"Dari Medan untuk Medan: Info yang Anda Butuhkan"

Mahfud Setuju RI Cabut dari BoP, Pertanyakan Keberanian Prabowo ke Iran Daripada Trump

Pandangan Mahfud MD Mengenai Rencana Prabowo Subianto sebagai Penengah Konflik Iran dan Israel

Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD, menyampaikan pendapatnya mengenai wacana Presiden Prabowo Subianto yang ingin berkunjung ke Teheran untuk menjadi penengah dalam konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS). Ia menilai bahwa langkah tersebut kurang proporsional, karena seharusnya negara-negara yang terlibat langsung dalam konflik, seperti AS dan Israel, lebih dulu diajak berbicara.

“Apakah itu proporsional dilakukan pada saat ini? Karena dalam situasi seperti ini, kenapa harus Iran yang didatangi lebih dulu? Kan Iran yang diserang. Kenapa tidak datang ke Trump dan Israel?” tanya Mahfud.

Ia menambahkan bahwa sebaiknya Negeri Paman Sam dan Israel diminta untuk menghentikan serangan, sementara Iran juga diharapkan berhenti menyerang. Dengan demikian, perdamaian dapat tercipta. Menurutnya, hal ini merupakan tugas konstitusi Indonesia.

Mahfud memahami bahwa wacana Prabowo sebagai mediator banyak diremehkan oleh publik. Alasannya adalah karena Prabowo dinilai kurang berani untuk berbicara langsung dengan Trump dan meminta serangan ke Iran dihentikan. Tidak hanya itu, Iran sendiri merasa tidak relevan untuk dibawa ke meja perdamaian.

“Kan kata orang-orang, bicara ke Trump saja tidak berani. Iran sendiri merasa tidak ada relevansinya. Mereka bilang ‘kami yang diserang, kenapa kami yang diminta untuk berdamai?’ Kan begitu kata Iran,” papar Mahfud.

Iran Islam, Soal Fiqih Bisa Berbeda-Beda

Lebih lanjut, Mahfud menjelaskan bahwa ada pandangan miring di Tanah Air terhadap Iran, meskipun Iran menjadi korban dari serangan militer Israel dan AS. Pandangan yang mencibir Iran rata-rata mengatakan warga Iran merupakan penganut Islam aliran Syiah dan bukan Sunni.

“Ini kan soal kemanusiaan, bukan soal mazhab atau agama. Kalau dikatakan ‘Iran gak usah dibela karena dia Syiah’. Lho, Trump sendiri apakah (Islam) Sunni? Netanyahu sendiri memang Islam?” kata Mahfud.

Menurut Mahfud, setiap negara memiliki fiqih yang berbeda-beda. Meskipun Iran memiliki perbedaan mazhab, Al-Qur’annya tetap sama. Grand Syekh Al Azhar, Kairo, Mesir, juga menyatakan bahwa Iran merupakan negara Islam. Oleh karena itu, ia menilai fitnah besar jika mengatakan Iran anti Sunni.

Berbahaya Negara Berdaulat Diserang Negara Lain

Mahfud menilai bahwa aksi AS dan Israel menyerang Iran yang merupakan negara berdaulat sangat berbahaya. Agresi militer semacam ini telah terjadi selama bertahun-tahun terhadap Palestina, yang merupakan masalah kemanusiaan.

Oleh sebab itu, Mahfud bersyukur bahwa hal serupa tidak menimpa Indonesia. Meskipun ada perbedaan pendapat, Indonesia masih cukup aman dan nyaman. Ia membayangkan bagaimana kondisi Indonesia jika mengalami nasib seperti Gaza.

“Kita bayangkan Indonesia seperti di Gaza. Ibu-ibu mau makan tidak ada, sedangkan suaminya sudah meninggal atau dikuburkan di mana. Kaki anaknya ada yang hilang dan ditinggalkan di rumah sakit, lalu rumah sakitnya pun dibom,” tutur dia.

Dalam pandangan Mahfud, Iran tidak pernah ikut melakukan serangan militer ke Gaza. Ia mengaku bingung mengapa serangan AS dan Israel dialamatkan ke Iran.

Mahfud Usul RI Hengkang dari Board of Peace

Dalam pandangan Mahfud, sebaiknya Indonesia menangguhkan keanggotaannya di Board of Peace pasca-serangan AS dan Israel ke Iran. Karena dua negara anggota itu malah menyerang negara berdaulat lain yakni Iran. Mahfud juga menyoroti bahwa meskipun dewan itu dibentuk untuk perdamaian di Palestina, tetapi Palestina tidak ikut dimasukkan ke dalam BoP.

“Seharusnya kalau sudah membentuk dewan perdamaian, gak boleh ada serangan. Sekarang Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Pak JK, hingga masyarakat meminta pemerintah menarik diri dari BoP,” ujar Mahfud.

Ia kemudian membandingkan di era kepemimpinan Sukarno, di mana sikapnya tegas dalam isu-isu internasional. Ia tegas memilih keluar dari PBB sebagai bentuk protes terhadap Malaysia yang diterima menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

“Ketika itu Beliau punya kedaulatan untuk mengambil sikap sendiri,” tutur dia.

Mahfud pun mengaku setuju agar Indonesia hengkang dari BoP. “Mari kembalikan penyelesaian masalah-masalah internasional ke PBB saja. Kan kita anggota PBB juga. Indonesia itu cukup disegani di PBB, buktinya sekarang dipercaya menjadi Presiden Dewan HAM PBB di Jenewa,” imbuhnya.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *