"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Aktif di Kantor dan Sibuk di Rumah

Catatan Ringan Pengawas Sekolah (92)
Aktif di Kantor dan Sibuk Pula di Rumah Jumat, 14-06-2019

Udara yang sejuk terasa nyaman. Badan tidak berkeringat meskipun usai minum kopi hangat. Saya melihat keadaan di luar rumah setelah selesai menghabiskan satu cangkir kopi ginseng. Saya pandangi sederet pakaian basah yang tergantung pada tali jemuran. Bukan hanya satu lapis. Pakaian itu bertumpuk di tali jemuran. Saat saya sentuh ujung bawah dari tumpukan pakaian basah itu terasa berat. Perlahan saya peras dan keluarlah air yang begitu banyak. Saya melakukan pada beberapa tempat.

Agenda pagi ini saya akan ke kantor disdikpora. Setiap Jumat ada apel pagi. Saya percaya teman-teman pengawas akan banyak yang hadir pada hari Jumat tanggal empat belas Juni 2019 ini. Suasana di ruang pengawas sangat saya rindukan. Suasana yang penuh gelak tawa di sela-sela mempersiapkan dan mengevaluasi program kerja kepengawasan. Perbedaan usia di antara kami yang bervariasi membuat “guyonan” semakin semarak.

“Bapak berangkat jam berapa?” Pertanyaan dari Adib meluncur saat saya akan sarapan.
“Jam tujuh!” jawab saya spontan, “mau pakai motorkah?”
Alhamdulilah, Adib mau belajar (lagi) naik sepeda motor. Waktu-waktu sebelumnya, jika disuruh belajar selalu ada alasan untuk menolak. Pagi ini saya bersyukur Adib mempunyai keinginan sendiri untuk belajar lagi.

Mendekati pukul enam pagi, Adib belum juga keluar rumah. Untuk itu, ia saya ingatkan bahwa waktu sudah hampir pukul enam pagi. Tanpa banyak komentar, Adib segera melangkah keluar rumah. Sementara itu, istri saya sudah melakukan aktivitas jalan-jalan di sekitar perumahan.

Cuaca pagi belum stabil. Terkadang awan muncul. Kemudian gerimis kecil turun. Tidak lama kemudian ada sinar surya memancar. Sebentar kemudian ada gerimis. Begitu seterusnya berlangsung sampai saat saya melakukan perjalanan ke kantor.

Pagi ini Adib hanya sebentar belajar naik motor. Maksudnya memperlancar keterampilan mengendarai sepeda motor. Waktu hampir menunjukkan pukul setengah tujuh saat saya meninggalkan rumah. Saya memang ingin segera berangkat mengingat cuaca yang belum stabil.

Jalanan masih sepi. Belum banyak pengguna jalan yang lalu lalang. Kecepatan sepeda motor yang saya kendarai hanya 30 km/jam. Pandangan saya ke kiri dan kanan. Saya perhatikan satu per satu bangunan yang berada di sepanjang jalan provinsi. Geliat perekonomian begitu tampak. Semakin banyak orang membangun tempat usaha. Kios-kios baru bermunculan.

Di samping apotek, SPBU, rumah makan khas Sumatera, terlihat pula warung-warung baru. Toko kelontongan bermunculan selain grosir besar yang sudah terkenal. Dalam hati tentu saya membatin, banyak sekali orang berjualan, terus siapa yang mau beli? Memang rezeki sudah diatur oleh yang mahakuasa. Namun, orang khan perlu mengetahui pangsa pasar. Jumlah penduduk yang stagnan sementara toko-toko banyak berdiri, tentu persaingan akan sangat berat.

Gerimis kecil kadang terasa di badan. Kian lama kian banyak. Untuk itu, saya melajukan sedikit motor, dari 30 km/jam menjadi 50 km/jam. Suasana jalanan masih lengang hingga saya berbelok ke kanan menuju kantor disdikpora setelah melewati kantor polres PPU.

Belum ada mobil yang parkir dekat musala disdikpora. Saya lihat baru ada satu sepeda motor terparkir di dekat pintu masuk ke lobi kantor. Saya pun duduk di teras musala setelah buang air kecil di toilet dekat teras.

Dari kejauhan saya lihat pintu masuk ke lobi masih tertutup. Saya pun segera membuka tas punggung yang berisi laptop. Perlahan-lahan saya ambil ‘teman setia’ yang saya bungkus tas atau tas kresek. Saat saya mulai asyik mengetik, saya lihat Roni Sumulang datang mendekati pintu masuk ke lobi. Dia masih memakai celana pendek. Saya perhatikan dia membuka kunci pintu utama kantor disdikpora itu. Setelah yakin bahwa pintu sudah bisa dibuka, dia segera meninggalkan tempat itu.

Petugas cleaning service baru satu orang yang saya lihat. Dia membuka gembok pintu musala. Saya tidak sempat bertegur sapa dengannya. Kaki saya sudah keburu melangkah menuju pintu yang tadi sudah dibuka Roni Sumulang.

Kaki saya terus saja melangkah menuju tangga ke lantai dua. Tidak ada satu pun orang yang saya jumpai. Ruang pengawas yang ada kipas anginnya yang saya tuju pertama kali. Saya memerlukan stempel disdikpora untuk dibubuhkan (distempelkan) pada daftar kehadiran pribadi.

Selanjutnya saya berpindah ruangan. Seperti biasa saya lebih suka “mengeram” di ruang pengawas ber-AC. Suasananya tenang dan jarang dikunjungi pengawas lain. Laptop segera saya operasikan lagi. Sambil mengetik sesekali saya melihat pesan WA yang masuk.

Pada daftar kehadiran pengawas, saya melihat ada Pak Syafii, pak Syamsuddin, Hj. S. Khasanah, dan H. Yani yang sudah mengirimkan foto daftar hadir ke grup JamKerjaPengawas. Tidak lama berselang saya mendengar suara bel tanda apel berdering.

Saya segera menuruni tangga menuju halaman kantor disdikpora. Teman-teman pengawas sudah banyak yang berdiri di halaman disdikpora. Cuaca yang semakin cerah membuat semangat bertambah. Apel dipimpin langsung kadisdikpora, Pak Marjani. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa rekrutmen CPNS tahun 2019 segera dibuka. Pendaftaran calon pegawai negeri sipil diumumkan (lagi). Pada media sosial, informasi tentang hal itu berseliweran.

Selesai apel pagi, kami para pengawas SMP yang hadir sempat berkumpul untuk membicarakan berbagai hal terkait tugas kepengawasan diselingi senda gurau yang ringan. Pak Anas Baenana, Pak Syafii, Pak Sugeng Mardisantoso, Pak Mukafik, dan Bu Sutji sempat ikut obrolan ringan. Ada tiga pengawas yang tidak kami lihat di hari Jumat tanggal empat belas Juni 2019, yaitu : Pak Habel Hewi yang izin ke kampungnya di Sulawesi; Pak Kholil Imam; dan Pak Tri Wahjoedi.

Ada kue lebaran yang dibawa ibu-ibu ke ruang pengawas. Kami, para bapak kena bagian untuk “menyikat” kue-kue tersebut. Para ibu pengawas mengikuti rapat badan khusus perempuan PGRI. Mereka rapat membahas kegiatan donor darah.

Pada saat para pengawas SMP berkumpul di ruang yang ada kipas anginnya, datanglah dua kepala sekolah ke ruangan itu. Pak Edy Prayitno (kepsek SMPN 1 PPU) dan Pak Alimuddin (kepsek SMPN 3 PPU). Sekolah mereka berdua mendapatkan proyek untuk peningkatan mutu sekolah. Sebagai sekolah “tua” wajarlah kedua sekolah itu memperoleh proyek peningkatan mutu.

Dalam kumpul-kumpul itu disinggung perihal pertemuan Pak Syafii dengan kepala disdikpora di ruang kadisdikpora setelah apel pagi tadi. Ada satu hal yang dibahas khusus, yaitu “kembalinya” pegawai fungsional yang sempat mutasi ke “a nadal” . Pegawai itu semula kepala sekolah kemudian sempat dimutasi ke a nadal karena adanya “surat sakti”. Dalam perjalanan waktu pegawai itu merasa kurang nyaman berada di wilayah a nadal. Akhirnya ia minta dikemblaikan ke jabatan fungsional. Namun, tidak bisa serta merta menjadi kepala sekolah lagi. Persyaratan untuk menjadi kepala sekolah lebih ketat. Guru yang bisa menjabat kepala sekolah harus sudah mengantongi serifikat calon kepala sekolah. Sertifikat itu diperoleh setelah mengikuti serangkaian “bimbingan” yang dilakukan oleh LP2KS Solo.

Akhirnya, pegawai itu akan dijadikan guru biasa di suatu sekolah negeri. Beruntung sekali ia masih dapat diterima oleh kepala sekolah di suatu sekolah negeri. Jika para kepala sekolah menolak, tentu akan muncul masalah baru. Seorang kepala sekolah memang belum lazim untuk dijadikan guru biasa di kabupaten Penajam Paser Utara. Meskipun sudah ada, itu atas permintaan yang bersangkutan, bukan karena suatu kasus sehingga ia dijadikan guru (lagi) setelah menjabat sebagai kepala sekolah. Untuk wilayah Kota Balikpapan peristiwa kepsek yang dijadikan guru biasa, sudah lazim. Demikian pula di Kabupaten Paser. Hal itu sudah biasa. Di kota atau kabupaten lain mungkin juga sudah biasa.

Siang hari usai makan, saya mempunyai kesempatan banyak untuk menyeterika pakaian yang sudah puluh lima persen sudah kering. Saya sangat bersyukur karena pakaian yang saya cuci dua hari berturut-turut dapat “tuntas”. Tentu hal itu berkat bantuan istri dan Adib di rumah. Saat saya ke kantor, pakaian basah yang saya taruh menumpuk di tali jemuran sudah diurai, dipisah-pisahkan untuk dijemur. Saya lihat ada gantungan baju (hanger) baru sejumlah dua belas. Satu lusin! Padahal hanger yang sudah kami miliki lebih dua lusin. Itu berarti pakaian yang harus ‘diurai’ cukup banyak.

Satu per satu saya menyeterika pakaian yang sudah kering mulai dari yang ringan, kecil, dan mudah dilipat. Apa ya? Betul : CD. Sambil menyeterika biasanya saya menghitung jumlah pakaian yang sedang saya seterika. Dengan begitu saya harus mengingat-ingat saat mencuci. Ada berapa yang saya cuci dan berapa yang sudah kering. Jika belum kering, tentu akan saya cari pada tali jemuran di luar rumah.

(Bersambung)

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *