Kenaikan Harga Plastik Mengganggu Pelaku UMKM di Pangkalpinang
Pedagang dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah Kota Pangkalpinang mengeluhkan kenaikan harga plastik yang sangat drastis. Hal ini memicu ketidakstabilan dalam operasional bisnis mereka, terutama bagi mereka yang bergantung pada kemasan plastik.
Penyebab Kenaikan Harga Plastik
Kenaikan harga plastik dipicu oleh beberapa faktor. Pertama, gangguan pasokan bahan baku yang menyebabkan keterbatasan produksi. Kedua, kenaikan harga energi yang meningkatkan biaya produksi. Ketiga, dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi pasokan bahan baku global. Kombinasi dari tiga faktor tersebut menyebabkan lonjakan harga plastik secara merata di tingkat distributor dan grosir.
Pengalaman Pedagang
Atik, pemilik toko plastik di Pasar Ratu Tunggal, mengatakan bahwa kenaikan harga plastik sudah terjadi sejak satu hingga dua pekan terakhir. Menurutnya, kenaikan paling signifikan terjadi pada kantong plastik kresek. “Yang paling terasa itu plastik asoy (kantong plastik kresek), dulu masih di kisaran Rp8.000, sekarang sudah naik jadi Rp14.000,” ujar Atik saat ditemui.
Selain kantong plastik kresek, harga gelas (cup) plastik polos berbagai ukuran juga mengalami kenaikan rata-rata hingga Rp5.000 per renceng. Ia mengatakan bahwa pembeli sering mengeluhkan kenaikan harga tersebut, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak karena harga dari distributor sudah tinggi. “Kami hanya bisa mengedukasi pelanggan supaya saling memahami kondisi ini,” tambahnya.
Kondisi Serupa di Pasar Air Itam
Kondisi serupa terjadi di Pasar Air Itam. Ahan, pemilik toko bahan kue yang turut menjual kemasan plastik di Pasar Air Itam, menyebutkan bahwa kenaikan harga terjadi hampir di semua produk plastik. “Plastik bening, kantong kresek, cup, mangkok plastik, semuanya naik. Plastik asoy yang sebelumnya Rp8.000 sekarang sudah sekitar Rp13.000. Cup plastik yang biasanya Rp10.000 sekarang jadi Rp14.000,” ujar Ahan.
Ia juga mengatakan bahwa barang mulai menipis dan para pedagang ikut kesulitan mencari stok. Hal ini memperparah tekanan ekonomi yang dialami oleh pelaku usaha kecil.
Dampak pada Pelaku UMKM
Dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan oleh pelaku UMKM di Pangkalpinang, khususnya sektor usaha yang sangat bergantung pada kemasan plastik. Lonjakan harga plastik memaksa mereka untuk menaikkan harga produk mereka.
Agatha (28), pedagang es jeruk, mengatakan bahwa ia terpaksa menaikkan harga produknya menyusul melonjaknya harga cup plastik yang digunakan sebagai kemasan es jeruk. “Kenaikan harga cup plastik ukuran 18 oz mencapai Rp200 per cup atau sekitar Rp10.000 per renceng isi 50,” ujarnya.
Ia mengaku sulit menjelaskan kepada pembeli bahwa kenaikan harga minuman disebabkan oleh biaya kemasan. “Masalahnya, kami di pedagang kecil ini sulit menjelaskan ke pembeli. Mereka tahunya harga minuman naik, padahal kami juga tertekan dari biaya kemasan,” tambah Agatha.
Tantangan yang Dihadapi
Kenaikan harga kemasan plastik yang terjadi secara menyeluruh ini menjadi beban tambahan bagi pelaku UMKM di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Mereka berharap ada solusi atau stabilisasi harga di tingkat distributor agar usaha kecil tetap bisa bertahan.
Solusi yang Diharapkan
Para pelaku UMKM berharap pemerintah atau lembaga terkait dapat memberikan dukungan dan solusi untuk mengatasi kenaikan harga plastik. Mereka berharap harga plastik bisa kembali stabil agar operasional bisnis mereka tidak terganggu lebih lanjut.











