"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"
Opini  

Apakah Kita Sudah Berdialog Iman di Tahun 2025?

Tema Misa dan Refleksi Iman

Tema misa di Gereja Katedral Semarang pada tanggal 20-21 Desember 2025 adalah “Iman yang Mengubah Keraguan Menjadi Harapan”. Meskipun saya tidak mengikuti misa di Gereja Katedral, tema tersebut sangat relevan dengan kata kunci homili Romo Thomas Surya Awangga, SJ di Gereja Bongsari Semarang. Kata kuncinya adalah “dialog iman” dengan Tuhan, seperti yang dilakukan Yusuf dalam Bacaan Injil Matius 1:18-24.

Tema misa Gereja Katedral dan kata kunci dialog iman menjadi renungan saya minggu ini, diteguhkan oleh Bapak Uskup Agung Semarang Robertus Rubiyatmoko. Dalam homilinya di Misa Malam Natal di Gereja Katedral yang saya ikuti secara live streaming, Bapak Uskup menyatakan bahwa “Gereja mewartakan kabar yang selalu baru dan sangat menentramkan yakni Allah hadir untuk menyelamatkan kita semua”. Lalu, pertanyaan Bapak Uskup kepada umat, “Pernahkah kita mengalami kehadiran Tuhan dalam hidup kita?”

Setelah membaca teks misa Gereja Katedral dan menyimak homili Romo Thomas dan Bapak Uskup, saya jadi bertanya-tanya: apakah di tahun 2025 yang hampir saya lewati saya pernah mengalami kehadiran Allah? Pernahkah saya berdialog iman dengan Tuhan? Apakah dialog iman saya dengan Tuhan dapat mengubah keraguan saya menjadi harapan? Jangan-jangan saya tidak pernah berdialog iman dengan Tuhan. Jangan-jangan saya tidak pernah mengalami kehadiran Allah. Dan, kalaupun saya berdialog dengan Tuhan, hasilnya saya tetap ragu, karena saya tidak mengalami kehadiran Allah. Sehingga saya tetap tidak punya harapan dan tidak merasa tentram.

Bacaan Injil

Dalam Bacaan Injil Misa 21 Desember 2025 dituliskan kisah tentang keraguan Yusuf untuk menikahi Maria. Masalahnya adalah sebelum mereka hidup sebagai suami istri, Maria sudah mengandung. Sebagai suami yang tulus hati, Yusuf tidak ingin mencemarkan nama baik Maria dan bermaksud untuk menceraikannya secara diam-diam.

Namun, ketika Yusuf mempertimbangkan maksud menceraikan Maria, Malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi. Dan inilah dialog iman Yusuf dengan Tuhan yang kemudian mengubah keraguan menjadi harapan bahwa anak yang dikandung Maria akan menjadi Juru Selamat.

“Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Maria akan melahirkan anak laki-laki, dan engkau menamai Dia: Yesus; karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.”

Bagi saya, itulah yang disebut dialog iman oleh Romo Thomas. Hebatnya, saat itu dan juga mungkin saat ini bagi orang yang tidak percaya, mengandung dari Roh Kudus adalah hal yang mustahil. Di tengah kemustahilan, ternyata Yusuf percaya. Itulah iman. Yusuf merasakan Allah hadir, dan Yusuf percaya.

Pesan Natal Bapak Uskup Mgr. Rubiyatmoko

Banyak pengalaman kita yang dapat mengungkapkan pengalaman Allah hadir dalam hidup kita. Dalam doa makan, doa ulang tahun dan juga ulang tahun baptisan. Yang sering dilupakan justru perayaan ulang tahun baptisan. Padahal itu adalah saat awal mula kita menyatakan diri sebagai murid Kristus, menyatakan iman kita. Sebagai catatan, saya tidak pernah merayakan ulang tahun baptisan, bahkan saya juga tidak ingat tanggal dan bulannya.

Kita merasakan kehadiran Allah terutama saat kita merasakan terang dalam hidup kita. Saat kita mengalami beban berat, berharap tentang berbagai hal. Terang itu bukan lampu, tetapi Kristus itu sendiri. Bagaimana di saat kita mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, kita merasakan Kristus hadir dan menerangi hati kita.

Renungan Pribadi

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk melakukan refleksi dialog iman, refleksi tentang pengalaman iman tentang kehadiran Allah dalam hidup kita. Pengalaman kita tentu sangat beragam sekali.

Tahun 2025 sebenarnya ada banyak hal yang sebenarnya bisa menjadikan saya melakukan dialog iman. Sayangnya semuanya terlewatkan, termasuk di saat malam Natal.

Tahun 2025 saya masih merasakan dampak sakit fisik dan juga sakit karena harus meninggalkan pekerjaan saya karena sakit fisik. Namun, saya tidak membawanya dalam doa, apalagi berdialog iman dan merasakan kehadiran Allah.

Jika saya renungkan selama beberapa hari terakhir, sebenarnya merasakan kehadiran Allah sering kali hanyalah masalah perspektif yang saya gunakan. Dulu, jika uang yang saya terima terpaksa saya keluarkan lagi untuk suatu kepentingan, saya merasa dan berpandangan bahwa uang tersebut bukan rejeki saya.

Paling tidak ada dua kejadian besar dalam hidup saya terkait dengan pandangan saya tersebut. Pertama, ketika istri saya harus diangkat rahimnya karena pendarahan. Saya baru saja menerima honor menjadi co-trainer di pelatihan Aceh Research Training Institute di Banda Aceh beberapa saat setelah tsunami. Jumlah uangnya mirip-mirip antara yang saya terima dengan yang saya keluarkan untuk biaya operasi istri saya. Saat itu perspektif saya, itu bukan atau belum rejeki saya.

Yang kedua, saat saya menerima tunjangan sertifikasi. Tunjangan yang saya peroleh lebih lambat dari seharusnya, karena kebijakan pimpinan yang tidak jelas. Di bagian/unit lain, tunjangan diberikan urut jabatan fungsional akademik, tetapi saya dilompat.

Saya sempat memaki-maki saat tahu adanya kebijakan yang berbeda dengan bagian/unit lain dan saat tahu yang “melompati” saya berbohong. Jabatan fungsional saya saat itu Lektor Kepala, dan yang berbohong mengatakan jabatannya juga Lektor Kepala dan dia peroleh lebih dahulu dari saya. Ternyata, jabatan fungsionalnya hanya Lektor. Makian keluar dari mulut saya.

Saat akhirnya tunjangan sertifikasi saya terima, anak saya harus kos karena kuliah di Yogyakarta. Dan, anehnya jumlah uang tunjangan sertifikasi bisa mirip-mirip dengan biaya kuliah anak saya. Saat itu selain memaki-maki, saya merasa uang tersebut bukan rejeki saya.

Padahal jika perspektif saya ubah. Saya akan merasakan kehadiran Allah. Allah sudah menyiapkan dana untuk operasi istri saya dan dana untuk biaya kuliah anak saya. Oh, Tuhan. Ampuni saya. Mengapa dulu saya berpikirnya, itu bukan rejeki saya?

Penutup

Saya memang sulit berubah menjadi baik. Setelelah menikah, baru kali ini saya merayakan Natal tanpa anak dan istri saya. Tanpa anak, pernah satu kali sebelum anak saya lahir. Tapi tanpa istri, saya belum pernah mengalaminya.

Lalu, apa lacur? Saya kembali pada kebiasaan lama saya sebelum menikah. Dulu saya sangat sering tidak ke gereja untuk mengikuti misa. Dulu saya juga suka mengikuti misa Natal dari Vatikan sambil tiduran dan ngemil.

Malam Natal ini saya kembali ke kebiasaan saya yang sudah saya tinggalkan selama hampir 33 tahun. Gereja istri saya sebelum dan saat kami menikah adalah Gereja Kristen Jawa. Istri saya sangat strict dengan ibadat. Hampir tiada hari Minggu dan hari raya besar yang kami lewati tanpa mengikuti misa di gereja.

Tapi, kali ini saya kembali ke kebiasaan lama saya. Saya memilih mengikuti misa malam Natal secara live streaming. Padahal saya bisa mengikuti misa di gereja. Saya masih ikut misa live streaming sambil tiduran dan ngemil. Kemajuannya, saat Bacaan Injil dan syahadat, saya tertib duduk meskipun hanya memakai kaos oblong dan bercelana pendek.

Saat menuliskan renungan ini, saya jadi ingat kata-kata Gus Dur, mantan presiden kita. Gus Dur mengatakan jika shalat tidak penting, maka pasti yang pertama tidak shalat adalah Nabi Muhammad. Demikian juga sebagai pengikut Kristus, jika misa di gereja tidak penting, maka Yesus tidak mungkin mengajar dan ada di Bait Allah.

Jika saya tidak serius dalam beribadah, bagaimana saya dapat berdialog dengan Tuhan dan merasakan kehadiran Allah? Bagaimana saya dapat mengubah perspektif menjadikan semua hal yang menurut saya buruk, sebagai kehadiran Allah yang penuh kasih?

Renungan ini membawa saya pada satu perspektif baru: bagaimana selalu melihat Allah yang penuh kasih, bukan Allah yang selalu menghukum. Melihat segala yang baik dan buruk sebagai kehadiran Allah, sebagai kasih Allah, bukan sebagai kutukan atau hukuman atau cobaan atau bukan rejeki saya.

Semuanya itu hanya mungkin jika saya terus melakukan dialog iman. Tapi bagaimana mungkin saya dapat melakukan dialog iman, jika beribadah saja masih karena dorongan anak dan istri. Apa jadinya saya jika mereka tidak ada. Wah berubah memang berat.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *