Ketika Lupa Jumlah Utang Puasa Ramadan
Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah balig dan memenuhi syarat puasa. Namun, dalam pelaksanaannya, ada kondisi tertentu yang membuat seseorang tidak dapat berpuasa. Misalnya karena sakit, bepergian jauh, atau perempuan yang sedang haid. Mereka pun wajib mengganti puasa di luar bulan Ramadan sebanyak hari yang ditinggalkan selama tidak sedang beruzur syar’i. Tapi, bagaimana jika seseorang lupa jumlah utang puasa yang harus dibayarkan?
Berikut penjelasan mengenai hal tersebut:
1. Bagaimana jika lupa jumlah utang puasa?
Berapa pun jumlah utang puasa Ramadan tetap wajib diqada. Sebab, puasa Ramadan hukumnya fardu’ain sehingga jika belum dibayarkan akan tetap menjadi tanggungan. Orang yang lupa jumlah utang puasanya disarankan untuk memperbanyak puasa dengan niat qada puasa Ramadan.
Dari keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa orang yang memiliki utang puasa dan ingin memperbaiki diri di hadapan Allah Swt., sebaiknya memperbanyak puasa dengan niat mengqada puasa Ramadan. Jika ternyata kewajiban qadanya sudah terpenuhi namun ia tetap berpuasa, maka puasa tersebut bernilai sebagai pahala puasa sunah.
2. Ganti sesuai dengan keyakinan dan ambil yang paling aman
Mayoritas ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa jika seseorang ragu tentang jumlah utang puasa, maka ia wajib mengambil jumlah yang paling banyak atau meyakinkan. Hal ini merujuk pada hadis riwayat Abu Daud sebagai berikut: “Apabila kalian ragu dalam salat, hendaknya dia buang keraguannya dan dia ambil yang lebih meyakinkan.” (HR. Abu Daud 1024 dan dishahihkan Al-Albani).
Misalnya, kamu lupa apakah utang puasamu 7 hari atau 8 hari. Saat hendak mengambil 7 hari, hatimu belum sepenuhnya lega. Maka, sebaiknya ambil 8 hari, ya. Mengganti puasa lebih dari perkiraan jumlah hari yang harus dibayarkan tidak menjadi masalah. Bahkan, kelebihannya tetap dihitung sebagai ibadah sunah dan menambah pahala. Sebaliknya, jika ternyata kurang dari yang seharusnya, justru membuat utang puasa belum lunas.

3. Apakah mengqada puasa harus berurutan?
Waktu untuk melaksanakan qada puasa Ramadan sebenarnya sangat panjang. Namun, ada baiknya segera setelah Ramadan berakhir hingga sebelum datang Ramadan berikutnya. Qada puasa ini bisa dilakukan pada hari apa saja, selama tidak bertepatan dengan hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa, seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan hari tasyrik (11-13 Zulhijah).
Menurut NU Online, pelaksanaan qada puasa juga tidak wajib dilakukan secara berurutan. Seseorang boleh menggantinya secara bertahap atau terpisah. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah saw. dalam hadis sebagai berikut: “Qadha’ (puasa) Ramadhan itu, jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya terpisah. Dan jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya berurutan.” (HR. Daruquthni, dari Ibnu ‘Umar).

4. Niat qada puasa Ramadan
Setelah memahami penjelasan tentang bagaimana jika lupa jumlah utang puasa yang harus dibayarkan, kamu juga perlu tahu niat untuk mengganti puasa Ramadan. Berikut bacaan niat qada puasa Ramadan yang bisa diucapkan pada malam hari sebelum terbit fajar (waktu imsak):
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku berniat berpuasa esok hari untuk mengganti puasa Ramadhan karena Allah Ta’ala.”

FAQ Seputar Bagaimana Jika Lupa Jumlah Utang Puasa
| Question | Answer |
|---|---|
| Bagaimana jika lupa berapa hari utang puasa? | Perkirakan jumlah yang paling mendekati, lalu ambil angka yang meyakinkan hati. |
| Haruskah mengambil jumlah yang lebih saat ragu? | Ya, ambil yang paling banyak agar lebih aman (untuk kehati-hatian). |
| Apakah harus langsung dibayar sekaligus? | Tidak harus, boleh dicicil hingga sebelum tiba Ramadan berikutnya. |
| Apakah Hutang Puasa Boleh Dicicil atau Harus Berturut-Turut? | Boleh dicicil, tidak harus berturut-turut. |
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











