"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Pemerintah Perkuat Penindakan dan Intervensi Pasar untuk Jaga Stabilitas Harga Pangan Jelang Ramadan

Stabilisasi Harga Pangan di Tengah Ramadan dan Idulfitri

Pergerakan harga komoditas pangan pokok strategis sering menjadi faktor pengungkit inflasi, terutama dalam momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadan dan Idulfitri. Tantangan ini sebenarnya sudah cukup ditangani oleh pemerintah dan akan terus dijaga agar tetap stabil.

Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah telah berkomitmen dengan asosiasi pelaku usaha pangan hingga aparat penegak hukum untuk bersama-sama menjaga harga pangan pokok strategis. Langkah ini dilakukan dalam rangka menyambut Ramadan dan Idulfitri.

“Ini perintah Bapak Presiden. Stabilkan harga. Titik. Siap Bapak Presiden. (Itu) sebelum berangkat ke luar negeri. Hari ini, kita rapat koordinasi yang dihadiri pihak terkait, semuanya yang terkait. Kesimpulannya, kita menjaga Harga Eceran Tertinggi pangan, sekarang sampai Ramadhan sampai selesai,” ujar Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta pada Kamis (22/1/2026).

Amran menegaskan bahwa tidak ada boleh pengusaha seluruh Indonesia menjual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Jika ada yang melanggarnya, Satgas Pangan Polri akan bertindak, termasuk menindaknya jika diperlukan. “Tidak ada lagi kesempatan, karena sudah lama kita imbau-imbau. (Jadi) tidak boleh menjual di atas HET,” tegasnya.

Selain pengawasan ketat terhadap harga di lini rantai pasok, pemerintah juga akan melaksanakan program-program intervensi seperti Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di tingkat konsumen. Hal ini dilakukan untuk menjaga inflasi yang biasanya mengalami pergerakan di awal Ramadan.

Data Inflasi Pangan Selama Ramadan dan Idulfitri

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi umum secara bulanan di awal Ramadan tahun 2025 merupakan titik tertinggi dalam lima tahun terakhir di angka 1,65 persen. Namun, inflasi umum secara bulanan selama ini selalu konsisten berada di bawah 1 persen.

Sementara itu, khusus inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) atau kerap disebut sebagai inflasi pangan, belum pernah melampaui limit kewajaran tingkat inflasi di momen Ramadan dan Idulfitri. Dalam 5 tahun terakhir, inflasi pangan secara bulanan (month to month) selama Ramadan dan Idulfitri senantiasa berada kurang dari 3 persen.

Hanya inflasi pangan di Ramadan dan Idulfitri tahun 2022 yang sempat agak berfluktuasi. Kala itu Ramadan dimulai pada awal April 2022. Inflasi pangan berada di 2,30 persen dan pada Mei 2022 kembali ada inflasi di 0,94 persen. Sementara di tahun 2023, inflasi pangan selama Ramadan dan Idulfitri kompak berada di level 0,29 persen, tepatnya pada Maret dan April 2023.

Di tahun 2024, polanya mulai berubah. Ramadan yang dimulai pada tengah Maret 2024 menorehkan inflasi pangan di 2,16 persen. Namun pada bulan berikutnya terjadi deflasi 0,31 persen pada April 2024.

Di tahun 2025, Ramadan yang dimulai pada awal Maret 2025 mencatatkan inflasi pangan di level 1,96 persen. Bulan berikutnya yakni pada April 2025 justru terjadi deflasi di level yang tipis 0,04 persen.

Kondisi Pangan Saat Ini

Sementara, untuk kondisi menjelang Ramadan dan Idulfitri tahun 2026 saat ini, inflasi pangan yang terakhir tercatat di level 2,74 persen pada Desember 2025. Untuk itu, pemerintah akan mengimplementasi dua jurus yakni menggencarkan berbagai program intervensi pangan dan memperketat pengawasan harga guna menekan tingkat inflasi ke depannya.

Lebih lanjut, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menjelaskan ke depannya pemerintah akan menjaga harga agar sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Pembelian (HAP) tingkat produsen atau Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen. Ini karena mengingat kuatnya stok pangan pokok strategis secara nasional.

“HET juga kita jaga. Kenapa? Alhamdulillah stok kita, pangan strategis, beras, stok kita, hari ini 3,3 juta ton. Ini tertinggi stok akhir tahun sepanjang sejarah. Minyak goreng juga tersedia. Jadi ini juga tidak ada alasan untuk naik,” kata Amran.

“Kemudian daging ayam justru dibawa HAP tadi. Itu di Rp 22 ribu-23 ribu per kilogram, padahal HAP 25 ribu. Ini harus naik. Insya Allah di Ramadhan naik. Kemudian telur aman, bawang merah aman. Stok sampai Idulfitri lebih dari cukup. Sekarang stok kita banyak,” sebut Amran optimis.

Peran Semua Pihak

Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman meminta semua pihak agar dapat terlibat dan sejalan dengan pemerintah. Harga harus dijaga sesuai yang telah ditentukan. Ini agar produsen tersenyum, pedagang bahagia, dan konsumennya juga ikut menikmati, terutama selama bulan suci Ramadhan.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *