Proyek Gas Eni di Kalimantan Timur: Investasi Besar dan Dampak Ekonomi Signifikan
Perusahaan energi global Eni resmi mengambil keputusan Final Investment Decision (FID) untuk pengembangan dua proyek gas besar, yaitu Gendalo-Gandang (South Hub) dan Geng North-Gehem (North Hub) di lepas pantai Kalimantan Timur. Proyek ini memiliki nilai investasi mencapai US$15 miliar dan menjadi salah satu komitmen investasi asing terbesar dalam dekade terakhir.
Keputusan ini diambil hanya 18 bulan setelah persetujuan Plan of Development (POD) pada 2024. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyambut baik keputusan investasi tersebut sebagai sinyal kuat kepercayaan investor global terhadap iklim investasi hulu migas di Indonesia. Ia menilai bahwa keputusan ini menjadi langkah penting dalam mendukung peningkatan produksi gas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.
“SKK Migas bersama pemerintah akan terus mendorong percepatan pengembangan proyek-proyek strategis seperti ini agar dapat memberikan manfaat maksimal bagi negara dan masyarakat serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Investasi senilai US$15 miliar ini menempatkan proyek Eni sebagai salah satu komitmen investasi asing terbesar dalam dekade terakhir. Djoko menjelaskan bahwa proses tender pengadaan barang dan jasa serta pembelian Long Lead Item (LLI) telah dilakukan secara intensif. Managing Director Eni Indonesia juga telah melaporkan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang pengumuman FID ini.
Detail Proyek South Hub dan North Hub
Proyek South Hub mencakup pengembangan lapangan Gendalo dan Gandang pada kedalaman laut antara 1.000–1.800 meter dengan pengeboran 7 sumur produksi yang akan dihubungkan ke fasilitas Jangkrik yang sudah ada. Sementara itu, proyek North Hub yang mencakup Geng North dan Gehem akan dikembangkan pada kedalaman yang lebih menantang, yakni 1.700–2.000 meter dengan pengeboran 16 sumur produksi.
Eni akan membangun Floating Production Storage and Offloading (FPSO) baru dengan kapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90.000 barel kondensat per hari. Secara keseluruhan, kedua proyek ini memiliki potensi sumber daya sekitar 10 triliun kaki kubik gas (TCF) dan 550 juta barel kondensat.
Produksi diproyeksikan dimulai pada 2028 dan mencapai puncaknya pada 2029 dengan kapasitas sekitar 2 miliar kaki kubik gas per hari dan 90.000 barel kondensat per hari. Gas yang diproduksi akan dialirkan ke darat melalui pipa untuk memasok jaringan distribusi domestik serta mendukung produksi LNG di fasilitas Bontang untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor. Sementara itu, kondensat akan diproses dan disimpan di fasilitas FPSO lepas pantai sebelum dikirim menggunakan kapal tanker.
Strategi Reaktivasi Train F dan Dampak Ekonomi
Pemanfaatan kembali Train F fasilitas pencairan gas Bontang LNG Plant menjadi langkah strategis yang mempercepat monetisasi gas. Sebagaimana diketahui, fasilitas Bontang yang telah beroperasi sejak 1977 ini mengalami penurunan pasokan gas dalam beberapa tahun terakhir. Reaktivasi Train F akan menghidupkan kembali kapasitas produksi LNG yang sebelumnya idle.
Dari aspek ketenagakerjaan, Djoko memproyeksikan dampak ekonomi yang signifikan. “Dengan nilai investasi tersebut, diperkirakan akan menyerap banyak sekali tenaga kerja, hingga ribuan orang,” katanya.
Lebih lanjut, proyek ini akan menjadi bagian dari aset yang akan digabungkan dalam kerja sama bisnis antara Eni dan perusahaan energi Malaysia Petronas untuk membentuk perusahaan baru (NewCo) yang ditargetkan memiliki produksi lebih dari 500.000 barel setara minyak per hari pada 2029. Pembentukan NewCo bersama Petronas merupakan strategi konsolidasi aset yang lazim dalam industri migas.
Keberlanjutan dan Rekam Jejak Eni di Indonesia
Eni telah beroperasi di Indonesia sejak 2001 dan menjadi salah satu produsen gas penting di kawasan Cekungan Kutai di Selat Makassar, wilayah yang kini berkembang sebagai pusat produksi gas strategis Indonesia. Rekam jejak Eni di Indonesia, khususnya dalam operasi Jangkrik Field, menunjukkan kapabilitas perusahaan ini dalam mengoperasikan proyek gas laut dalam yang kompleks.
Proyek ini tidak hanya menjadi investasi besar, tetapi juga menjadi momentum penting dalam pengembangan sektor energi nasional. Dengan kontribusi signifikan terhadap produksi gas dan LNG, proyek Eni di Kalimantan Timur diharapkan mampu mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











