"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Selat Hormuz Tertutup, Harga Barang dan Biaya Logistik Meningkat, Indonesia Terkena Dampak?

Kekhawatiran Pelaku Usaha Akibat Penutupan Selat Hormuz

Gelombang kekhawatiran mulai terasa di kalangan pelaku usaha nasional setelah penutupan Selat Hormuz menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Jalur vital energi dunia itu kini terhenti, memicu kalkulasi ulang biaya logistik dan potensi lonjakan harga barang di dalam negeri.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dilakukan setelah serangan gabungan AS dan Israel. Pengumuman penutupan tersebut dilakukan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC), yang membuat perusahaan minyak dan pedagang global menghentikan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, serta LNG. Situasi semakin memanas setelah kabar wafatnya Ali Khamenei dikonfirmasi media Iran, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim serangan menyasar kompleks tempat pemimpin tertinggi Iran itu berada.

Jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab selama ini menjadi jalur utama bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dan 20–25 persen perdagangan LNG global. Negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengirim sebagian besar minyak mentah mereka ke Asia melalui jalur tersebut. Qatar pun menyalurkan hampir seluruh ekspor LNG-nya lewat selat tersebut.

Dampak pada Harga Minyak dan Logistik

Dampak dari penutupan Selat Hormuz terasa langsung pada harga minyak global—termasuk Brent—yang diperkirakan terdorong naik. Kenaikan ini berisiko merembet pada harga solar domestik, komponen utama operasional transportasi darat yang menjadi tulang punggung logistik Indonesia.

Di dalam negeri, pelaku usaha mulai mengukur dampak dalam horizon dua hingga tiga bulan ke depan. Ketua Dewan Penasihat Hippindo, Tutum Rahanta, menyebut tekanan tidak datang langsung dari arus perdagangan barang konsumsi—yang masih banyak bersumber dari Asia, khususnya China—melainkan lewat pembengkakan ongkos logistik.

“Serangan AS dan Israel ke Iran jelas mengganggu perdagangan dan jalur logistik, terutama melalui Selat Hormuz,” kata Tutum, Minggu (1/3/2026).

”Kemungkinan kenaikan harga ke depan tetap perlu dipersiapkan dalam penjualan saat ini untuk menjaga keberlangsungan usaha,” katanya.

Stabilitas harga, lanjutnya, akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah, terutama terkait langkah PT Pertamina (Persero) sebagai pemasok utama BBM dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) sebagai penyedia listrik nasional.

Prediksi Kenaikan Harga Energi dan Biaya Logistik

Sementara itu, Founder dan CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, menilai gangguan di Selat Hormuz berpotensi langsung mendorong kenaikan harga energi internasional.

”Setiap gangguan (di Selat Hormuz) dapat mendorong kenaikan harga energi internasional,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu.

Ia memetakan sejumlah skenario. Dalam skenario moderat, lonjakan harga minyak global 25 dolar AS per barel dapat mendorong kenaikan harga keekonomian solar Rp 750–Rp 2.000 per liter. Dalam kondisi lebih berat, kenaikan minyak bisa mencapai 50 dolar AS per barel.

Dengan asumsi BBM menyumbang 35–40 persen biaya operasional truk, kenaikan solar 10 persen bisa mengerek ongkos angkut 3,5–4 persen. Jika solar naik 20 persen, ongkos truk berpotensi melonjak 7–8 persen.

”Dalam skenario lebih berat, kenaikan solar 30 persen dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5-12 persen,” ujar Setijadi.

Dampak pada Harga Barang dan Sektor Ekonomi

Efek lanjutannya tak kecil. Dengan biaya logistik rata-rata 14 persen dari harga produk—dan sekitar separuhnya berasal dari transportasi darat—kenaikan ongkos truk 7–8 persen dapat mendorong harga barang naik sekitar 0,5 persen. Dalam kondisi ekstrem, kenaikan di atas 10 persen bisa mengerek harga barang mendekati 0,8 persen, terutama pada komoditas berukuran besar dan bermargin tipis seperti pangan, bahan bangunan, serta produk konsumsi cepat saji.

Setijadi mengingatkan risiko inflasi biaya produksi akan membebani komoditas pangan dan kebutuhan pokok. Industri berbasis impor menghadapi tekanan ganda: lonjakan biaya bahan baku sekaligus distribusi. Sektor konstruksi dan UMKM pun dinilai rentan.

”Sektor konstruksi dan UMKM juga relatif rentan karena tingginya biaya angkut dan keterbatasan margin,” tambahnya.

Ia menekankan perlunya kebijakan fiskal adaptif untuk menjaga stabilitas BBM, percepatan diversifikasi energi, serta penguatan konektivitas multimoda—khususnya optimalisasi angkutan laut dan kereta api—agar ketergantungan pada solar bisa ditekan.

”Tanpa reformasi struktural sistem logistik, setiap gejolak eksternal berisiko langsung diterjemahkan menjadi tekanan harga domestik dan pelemahan daya beli masyarakat,” katanya.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *