Perkembangan Terbaru di Selat Hormuz
Kapal kontainer milik perusahaan pelayaran Prancis, CMA CGM, dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz. Ini menjadi pelayaran pertama yang diumumkan secara publik oleh kapal Eropa sejak Iran memblokade jalur air vital tersebut. Sebelumnya, kapal berbendera Malaysia dan Filipina juga berhasil melewati selat setelah penutupan akses oleh Iran akibat ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Kapal berbendera Malta “Cribbi” berlayar melalui selat dari barat ke timur pada Kamis sore dan melanjutkan perjalanannya di lepas pantai Oman pada hari Jumat, tanpa menyebutkan tujuannya, menurut data dari situs web “Marine Traffic”, yang melacak lalu lintas maritim. Kapal tersebut, milik perusahaan pelayaran kontainer terbesar ketiga di dunia, melewati sebelah utara Pulau Larak, dekat pantai Iran, melalui jalur maritim yang kemungkinan besar telah disepakati dengan Garda Revolusi Iran.
Alasan Penahanan Kapal Indonesia
Hingga Jumat (3/4/2026), belum ada kabar terbaru terkait dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di jalur energi global tersebut. Pemerintah Indonesia melalui Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia menyampaikan bahwa pihaknya masih berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) serta pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan pelintasan kapal Indonesia berjalan aman.
Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhadi Sugiono, menilai perbedaan perlakuan Iran terhadap kapal Malaysia, Filipina, dan Indonesia menarik untuk dicermati. Menurut dia, Iran mulai membuka akses Selat Hormuz bagi negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik baik, setelah sebelumnya menutup jalur tersebut sejak 28 Februari 2026 akibat konflik di Timur Tengah.
“Pada dasarnya penutupan Selat Hormuz dilakukan oleh Iran untuk negara-negara yang dikategorikan sebagai musuh,” kata Muhadi saat dimintai pandangan Kompas.com, Jumat. Ia menjelaskan, yang dimaksud negara musuh adalah Amerika Serikat (AS), Israel, serta negara-negara yang terlibat dalam serangan terhadap Iran.
Meski demikian, Muhadi menegaskan Indonesia tidak termasuk dalam kategori tersebut. “Iran memasukkan Indonesia sebagai negara sahabat. Artinya, pembatasan yang terjadi bukan karena Indonesia dianggap musuh,” ujarnya. Ia menduga, penahanan kapal Indonesia kemungkinan besar terkait dengan protokol keamanan yang diterapkan di wilayah konflik.
Presiden Prancis Pilih Jalur Damai
Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, Prancis sedang merencanakan operasi damai dengan negara-negara lain untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengawal kapal tanker minyak dan kapal kargo. “Tidak mungkin menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh Iran melalui pengeboman,” kata Macron pada hari Jumat (3/4/2026), menurut saluran Prancis BFM.
Pada Kamis kemarin, Macron mengatakan operasi militer untuk membuka selat itu tidak realistis. Ia menilai langkah tersebut berisiko tinggi dan dapat memperburuk situasi di kawasan. Macron menyebut Selat Hormuz sangat penting bagi aliran energi, pupuk, dan perdagangan global. Namun, menurutnya, pembukaan jalur tersebut tidak bisa dilakukan dengan kekuatan militer. Ia menegaskan bahwa satu-satunya cara adalah melalui jalur diplomasi.
Kapal Malaysia Bisa Melintas
Di bagian lain, Malaysia telah memperoleh jaminan dari Iran bahwa kapal-kapalnya akan diberikan izin untuk melewati Selat Hormuz dengan aman dan tanpa biaya. Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke, mengatakan, kapal tanker Malaysia yang diizinkan melewati Selat Hormuz akan dibebaskan dari tarif yang mungkin dikenakan oleh Iran.
“Tidak, ini sama sekali tidak, Duta Besar Iran (untuk Malaysia) telah menyebutkan hal ini, tidak ada pungutan tol yang dikenakan pada kapal-kapal Malaysia,” kata Loke kepada wartawan pada hari Selasa (31/3/2026), dikutip dari AFP. “Kami adalah partai yang bersahabat. Kami memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan pemerintah Iran,” sambungnya.
Kendati demikian, dibutuhkan waktu bagi kapal-kapal Malaysia untuk melewati Selat Hormuz karena ada banyak kapal yang terdampar dan berlabuh di sana. “Namun, saya pikir pemerintah Iran telah memberikan komitmen mereka dan kami yakin kapal-kapal kami akan dapat melewati perbatasan,” jelas dia.











