JAKARTA,
Perubahan yang signifikan terjadi dalam dunia properti di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia, khususnya dalam hal definisi ruang komersial. Dua dekade lalu, lapangan golf menjadi simbol status dan tempat bisnis, tetapi kini olahraga raket asal Meksiko, Paddle Court (Padel), muncul sebagai penggerak aktivitas ekonomi baru.
Namun, dengan semakin banyaknya pembangunan lapangan padel di atap gedung perkantoran hingga area residensial, muncul pertanyaan penting: sampai kapan tren ini akan bertahan?
Laporan terbaru Jakarta Property Highlight 2H25 dan Property Outlook 2026 dari Knight Frank Indonesia menggali lebih dalam tentang fenomena ini. Menurut laporan tersebut, padel bukan hanya sekadar tren musiman, melainkan komponen strategis dalam menjaga ketahanan properti di tengah fluktuasi ekonomi.
Bukan Klaim Sepihak
Optimisme terhadap Paddle Court tidak hanya berasal dari komunitas olahraga. Data survei menunjukkan adanya kesepahaman kuat antara tiga pilar utama properti: konsultan, pengembang, dan perbankan.
Syarifah Syaukat, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, menjelaskan bahwa padel telah bertransformasi menjadi economic generator bagi aset properti yang sebelumnya pasif. Ia melihat optimisme yang sangat tinggi, bahkan dari kalangan bankir, angka keyakinannya mencapai 46 persen ke atas.
“Ini berarti hampir setengah dari institusi finansial melihat paddle court sebagai aset yang prospektif untuk dibiayai atau menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang menguntungkan,” ujar Syarifah, Jumat (23/1/2026).
Menurut Syarifah, tren ini didorong oleh kemampuan padel dalam menciptakan trickle-down impact terhadap properti di sekitarnya. Kehadiran lapangan padel meningkatkan traffic konsumen, yang pada gilirannya menghidupkan sektor ritel, F&B (makanan dan minuman), serta meningkatkan nilai sewa area komersial.
Resiliensi di Tengah Pelemahan Daya Beli
Yang menarik adalah tren padel terus berkembang meskipun pasar properti dihantui tiga tantangan besar: pelemahan daya beli, harga tanah yang melambung, dan inflasi.
Di sinilah letak kecerdasan analitis dari fenomena ini. Padel menawarkan efisiensi lahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan lapangan tenis konvensional atau lapangan golf, menjadikannya solusi atas masalah kelangkaan lahan di perkotaan.
Properti adalah sektor yang butuh “mesin”. Ketika mesin ekonomi berjalan, maka permintaan akan datang. Tantangannya adalah memastikan mesin ini tidak melambat akibat pelemahan daya beli.
“Paddle court hadir sebagai salah satu opsi gaya hidup yang resilient, karena ia menggabungkan olahraga dengan interaksi sosial yang intens, sebuah kebutuhan primer masyarakat urban pasca-pandemi,” tambah Syarifah.
Masa Depan Gaya Hidup Hijau
Berdasarkan data Property Outlook 2026, tren padel juga berkelindan dengan meningkatnya preferensi terhadap properti hijau. Sebanyak 76 persen responden menyatakan bahwa aspek keberlanjutan akan menjadi penentu utama dalam pengambilan keputusan properti di tahun 2026.
Lapangan padel modern kini mulai mengadopsi material ramah lingkungan dan sistem pencahayaan hemat energi. Integrasi ini membuat kawasan mixed-use yang memiliki fasilitas padel menjadi lebih kompetitif di mata penyewa atau pembeli yang kian sadar akan isu Environmental, Social, and Governance (ESG).
Mengukuhkan Posisi sebagai ‘Growth Engine’
Sampai kapan padel akan bertahan? Analisis Knight Frank Indonesia memprediksi bahwa padel akan terus tumbuh meningkat sepanjang tahun 2026. Berbeda dengan tren sepeda atau olahraga lain yang sempat meledak lalu melandai, padel memiliki ekosistem yang lebih terintegrasi dengan pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) dan transformasi ritel.
Knight Frank melihat padel sebagai bagian dari transformasi ritel menjadi ruang terbuka (open space) yang mementingkan komunitas. Ia bukan lagi sekadar tempat berkeringat, tapi tempat hangout dan networking.
“Selama pengembang mampu mengemasnya dalam lingkungan yang amenity-rich, tren ini akan terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu growth engine di lansekap properti nasional,” pungkas Syarifah.
Dengan Jabodetabek, Bali, dan Surabaya sebagai tiga kota teratas dalam prospek pertumbuhan, Paddle Court diprediksi akan terus berevolusi dari sekadar tren gaya hidup menjadi komponen permanen dalam tipologi properti modern Indonesia.











