama empat periode. Hal ini menjadikannya berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang politik yang kuat.
Di masa kecilnya, Hoho dikenal sebagai anak yang “nakal”. Namun, meskipun demikian, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang perguruan tinggi. Ia mengambil jurusan S1 Hukum di Universitas Islam Sultan Agung Semarang, kemudian melanjutkan studi S2 dengan jurusan yang sama di Universitas Jenderal Soedirman.
Berikut riwayat pendidikannya:
* SD di Desa Purwasaba
* SMP di Desa Purwasaba
* SMA 1 Purwonegoro
* S1 Hukum di Universitas Islam Sultan Agung Semarang
* S2 Magister Hukum di Universitas Jenderal Soedirman
Ikut Jejak Ayah
Hoho kemudian melanjutkan jejak ayahnya dengan menjadi kepala desa di Purwasaba. Ia maju dalam Pilkades 31 Juli Tahun 2019, bersaing dengan dua calon lain, yaitu Bondan Apriyanto dan Huru Purwanto. Akhirnya, Hoho menang dengan memperoleh 1.899 suara sah.
Selama memimpin desa, Hoho dikenal sebagai sosok yang nyentrik. Selain memiliki tato di seluruh tubuhnya, ia juga aktif dalam berbagai inisiatif di desa, khususnya di sektor pariwisata. Selain itu, ia juga sangat aktif di media sosial, dengan akun Instagram @hoho_alkaff yang memiliki lebih dari 894.000 pengikut.
Kades Hoho Dikeroyok
Baru-baru ini, media sosial dihebohkan dengan kabar kurang menyenangkan tentang Kades Hoho. Dalam video singkat yang beredar, nampak Kades Hoho dengan pakaian dinas yang rusak keluar dari kantor desa dengan pengawalan polisi.
Peristiwa tersebut terjadi saat ratusan anggota LSM melakukan aksi unjuk rasa di Balai Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Selasa (11/3/2026). Demonstrasi awalnya dimaksudkan sebagai forum penyampaian aspirasi, tetapi berubah menjadi insiden kekerasan.
Kades Hoho mengaku menjadi korban pengeroyokan oleh massa. Insiden ini dipicu oleh tuntutan sejumlah peserta aksi yang ingin agar hasil penjaringan perangkat desa dibatalkan dan diulang. Namun, pemerintah desa menolak permintaan tersebut karena proses seleksi dinilai telah dilakukan sesuai aturan.
Hoho menceritakan kronologi kejadian tersebut melalui unggahan di akun media sosialnya. Ia mengatakan bahwa saat hendak keluar dari balai desa, dirinya langsung diserang dari berbagai arah. Kacamata yang ia kenakan pecah akibat pukulan dari massa.
“Kacamata saya sampai remuk karena dipukul dari depan,” ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa dirinya belum sempat mendapatkan pengawalan aparat ketika serangan tersebut terjadi.
Kericuhan Dipicu Hasil Seleksi Perangkat Desa
Hoho menyebut bahwa aksi demonstrasi tersebut dipicu oleh ketidakpuasan salah satu anggota LSM yang tidak lolos dalam proses seleksi perangkat desa. Massa menuntut agar proses penjaringan perangkat desa yang sudah mencapai tahap pengumuman hasil dibatalkan dan diulang kembali.
Namun, permintaan tersebut ditolak oleh pemerintah desa karena seluruh tahapan seleksi dinilai telah dilaksanakan sesuai prosedur dan mekanisme yang berlaku. Hoho menegaskan bahwa hasil seleksi perangkat desa tidak mungkin dibatalkan hanya karena adanya tekanan dari pihak tertentu.
“Saya minta keadilan, saya pejabat pemerintah sudah melaksanakan, pekerjaan saya sebaik-baiknya, begitupula dengan panitia. Tetapi saya dipaksa mengulang, karena anggota dari LSM itu nilainya di bawah, tapi maunya diulang, kita kiblatnya regulasi tapi mereka tetap tidak mau tahu,” katanya.
Kades Hoho Minta Perlindungan Hukum
Selain mengungkapkan kronologi kejadian, Hoho juga menyoroti respons aparat keamanan di lokasi yang dinilai kurang sigap dalam memberikan perlindungan saat kericuhan terjadi. Ia mengaku kecewa dengan situasi tersebut dan berencana mencari keadilan melalui jalur hukum hingga melaporkan peristiwa itu ke Propam Mabes Polri.
“Saya pejabat pemerintah sudah melaksanakan pekerjaan sebaik-baiknya. Saya minta keadilan kepada Camat, Bupati, hingga Propam Mabes Polri,” pungkasnya.
Insiden ini kini menjadi perhatian masyarakat Banjarnegara, terlebih sosok Hoho Alkaf dikenal cukup aktif di media sosial dan memiliki pengikut yang cukup besar. Hingga saat ini, proses hukum terkait dugaan pengeroyokan terhadap kepala desa tersebut masih menjadi sorotan publik.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











