
Dua kapal tanker super dari Tiongkok yang mengangkut minyak mentah terlihat melintasi Selat Hormuz, hanya beberapa jam setelah satu kapal tanker asal Yunani melewati jalur tersebut. Pergerakan ini menunjukkan kembalinya aktivitas pengiriman minyak ke pasar global, setelah sebelumnya lalu lintas di jalur vital ini hampir berhenti akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Jika ketiga kapal tersebut berhasil menyelesaikan perjalanan mereka pada hari Sabtu (11/4), yang biasanya memakan waktu sekitar delapan jam, maka hari itu akan menjadi hari dengan arus keluar minyak terbesar dari Selat Hormuz sejak konflik membuat lalu lintas di jalur tersebut nyaris terhenti pada awal Maret lalu.
Tidak ada dari kapal-kapal ini yang membawa minyak dari Iran atau memiliki keterkaitan langsung dengan negara tersebut. Sejak konflik pecah, sebagian besar ekspor minyak dari kawasan ini memang berasal dari Iran. Kembalinya aktivitas di Selat Hormuz sangat penting bagi perdagangan energi global, karena penutupan jalur ini sebelumnya memengaruhi pasokan jutaan barel minyak ke pasar dunia.
Dengan kembali beroperasinya jalur ini, tekanan di pasar fisik yang sempat meningkat diperkirakan akan berkurang. Di sisi lain, Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan melakukan pembicaraan damai di Islamabad dalam beberapa hari ke depan.

Dua kapal tanker China menjadi yang pertama dari negara Asia yang terlihat kembali mengangkut minyak dari kawasan tersebut. Hal ini memberi manfaat bagi Beijing, meskipun juga mencerminkan tekanan yang dialami akibat konflik. Dari segi volume, jumlah pengiriman ini memang cukup signifikan, tetapi masih jauh dari kondisi normal.
Tiga kapal tersebut memiliki kapasitas sekitar 6 juta barel minyak mentah. Sebagai perbandingan, Iran mengekspor sekitar 1,7 juta barel per hari pada bulan lalu. Artinya, total muatan tersebut hanya setara sekitar setengah dari volume pengiriman harian normal, dan itu pun hanya untuk satu hari.
Selain itu, terdapat satu kapal tanker China lain yang belum mengirimkan sinyal pada hari Sabtu, meski sebelumnya terlihat menunggu di dekat dua kapal pertama sebelum mereka berangkat dari Teluk Persia. Sementara itu, kapal tanker Yunani memberi sinyal tujuan menuju Selat Malaka, Malaysia, yang sebelumnya dilaporkan telah memberikan izin bagi kapal kargo negara tersebut untuk berlayar.
Selat Malaka sendiri merupakan jalur transit penting bagi kapal menuju berbagai tujuan di Asia. Iran menyatakan bahwa kapal-kapal masih diizinkan melintas di Hormuz, namun harus mengantongi izin terlebih dahulu.

Dua kapal tanker China tersebut adalah Cospearl Lake dan He Rong Hai, sedangkan kapal Yunani bernama Serifos. Upaya konfirmasi kepada operator kapal di luar jam kerja belum mendapat respons. Berdasarkan data pelacakan, Serifos dan He Rong Hai memuat minyak di Arab Saudi, sementara Cospearl Lake berasal dari Irak.
Ketiga kapal ini tampak mengambil jalur utara di selat tersebut, sesuai arahan Teheran. Rute ini melintasi perairan Iran, menyusuri pesisir Pulau Qeshm dan Larak, serta menjauhi jalur pelayaran utama di bagian selatan Hormuz.
Hampir seluruh aktivitas pelayaran di selat yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan sebagian besar gas alam cair sempat terhenti hanya dalam sehari setelah konflik pecah pada 28 Februari. Meski demikian, data pelacakan digital kapal tetap memiliki potensi manipulasi. Namun, sinyal dari ketiga kapal tersebut sejauh ini dinilai konsisten dengan pergerakan aktual di lapangan.











