"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Bisnis  

Cilok, Cinta, dan Kebiasaan Mahasiswa UBSI yang Bawa Ide Sederhana Jadi Bisnis Sukses



JAKARTA – Ada fase dalam kehidupan anak muda yang sering terasa membingungkan. Saat ide bermunculan, tetapi keberanian belum cukup. Saat mimpi besar, tetapi langkah pertama masih ragu-ragu. Di titik itu, banyak orang memilih menunggu. Tapi tidak dengan Muhammad Onang Febriandi.

Sebagai mahasiswa semester enam jurusan Manajemen di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), Onang justru memilih jalur yang terlihat sederhana, namun penuh tantangan. Ia mengambil sesuatu yang sudah sangat biasa, yaitu cilok, dan bertanya, “Bisa nggak ya ini dibikin jadi sesuatu yang beda?”

Dari pertanyaan itulah lahir Cilok Cinta. Bukan sekadar cilok yang direbus lalu disiram bumbu kacang. Di tangan Onang, cilok berubah menjadi crispy, berisi, dan yang paling penting punya cerita. Ada ayam suwir pedas yang nyelekit, ayam mercon yang bikin kaget, teriyaki yang manis-manis licin, hingga keju lumer.

Sebenarnya bukan soal varian rasa itu yang menarik. Yang menarik adalah keberanian untuk percaya bahwa jajanan pinggir jalan pun bisa naik kelas, asal dipikirkan dengan serius.

“Berawal dari jajanan tradisional daerah Bandung, Jawa Barat dan diinovasikan melalui perpaduan kekinian serta kreativitas generasi muda, Cilok Cinta lahir sebagai usaha yang melestarikan jajanan tradisional dengan melihat tren di media sosial,” kata Onang saat diwawancarai lewat pesan WhatsApp.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi di baliknya ada satu hal yang sering diremehkan banyak orang yakni proses membaca zaman. Onang tidak sekadar menjual makanan, ia membaca bagaimana generasinya hidup. Apa yang mereka lihat di media sosial, apa yang mereka suka, dan bagaimana mereka memilih sesuatu untuk dibeli.

Ternyata jawabannya bukan selalu yang mahal. Tapi yang relate. Onang juga sadar satu hal penting bahwa kreativitas tanpa tanggung jawab itu berbahaya. Karena itu, ia memastikan produknya dibuat dari bahan yang layak konsumsi dan sudah bersertifikasi halal. Tidak berhenti di rasa dan keamanan, ia bahkan memikirkan bagaimana produknya bisa bertahan lebih lama.

Cilok Cinta hadir dalam bentuk frozen dengan kemasan vacuum bag berbahan Nylon dan PE/LLDPE. Bukan sekadar biar terlihat modern, tapi supaya produk bisa bertahan 2 sampai 3 hari di suhu ruang, 1 sampai 2 minggu di kulkas, dan hingga 3 bulan di freezer.

Kalau dipikir-pikir, ini bukan lagi sekadar jualan cilok. Ini sudah masuk ke cara berpikir bisnis. Dibalik langkah Onang, ada peran kampus yang ikut mendorong. Mugi Raharjo selaku Kepala BSI Entrepreneur Center (BEC) melihat bahwa apa yang dilakukan Onang bukan sekadar eksperimen mahasiswa.

“Inisiatif ini bukan hanya berkontribusi pada ekonomi kreatif saja, tapi juga membentuk karakter mahasiswa menjadi individu yang berani dan inovatif,” ujar Mugi.

Di situlah letak pentingnya cerita ini. Kampus bukan hanya tempat duduk, dengar, lalu pulang, namun menjadi ruang untuk mencoba sesuatu yang belum tentu berhasil dan tetap didukung.

Cilok Cinta pada akhirnya bukan cuma tentang makanan. Cilok Cinta menjadi simbol kecil dari sesuatu yang lebih besar bahwa ide tidak harus megah untuk jadi bermakna. Kadang, cukup jujur, dekat dengan keseharian, dan punya niat untuk terus berkembang. Karena di dunia yang serba cepat ini, yang sering menang bukan yang paling pintar. Tapi yang paling berani mulai.

Kalau kamu ada di fase banyak ide tapi masih bingung mulai dari mana, mungkin kamu butuh lingkungan yang tepat. UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) buat kamu yang ingin kuliah sambil benar-benar berkembang, bukan cuma secara akademik, tapi juga secara nyata. Daftar sekarang di https://pmbubsi.id. Siapa tahu, ide sederhana yang kamu anggap biasa itu justru jadi jalan hidupmu.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *