"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Cinta Sejati Jenderal Hoegeng: Menolak TMP Kalibata untuk Bersemayam di Samping Istri

Jenazah Eyang Meri akan Dimakamkan di Samping Makam Jenderal Hoegeng

Jenazah Eyang Meri, istri dari Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso, rencananya akan dimakamkan pada Rabu besok di Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Giri Tama, Tonjong, Parung, Bogor. Lokasi ini dipilih agar Ibu Meri dapat beristirahat selamanya tepat di samping makam sang suami, Jenderal Hoegeng. Keputusan tersebut diambil karena keinginan mendiang Jenderal Hoegeng untuk tetap berdampingan dengan istrinya hingga akhir hayat.

Mendiang Jenderal Hoegeng semasa hidupnya sengaja berpesan agar tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Alasannya adalah ia ingin terus berdampingan dengan sang istri hingga akhir hayat. Adit Hoegeng, putra almarhumah, menjelaskan bahwa pesan ayahnya sangat jelas: “Kalau saya di Makam Pahlawan, ibumu tidak bisa ada di sebelah saya.” Karena jatahnya kan cuma untuk almarhum (penerima gelar), Ibu tidak ada jatah.

Kepergian yang Menyedihkan

Kabar duka menyelimuti keluarga besar mendiang Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Istri Jenderal Hoegeng, Meriyati Roeslani Hoegeng, atau yang akrab disapa Eyang Meri Hoegeng, meninggal dunia, Selasa (3/2/2026). Eyang Meri menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, sekira pukul 13.20 WIB. Kepergian sosok wanita tangguh ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat yang memadati rumah duka di Kompleks Pesona Khayangan, Sukmajaya, Kota Depok.

Adit Soetanto Hoegeng, putra almarhumah, mengungkapkan bahwa ibundanya wafat dalam usia yang sangat sepuh. “Ibu usianya 100 tahun 6 bulan. Alhamdulillah panjang umur,” ujar Adit saat ditemui awak media di rumah duka, Selasa sore. Ia menambahkan bahwa jenazah Eyang Meri akan dimakamkan pada Rabu besok di TPBU Giri Tama, Tonjong, Parung, Bogor. “Insyaallah besok sebelum Zuhur kami sudah bisa lakukan pemakaman almarhumah,” jelasnya.

Perjuangan Eyang Meri dalam Masa Senja

Sebelum meninggal dunia, kondisi kesehatan Ibu Meri dikabarkan terus menurun karena faktor usia. Adit menyebutkan bahwa ibundanya sempat dua kali keluar masuk rumah sakit dalam rentang waktu dua minggu terakhir. “Ibu dua kali dirawat. Satu minggu pertama di pertengahan Oktober, sempat boleh pulang. Tapi dua hari di rumah, Ibu sudah tidak mau makan. Jadi akhirnya kita bawa lagi Ibu ke rumah sakit untuk yang kedua kalinya dari tanggal 26 (Januari) sampai hari ini kondisinya terus menurun,” ujar Adit di rumah duka, Depok, Selasa sore.

Penurunan kesehatan ibundanya bukan disebabkan oleh penyakit berat yang mendadak, melainkan komplikasi faktor usia yang diperparah dengan cedera paha yang dialaminya. Cedera tersebut dialami almarhumah sejak tahun 2020 silam. Kondisi ini membuat wanita yang wafat di usia 100 tahun 6 bulan tersebut harus menghabiskan sisa hidupnya dengan terbaring di tempat tidur.

“Ya, enam tahun di tempat tidur, bisa dibayangkan bagaimana lelahnya beliau dengan usia yang makin sepuh,” ungkap Adit dengan nada haru. Meski harus berjuang selama enam tahun di atas tempat tidur, Adit menegaskan ibundanya sebenarnya memiliki ketahanan tubuh yang sangat baik untuk orang seusianya. Ia memastikan tidak ada serangan penyakit saraf yang dialami sang bunda.

Profil Eyang Meri

Eyang Meri lahir pada 23 Juni 1925. Ia menikah dengan Jenderal Hoegeng pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta. Jenderal Hoegeng Iman Santoso adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) ke-5, yang menjabat pada periode 1968 hingga 1971. Jenderal Hoegeng dikenal sebagai sosok polisi yang jujur, berintegritas tinggi, dan anti-korupsi dalam sejarah kepolisian Indonesia.

Dari pernikahan keduanya, dikaruniai tiga orang anak yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti dan Aditya Soegeng Roeslani. Sosok Eyang Meri dikenal sebagai wanita yang memiliki teladan bagi insan Bhayangkara di Indonesia. Bahkan, banyak tokoh yang selalu menghormati dirinya menjelang hari Bhayangkara setiap 1 Juli.


Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *