"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Daerah  

Petugas SPPG Viral Cuci Ayam di Tempat Wudhu, Kepala: Keadaan Darurat

Video Petugas Cuci Ayam di Toilet Masjid Viral dan Tuai Kritik

Sebuah video yang menampilkan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mencuci ayam di area wudhu hingga toilet masjid di Kabupaten Bogor menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kejadian ini terjadi di Desa Bantarjaya, Kecamatan Rancabungur, dan melibatkan pekerja dari SPPG Bantarjaya 02.

Dalam rekaman yang beredar, tampak sejumlah petugas mengenakan seragam biru muda tengah membersihkan ayam di area kamar mandi masjid, termasuk tempat wudhu dan WC. Diperkirakan lebih dari tujuh orang terlibat dalam aktivitas tersebut. Aksi ini langsung menuai beragam reaksi dari warganet, dengan banyak yang mempertanyakan standar higienitas makanan yang diolah di area kamar mandi, sekaligus menyoroti penggunaan fasilitas umum, khususnya tempat ibadah, untuk kegiatan tersebut.

Izin dan Situasi Mendesak

Menanggapi polemik yang berkembang, Kepala SPPG Bantarjaya 02, Wahyudi, bersama sejumlah petugas yang terlibat memberikan klarifikasi kepada publik. Menurut Wahyudi, pihaknya telah lebih dulu berkoordinasi dengan pengurus masjid dan pihak RW setempat sebelum menggunakan fasilitas tersebut.

“Kejadian tersebut terjadi dalam kondisi yang mendesak, sebelumnya kami telah berkoordinasi dan mendapatkan izin dari pihak RW serta DKM setempat,” ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa setelah kegiatan selesai, area masjid langsung dibersihkan secara menyeluruh.

“Perlu kami sampaikan juga setelah kegiatan tersebut selesai, area masjid yang digunakan langsung kami bersihkan secara menyeluruh dan untuk memastikan kebersihan dan kenyamanan tetap terjaga,” katanya.

Permintaan Maaf Disampaikan ke Publik

Meski mengaku telah mengantongi izin, Wahyudi menyadari bahwa tindakan tersebut tidak tepat dan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan di masyarakat. “Kami dengan penuh kesadaran menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat, jamaah masjid, serta pihak yang terganggu,” ungkap Wahyudi.

Kasus ini kembali memicu diskusi publik mengenai pentingnya standar kebersihan dalam pengolahan makanan, terutama untuk program pemerintah seperti makan bergizi gratis. Selain itu, penggunaan fasilitas ibadah untuk kegiatan non-ibadah juga menjadi perhatian, meskipun telah mendapat izin dari pihak setempat. Ke depan, diharapkan ada evaluasi dan pengawasan lebih ketat agar kejadian serupa tidak terulang.

Kasus Lain: Pegawai SPPG Dipecat Setelah Sindir “Rakyat Jelata”

Selain kasus di Bogor, terdapat kasus lain yang melibatkan oknum pegawai SPPG. Seorang pegawai bernama Dyah Fatmi Asih membuat unggahan status WhatsApp yang menyindir “rakyat jelata”. Kalimat tersebut langsung menuai reaksi keras karena dinilai merendahkan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Frasa “rakyat jelata” dinilai sangat merendahkan, apalagi ditujukan kepada penerima manfaat program MBG yang notabene merupakan masyarakat yang harus dilayani. Tangkapan layar unggahan itu menyebar luas, dan identitas pelaku serta instansi tempatnya bekerja terungkap. Situasi semakin memanas setelah muncul video editan berbasis kecerdasan buatan yang ikut memperluas penyebaran kasus ini.

Tindakan Tegas dari Instansi

Koordinator SPPG Kabupaten Purbalingga, Mei Sandra, membenarkan peristiwa tersebut. “Postingan diunggah melalui status WA pada Minggu (15/3/2026) sekitar pukul 19.30 WIB. Kemudian mulai ramai diperbincangkan sejak malam itu sampai hari ini,” ujarnya. Polemik yang terlanjur viral ini akhirnya berujung pada tindakan tegas dari pihak instansi.

Pegawai tersebut resmi diberhentikan oleh Kepala SPPG bersama Yayasan Samingah Mendidik Indonesia yang menaungi program tersebut. Evaluasi internal juga dilakukan untuk seluruh jajaran guna mencegah kejadian serupa.

Permintaan Maaf Terbuka

Usai menuai kecaman luas dan kehilangan pekerjaannya, Dyah Fatmi Asih akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. “Assalamualaikum warakhmatullah wabarokatuh, saya atas nama Dyah Fatmi Asih secara pribadi dengan ini menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh penerima manfaat MBG dan masyarakat luas atas pernyataan saya yang menyebut penerima manfaat sebagai rakyat jelata.”

Ia juga menegaskan bahwa pernyataannya tidak mewakili institusi mana pun. “Saya ingin menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan murni kesalahan pribadi saya dan tidak ada hubungannya dengan dapur MBG maupun pihak pengelola program MBG.” Lebih lanjut, ia menyatakan siap bertanggung jawab penuh atas ucapan tersebut.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *