Proyek Bali Urban Subway Masih Tertunda, Tidak Ada Pergerakan Nyata
Proyek pembangunan Bali Urban Subway, yang diharapkan menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan di kawasan wisata Bali, hingga saat ini masih belum menunjukkan perkembangan signifikan. Meskipun upacara ground breaking dan Ngeruwak telah dilaksanakan pada 4 September 2024 di Sentral Parkir Kuta, Kabupaten Badung, hingga kini tidak ada tanda-tanda aktivitas konstruksi yang nyata.
Pantauan terbaru di lokasi tersebut pada 9 Februari 2026 menunjukkan bahwa lahan masih kosong. Tampak plang pembatas berwarna kuning dan seng putih bertuliskan PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) sebagai pengelola proyek. Namun, tidak ada alat berat atau pekerja yang terlihat melakukan pengerjaan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kelanjutan proyek yang sebelumnya dijanjikan akan dimulai pada April 2025 dengan kedatangan delapan Tunnel Boring Machine (TBM).
Ketua Komisi III DPRD Bali, Nyoman Suyasa, menyatakan bahwa proyek ini sudah direncanakan jauh-jauh hari, tetapi sampai saat ini belum ada progres. Ia juga menyebutkan bahwa investornya berasal dari China dan Korea, meskipun hingga saat ini belum ada informasi valid mengenai perkembangan proyek.
“Rencananya proyek ini dibagi dalam empat fase. Fase satu dari Bandara-Kuta, fase dua Cemagi-Canggu-Mengwi sebenarnya sudah dalam tahap pembangunan karena proses feasibility study (FS) sudah selesai,” ujar Suyasa. Ia menegaskan bahwa proyek ini sangat urgent untuk mengatasi kemacetan di daerah padat seperti Kuta dan Canggu.
Pendanaan dan Rencana Pembangunan
Proyek kereta di Bali menggunakan sistem pendanaan dari investor luar negeri tanpa melibatkan APBD. Namun, hingga saat ini, tidak ada kepastian apakah dana tersebut sudah tersedia atau tidak. Suyasa juga menyampaikan bahwa pihaknya akan segera mendiskusikan masalah ini dengan Dinas dan Gubernur Bali untuk memastikan kelanjutan proyek.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Kadek Mudarta, menjelaskan bahwa saat ini PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) sedang dalam proses Memorandum of Understanding (MoU) dengan institusi China North Industries Group Corporation Limited (Norinco) untuk kajian perencanaan dan pembangunan kereta api. Ia juga mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan evaluasi trase jika ada pengajuan garis rencana tapak atau sumbu jalur kereta api.
Mudarta menambahkan bahwa hingga saat ini, belum ada tanda-tanda aktivitas nyata dari PT Bumi Indah Prima (BIP) dan PT SBDJ. Ia juga mendengar bahwa PT SBDJ sedang mencari mitra baru.
Pengamat: Gap Antara Kebijakan dan Realisasi
Pengamat politik dan kebijakan publik, Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte, menilai bahwa secara administratif, Bali Subway sudah memasuki fase konstruksi. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Ia menyoroti adanya gap serius antara kebijakan dan realisasi teknis.
“Ground breaking sudah dilakukan, tapi konstruksi nyata tidak bergerak signifikan,” katanya. Menurutnya, skema pembiayaan tanpa APBN/APBD membuat proyek ini sepenuhnya bergantung pada soliditas investor. Namun, hingga akhir 2025, PT BIP yang ditunjuk sebagai lead consortium belum mampu menunjukkan akselerasi pendanaan maupun pekerjaan fisik di koridor utama.
Perubahan moda dari Light Rail Transit (LRT) ke Autonomous Rail Transit (ART) juga memicu kecurigaan. Perubahan konsep ini terjadi bahkan sebelum fondasi pertama dibangun, yang bagi banyak pihak bukan sekadar soal teknologi, melainkan sinyal kuat adanya kegamangan perencanaan dan pembiayaan di tubuh PT SBDJ dan PT BIP.
Tantangan dan Harapan
Meski proyek ini memerlukan anggaran yang besar dan waktu yang panjang, kebutuhan transportasi massal di bawah tanah di Bali dianggap sangat penting. Dengan keterbatasan lahan, transportasi berbasis kereta bawah tanah menjadi alternatif yang dibutuhkan.
Namun, tantangan utama adalah ketersediaan dana dan komitmen dari investor. Tanpa dukungan yang kuat, proyek ini akan sulit berkembang. Publik masih menanti langkah nyata dari PT SBDJ dan PT BIP di lapangan. Hingga saat ini, tidak ada terowongan yang digali, dan kondisi ini semakin memperkuat keraguan tentang keberlanjutan proyek ini.











