Pengalaman Produksi Film Kuyank yang Penuh Tantangan
Film Kuyank, salah satu judul film horor yang sedang mencuri perhatian, mengambil inspirasi dari kisah dan mitos masyarakat Kalimantan. Dalam proses produksinya, film ini dihadapkan pada berbagai tantangan berat, terutama karena syuting yang dilakukan di pedalaman pulau terbesar di Indonesia.
Ketika ditemui dalam Gala Premiere film Kuyank yang digelar di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, sutradara film tersebut, Johansyah Jumberan, menjelaskan bahwa memproduksi film ini bukanlah hal mudah. Ia menyebutkan bahwa membawa ratusan orang ke pedalaman Kalimantan hampir lima jam menjadi tantangan besar. Bahkan, ia menyebutkan bahwa kamera yang digunakan, yaitu Alexa 35, sangat rentan rusak jika terjatuh ke sungai.
- “Mewujudkan film Kuyank ini enggak gampang, karena bawa ratusan orang ke pedalaman Kalimantan hampir lima jam. Kamera kita itu Alexa 35, kalau terjun satu ke sungai, berapa miliar saya harus ganti,” ujar Johansyah dikutip dari Tribunnews.com, Minggu (25/1/2026).
Proses Produksi yang Serius
Selain tantangan fisik selama syuting, proses produksi Film Kuyank juga melibatkan penggunaan efek visual yang sangat rumit. Untuk menghindari hasil CGI yang kurang maksimal, tim produksi menggandeng LMN Studio, yang telah dua kali berturut-turut meraih Piala Citra Festival Film Indonesia.
- Proses pengerjaan CGI untuk film ini disebut memakan waktu hingga satu tahun.
- “Kita mengerjakan CGI selama setahun. Tim CGI yang dipakai itu yang menang FFI dua kali berturut-turut,” kata Johansyah.
Pendekatan Cerita yang Matang
Johansyah juga menegaskan bahwa Film Kuyank dibuat dengan pendekatan yang lebih matang setelah menerima berbagai masukan dari film sebelumnya, Saranjana: Kota Ghaib. Dari sisi cerita, penulis skenario Asaf Antariksa menjelaskan bahwa Kuyank berupaya menghadirkan representasi mitos Kuyang yang lebih sesuai dengan kepercayaan masyarakat Banjar.
Menurutnya, selama ini mitos tersebut kerap disalahartikan sebagai sosok pembunuh, padahal makna aslinya jauh lebih kompleks.
- “Mitos yang kami ambil yakni Kuyang tidak membunuh. Dalam kepercayaan Banjar, Kuyang berkaitan dengan keinginan kecantikan, rasa sayang pada suami, dan awet muda,” jelas Asaf.
Pendekatan ini diharapkan menghadirkan teror psikologis yang lebih kuat dibandingkan sekadar horor visual. Asaf juga menilai film ini menjadi alternatif di tengah dominasi film horor berlatar budaya Jawa.
Dengan mengangkat folklore Kalimantan, Kuyank diharapkan memberi pengalaman emosional yang berbeda bagi penonton.
Pengalaman Syuting yang Berkesan
Sementara itu, aktor utama Rio Dewanto yang memerankan karakter Badri mengaku mendapatkan pengalaman berkesan selama proses syuting. Selain harus beradaptasi dengan kondisi alam, ia juga merasakan langsung kehidupan masyarakat lokal yang kuat dengan adat dan nilai religius.
- “Pengalaman syuting di Banjar menyenangkan. Kalau enggak ada proyek ini, mungkin saya enggak pernah ke Kalimantan,” ujar Rio.
- Ia juga mengaku sempat mengisi waktu luang dengan memancing di sela-sela jadwal syuting, meski tidak mendapatkan hasil.
Sinopsis Film Kuyank
Film Kuyank mengambil latar waktu tujuh tahun sebelum terbukanya gerbang kota gaib Saranjana. Cerita berfokus pada rumah tangga Rusmiati (Putri Intan Kasela) dan Badri (Rio Dewanto) yang tertekan oleh tuntutan sosial untuk memiliki keturunan, hingga mendorong Rusmiati mempelajari ilmu hitam Kuyang.
Film yang turut dibintangi Ochi Rosdiana, Jolene Marie, Barry Prima, dan Dayu Wijanto ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 29 Januari 2026.
Daftar Pemeran Film Kuyank
- Rio Dewanto sebagai Badri
- Putri Intan sebagai Rusmiati
- Ochi Rosdiana sebagai Fauziah
- Jolene Marie sebagai Husnah
- Barry Prima sebagai Utuh Ampong
- Dayu Wijanto sebagai Hj. Saidah
- Hazman Alidrus sebagai Rustam
- Betari Ayu sebagai Fitri
- Rina Basrindu sebagai Acil Imas
- Ananda George sebagai Kakek Hendra
- Elizabeth Christine sebagai Latifah
- Bastari Bayu sebagai Hamdan
- Riesvi Hafisa sebagai Istri Rustam
- Idang Nia sebagai Istri Penjual Pentol
- Ipul Hary sebagai Pak RT
- Tommy Kaganangan sebagai Penjual Pentol
- Pak Daulat sebagai Alamsyah
- Ustadz Izhar sebagai Ustadz Pamakaman











