"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Daerah  

Arus balik di Pelabuhan Pangkalbalam, kisah Rina 20 tahun tak pulang ke Belitung

Kepadatan di Pelabuhan Pangkalbalam Saat Arus Balik

Pukul 12.00 WIB, suasana di area parkir Pelabuhan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, terlihat ramai. Puluhan kendaraan roda empat mendominasi area di depan gedung keberangkatan untuk menurunkan para penumpang. Langkah kaki para pemudik terlihat berjalan agak cepat sembari menyeret koper dan tas besar di atas aspal yang terasa panas di tengah hari.

Para penumpang ini bergerak menuju pintu utama terminal keberangkatan untuk melakukan proses verifikasi dokumen perjalanan. Di depan pintu terminal check-in, antrean mulai terlihat memanjang meskipun tidak sampai memenuhi seluruh selasar gedung pelabuhan. Kondisi ini terasa cukup gerah karena banyaknya orang yang berkumpul dalam waktu bersamaan.

Beberapa penumpang berulang kali melirik jam tangan maupun layar ponsel mereka di tengah antrean. Mereka memastikan waktu yang tersisa untuk check-in sebelum jadwal keberangkatan kapal yang dijadwalkan pada pukul 13.00 WIB. Setelah berhasil melewati pintu check-in, barulah para porter atau buruh panggul pelabuhan mulai terlihat sibuk beraktivitas. Mereka berdiri di area menuju dermaga, siap menawarkan jasa untuk membawa barang bawaan penumpang yang cukup banyak.

Para porter ini tampak memanggul dua hingga tiga kardus besar sekaligus di pundak mereka dengan langkah yang mantap. Kehadiran mereka membantu para penumpang yang membawa logistik berlebih untuk dibawa menuju lambung kapal. Sebelum memasuki dermaga, proses verifikasi tiket dan identitas menjadi tahapan utama yang harus dilalui oleh setiap pemudik siang itu. Petugas pelabuhan memindai lembaran tiket di tengah suara percakapan antarpenumpang yang memenuhi ruangan.

Petugas keamanan dan kru kapal pun berjaga di sepanjang jalur dermaga untuk memastikan alur penumpang berjalan dengan tertib. Setiap penumpang memegang erat tiket dan barang bawaan masing-masing saat melangkah menuju kapal. Di pintu masuk, kru jetfoil menyambut setiap penumpang yang datang dari arah dermaga. Mereka dengan sigap membantu mengarahkan penumpang menuju nomor kursi yang tertera jelas di lembaran tiket masing-masing.

Kondisi di dalam kapal perlahan mulai penuh seiring dengan bertambahnya jumlah penumpang yang masuk dari luar. Proses pencarian kursi ini menciptakan interaksi yang cukup padat di sepanjang lorong kapal cepat. Tas-tas besar dan kardus oleh-oleh memenuhi setiap sudut ruang simpan barang yang tersedia. Beberapa penumpang harus mengatur posisi barang mereka agar bisa berbagi ruang dengan barang bawaan milik pemudik lainnya.

Meskipun pendingin ruangan di dalam kabin sudah mulai bekerja, keringat tetap terlihat di dahi para penumpang yang baru saja naik. Rasa lelah setelah berjalan dari area parkir hingga ke dalam kapal menjadi bagian dari perjuangan mereka. Obrolan antarpenumpang di barisan kursi mulai terdengar setelah mereka menaruh barang bawaan. Tentunya, topik pembicaraan didominasi oleh persiapan untuk kembali bekerja di Belitung setelah menghabiskan libur Lebaran di Pulau Bangka.

Adapun sebagian penumpang lainnya memilih untuk langsung memejamkan mata atau mendengarkan musik melalui perangkat ponsel. Mereka memanfaatkan waktu tunggu sebelum kapal benar-benar lepas tali untuk beristirahat sejenak. Pintu utama kapal pun ditutup rapat oleh kru yang bertugas. Pengumuman mengenai prosedur keselamatan selama pelayaran mulai diperdengarkan melalui layar LED di depan.

Petugas yang berada di darat mulai memberikan aba-aba kepada kru kapal mengenai kesiapan. Perlahan tapi pasti, tali tambat yang mengikat badan kapal ke Dermaga Pangkalbalam mulai dilepaskan oleh petugas lapangan. Deru mesin jetfoil yang khas mulai terasa menggetarkan lantai dek kapal tepat saat waktu menunjukkan pukul 13.45 WIB, atau 45 menit dari yang dijadwalkan. Kapal pun mulai bergerak perlahan meninggalkan dermaga pelabuhan dan menjauhi garis pantai Pulau Bangka.

Wajah-wajah penumpang di balik jendela kaca kini lebih tenang sembari menatap hamparan laut dari kejauhan. Perjalanan ini diperkirakan akan menempuh waktu sekitar empat jam, tergantung pada kondisi arus dan angin di laut. Seluruh penumpang berharap penyeberangan hari ini berjalan dengan lancar hingga mereka sampai di tujuan masing-masing. Namun, ternyata waktu perjalanan kapal sedikit meleset dari yang diperkirakan.

Kapal cepat Express Bahari 3 E berhasil sandar dengan sempurna di Dermaga Pelabuhan Tanjungpandan sekitar pukul 18.30 WIB. Meski begitu, para penumpang sepertinya tidak menghiraukan keterlambatan satu setengah jam dari jadwal tersebut. Satu per satu dari mereka turun menghirup udara segar daratan Belitung sembari memanggul kembali barang-barang yang mereka bawa dari Pulau Bangka.

Kembali Pulang Setelah 2 Dekade Merantau

Di antara ratusan penumpang kapal cepat siang itu, Senin (23/3/2026), sosok Rina (45) memiliki cerita yang cukup menyentuh. Wanita asal Air Ruai, Sungailiat, ini akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, Belitung, setelah tepat 20 tahun lamanya merantau. Rina tidak pulang seorang diri, melainkan didampingi suaminya yang merupakan seorang PNS asal Sulawesi, yang untuk pertama kalinya mengunjungi Pulau Belitung.

Rina sengaja mengajak sang suami karena selama ini suaminya memang belum pernah berkunjung ke pulau tempat ia dilahirkan tersebut. “Iya, ini kan belum pernah ke Belitung, jadi diajak ke Belitung. Suami saya ini asalnya dari Sulawesi,” ujar Rina. Meskipun kini menetap di Bangka, Rina menegaskan bahwa dirinya adalah putri daerah asli yang lahir dan menempuh pendidikan dasar di Belitung. Ia tercatat bersekolah SD hingga kelas 2 SMP di Belitung sebelum akhirnya berpindah domisili ke Sungailiat.

Setelah lulus SMP, Rina melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Sungailiat dan menempuh bangku perkuliahan di Kota Bandung. Setelah lulus kuliah, ia sebenarnya sempat kembali ke Belitung untuk bekerja pada sebuah kantor yang baru dibuka pada tahun 2005. Namun, masa kerja Rina di Belitung hanya bertahan selama satu tahun hingga tahun 2006 sebelum akhirnya menetap permanen di Bangka. Sejak tahun 2006 itulah ia benar-benar kehilangan momen untuk kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya hingga tahun 2026 ini.

“Sudah 20 tahun saya enggak pernah pulang, padahal saya lahir di Belitung. Padahal semua keluarga dan orang tua masih di Belitung semua,” ucapnya. Kepulangan kali ini dirasa sangat tepat oleh Rina karena memanfaatkan momentum libur pegawai dan jatah cuti yang ia miliki. Untuk bisa pulang pada arus balik kali ini, Rina sudah melakukan pemesanan tiket sejak sebelum memasuki pertengahan bulan puasa sebagai upaya mitigasi agar tidak kehabisan.

Sebagai buah tangan untuk keluarga besar di kampung halaman, Rina menyiapkan satu bal besar kerupuk sebagai oleh-oleh utama. Kerupuk tersebut sengaja ia bawa untuk dibagikan kepada sanak saudara yang sudah menantinya. “Cukuplah itu kerupuk satu bal besar untuk bagi-bagi keluarga di sana. Banyak keluarga menanti,” ungkapnya. Rina menceritakan bahwa seluruh keluarga besarnya masih menetap di Belitung, sehingga kepulangannya menjadi momen yang sangat ditunggu. Ia berencana akan menghabiskan waktu hingga hari Jumat mendatang sebelum kembali menyeberang ke Pulau Bangka.

Selama perjalanan, Rina bercerita bahwa ia sempat merasakan perbedaan suasana dibandingkan menggunakan transportasi udara. Baginya, naik kapal memberikan keleluasaan lebih, terutama saat membawa barang bawaan seperti madu atau sayur-sayuran. “Kalau pakai pesawat agak ribet bawa barang-barang, terus kalau pulang juga biasanya bawa madu atau sayuran. Naik kapal lebih enggak ribet kalau kita bawa barang seperti itu,” ujarnya. Rina juga mengamati kondisi perjalanan laut hari ini yang dirasanya sedikit lebih lambat akibat faktor angin dan arus laut yang kuat. Kapal yang ia tumpangi baru bisa sandar hampir pukul setengah satu siang, padahal biasanya pukul setengah dua belas sudah sampai.

Kepulangan Rina kali ini menjadi bukti bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, tanah kelahiran akan selalu memanggil untuk pulang. Rina membuktikan bahwa rindu itu tetap abadi, meski harus menunggu selama dua puluh tahun lamanya.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *